Massa aksi 212. Foto via @jituofficial
Massa aksi 212. Foto via @jituofficial

Oleh: Denny JA*

NUSANTARANEWS.CO – Di media online 13 April 2017, saya membaca komentar Ruhut Sitompul. Ujarnya, “Denny JA itu musuh bebuyutannya Ahok. Tak usah ditanggapi.” Saat itu Ruhut diminta komentar hasil survei LSI Denny JA menjelang pencoblosan putaran kedua, yang mengabarkan Ahok akan kalah. Lawannya, Anies-Sandi sudah mendapatkan dukungan di atas 51 persen, jauh dibandingkan Ahok di angka 42 persen.

Saya tersenyum membacanya dan bertanya dalam hati. Apa yang membuat Ruhut, dan banyak orang lain menganggap saya musuh bebuyutannya Ahok?

Di Vivanews 11 November 2016, saya juga membaca komentar Ahok sendiri. Ketika merespon hasil survei LSI, ia mengatakan “LSI Denny JA itu memang selalu melemahkan saya sejak di Bangka Belitung.”

Memang 10 tahun lalu, dalam pilkada 2007 di Bangka Belitung, saya berhadapan dengan Ahok yang menjadi calon gubernur Babel 2007. Saya membantu saingannya Eko Maulana.

Sebagaimana dalam pilkada DKI 2017, di daerahnya di Babel, Ahok juga sangat fenomenal. Ia diyakini akan menjadi gubernur terpilih. Tapi akhirnya ia dikalahkan Eko Maulana dengan prosentase sangat tipis.

Saya sendiri nyaris tak pernah berjumpa dan bicara empat mata dengan Ahok. Seingat saya hanya sekali saya pernah berpapasan dan saling menyapa waktu jumpa kebetulan menonton preview Film Hanung Bramantyo.

Namun di hati saya tak ada masalah personal dengannya. Ini hanya sebuah profesi saja. Kebetulan di Babel 2007 dan DKI 2017 saya membantu saingannya untuk mengalahkan Ahok. Sebagai profesional tentu saya mencari semua cara yang dibolehkan hukum nasional dan prinsip demokrasi mengalahkan Ahok. Sesimpel itu.

***

Mengapa saya memilih mengalahkan Ahok di Pilkada DKI 2017? Bukankah selaku aktivis Indonesia Tanpa Diskriminasi kemenangan Ahok adalah kemenangan Indonesia Tanpa Diskriminasi?

Ahok itu triple minoritas. Ia minoritas agama, minoritas etnik dan pendatang pula. Bukankah jika Ahok menang, dan di ibu kota pula, itu akan menjadi panggung besar menunjukkan tak ada masalah dengan minoritas-mayoritas?

Hal itu banyak ditanyakan pada saya. Kegiatan saya ikut mengalahkan Ahok mendatangkan bahkan putusnya silahturahmi dan perkawanan. Banyak sahabat dan kolega yang dulu bersama berjuang mempopulerkan Indonesia Tanpa Diskriminasi kini berjarak.

Beberapa WA grup yang saya ikut dibubarkan karena pro-kontra Ahok. Hubungan pertemanan di facebook dan twitter juga diputus. Bahkan silahturahmi dengan beberapa partner ideologis itu juga terhenti karenanya.

Saya sendiri sebenarnya sudah mengundurkan diri sebagai konsultan politik. Di LSI grup, saya sudah resmi mundur. Tak ada satu jabatan resmi pun yang saya pegang lagi di sana. Saya hanya sebagai pemilik saja.

Saat itu saya sudah meminta teman-teman LSI merelakan saya pensiun. Sambil bergurau saya katakan, sebaiknya para juara itu pensiun di puncak kejayaannya, bukan di era ketika ia sudah banyak dikalahkan.

Puncak kejayaan saya anggap ketika melakukan hatrick, tiga kali berturut-turut memenangkan pemilu presiden. Yaitu ketika LSI tercatat ikut memenangkan SBY (2004), SBY (2009) dan Jokowi (2014).

Berseloroh saya bercerita kepada kolega di LSI bahwa kita harus seperti Lionel Messi atau Christian Ronaldo. Jangan hanya mereka yang melakukan hatrick mencetak tiga goal dalam satu pertandingan. Kita juga harus mencetak hatrick dalam segala pemilu yaitu pemilu presiden.

Semua rekor puncak sudah saya capai. Rekor untuk survei paling akurat, quick count paling cepat dan akurat, publikasi paling heboh, dan paling banyak memenangkan klien, sudah saya raih.

Bahkan untuk kampanye sosial media saya sudah mendapatkan penghargaan internasional dari majalah berita terbesar dunia TIME Magazine. Juga penghargaan dari Twitter Inc internasional.

Saya merasa tak ada lagi tantangan di profesi itu. Ibarat pendaki, tujuh gunung tertinggi sudah ditaklukkan. Saatnya memberi panggung kepada generasi selanjutnya.

Secara resmi saya pensiun selesai Pilpres 2014. Waktu yang ada saya fokus pada kegiatan sastra, membuat film, kegiatan sosial Indonesia Tanpa Diskriminasi dan bisnis. Saya juga mulai menulis kembali aneka kolom. Itu dunia yang pernah sangat intens saya geluti dan kemudian saya tinggalkan.

Semua kegiatan LSI diambil alih yang muda. Saya hanya terlibat enam bulan sekali ketika diadakan Raker dan RUPS. Menjelang Pilkada Jakarta, karena sudah didelegasikan wewenang, masing-masing pimpinan bergerak secara bebas bertemu atau melobi calon klien.

Ketika jumpa dengan pimpinan baru LSI, mereka bercerita. Sudah ada dua kali pertemuan pihak LSI dengan Ahok. Ujar mereka, agaknya Ahok masih sulit untuk klik dengan LSI. Mengapa? Tanya saya. Mungkin kasus Pilkada Babel 2007, pak. Jawab mereka.

Secara tak sengaja saya juga jumpa dengan seorang konglomerat di pesta pernikahan. Ia bertanya ke saya: “you ada kasus apa dengan Ahok?” Saya rileks saja menjawab, saya tak ada kasus apapun dengan Ahok.

Konglomerat itu bercerita, saya sudah bilang ke Ahok, Anda sebaiknya dibantu Denny JA di pilkada DKI 2017. Anda jangan marah dengan Denny soal pilkada Babel itu. Anda justru harus terima kasih ke Denny. Gara-gara kalah di Babel, kan Anda sekarang jadi gubernur DKI.

Jika dulu anda jadi gubernur Babel, anda sekarang tidak menjadi gubernur DKI, ujar konglomerat itu becerita percakapannya dengan Ahok.  Saya dan konglomerat itu tertawa dengan logika out of the box.

Bersambung…..

*Denny JA, Pemilik Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Konsultan Politik Indonesia.
Editor: Romandhon

Komentar