Foto Ilustrasi Parade 412 vs Aksi Damai 212/IST
Foto Ilustrasi Parade 412 vs Aksi Damai 212/IST

Oleh: Denny JA*

NUSANTARANEWS.CO – Akhir Febuari 2016, saya berjumpa dengan teman-teman yang mengelola LSI. Pak Denny, ujar mereka, mustahil LSI absen di pilkada DKI. Ini magnet semua pilkada. Kita selaku konsultan politik terbesar akan aneh jika absen di panggung politik pilkada terbesar.

Sudah dicoba semua saluran ke Ahok, tapi tak jalan. Kita agaknya terpaksa melawan Ahok lagi. Tapi Ahok sangat perkasa. Akan buruk untuk reputasi LSI jika kita kalah di Jakarta. Ini disorot semua pemain politik.

Mereka pun membuat usul.  Pak Denny harus turun gunung agar Ahok bisa dikalahkan. Ya, pak Denny, yang lain meneguhkan. Pak Denny harus ikhlas demi reputasi LSI untuk terlibat aktif lagi.

Ha? Jawab saya. Saya sudah menikmati masa pensiun saya sebagai konsultan, dan mulai menapak penjadi peminat puisi, aktivis dan penulis lagi. Ibarat buku, saya sudah meluncur ke Bab 2. Kok diminta balik ke Bab 1 lagi?

Saya teringat film cowboy legendaris di tahun 1952: High Noon. Saat itu Will Kane sang cowboy sudah menyiapkan diri pensiun, dan hidup damai beserta keluarga. Namun situasi memintanya untuk menjadi cowboy aktif kembali.

Saya bertanya dalam hati. Haruskah saya menjadi seperti Will Kane? Saya belum definitif merespon permintaan teman teman di LSI. Namun saya sudah mulai aktif membuat tulisan untuk membentuk opini.

Tanggal 1 April 2016, tulisan saya pertama soal pilkada Jakarta dipublikasi. Motif tulisan itu untuk membuka mata banyak pihak bahwa Ahok memang kuat, tapi bisa dikalahkan. Tapi saya masih setengah hati untuk aktif lagi. Sambil juga saya merenungkan apa lagi yang mau saya capai dengan niat mengalahkan Ahok? Siapa pula kandidat yang harus saya bantu?

Saya agak risih turun gunung mengalahkan Ahok jika alasannya hanya untuk reputasi LSI. Semata itu sebagai alasan, ia kurang memanggil. Ia kurang bisa membuat saya memberikan hati seluruh.

Harus untuk tujuan yang lebih besar, yang lebih terasa kepentingan publiknya. Itu saya syaratkan pada diri saya untuk akhirnya turun gunung melawan Ahok. Jika tak ada alasan sosial yang lebih besar, saya memilih tetap pensiun saja.

Semakin lama saya mendalami prilaku dan pernyataan publik Ahok, semakin saya teguh dan bulat hati. Selaku aktivis yang sejak lama ikut menghayati prinsip demokrasi dan hak asasi, saya banyak kaget dengan pernyataan publik Ahok. Ia misalnya mengatakan mereka yang demo itu sebaiknya disiram Canon berisi bensin hingga terbakar.

Atau ia bersedia membunuh 2000 orang demi melindungi 10 juta penduduk. Atau ketika para ibu menangis akibat rumahnya digusur, enteng saja ia berkomentar para ibu itu seperti main sinetron.

Ahokpun tidak risih berkata di depan TV: taik! taik! Atau seorang ibu ia maki di depan orang banyak: ibu maling! Terlebih lagi, Ahok mudah saja menggusur tak ikut prosedur hukum. Akibatnya ia beberapa kali dikalahkan di pengadilan.

Walau kinerjanya sebagai gubernur baik di banyak bidang, Ahok tidak mencontohkan pemimpim dengan pernyataan publik yang terjaga. Ia seorang manajer kota yang kuat. Tapi Ahok sangat tumpul kecerdasan emosionalnya, membuat pernyataan emosional tak perlu.

Itu bukan menggambarkan pemimpin yang tegas, tapi kasar, tak sensitif atau tak peduli dengan emosi massa. Bahkan cenderung arogan di mata orang banyak. Ini bukan tipe pemimpin yang saya ideakan buat ibu kota.

Baiklah saya  turun gunung. Saya putuskan sepenuh hati dengan semua resikonya bergerak mengalahkan Ahok kembali. Saya pernah mengalahkanya di Babel 2007. Kini saya ingin kalahkan lagi

Tekad saya lebih kuat lagi setelah  Ahok membuat blunder soal Al Maidah. Mungkin baginya, dan pendukungnya, itu bukan soal besar. Namun untuk Jakarta yang demokrasinya masih labil, hadirnya pemimpin yang tak peduli dengan emosi massa, bisa membuat bangunan demokrasi semakin labil. Saya pun menemukan alasan sosial mengapa Ahok berharga untuk dikalahkan.

***

Buku ini berisi 51 (lima puluh satu) tulisan saya soal pilkada Jakarta. Umumnya itu analisis hasil survei. Ada juga analisa berita. Juga ada puisi yang menggambarkan suasana batin pilkada saat itu. Anggap saja buku ini catatan harian konsultan politik. Tulisan paling awal tanggal 1 April 2016. Tulisan paling akhir di ujung bulan April 2017 ketika sudah pasti terpilih gubernur baru.

Dengan membaca buku ini secara kronologis, tergambar dinamika opini, harapan, kemarahan, kecemasan pemilih Jakarta yang direkam melalui sebelas kali survei.  Ditambah dua exit poll dan dua quick count melengkapi data.

Terekam pula batin penulis di momen itu melalui aneka puisi khusus soal pilkada. Ini merupakan kumpulan tulisan seorang konsultan politik yang intens memotret, menganalisa, dan ikut mempengaruhi hasil akhir pilkada. Panggungnya ibu kota Jakarta. Heboh peristiwa dalam pilkada itu tepat dikatakan.  Ini ibu semua pilkada, yang paling dramatik, yang paling menyita perhatian, yang paling mengkwatirkan, yang paling menguggah emosi, yang pernah terjadi di Indonesia.

Di akhir buku, saya membuat tiga serial meme. Itu sikap akhir saya soal pilkada Jakarta. Meme 3: Ahok-Djarot tidak kalah, tapi sedang diuji dan diberi hikmah. Meme 2: Anies-Sandi tidak menang, tapi ditinggikan tanggung jawabnya.  Meme 1: Mari Satukan Jakarta Kembali.

*Denny JA, Pemilik Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Konsultan Politik Indonesia.
Editor: Romandhon

Komentar