Couple argument rex/Ilustrasi: SelArt / Nusantaranews / independent
Couple argument rex/Ilustrasi: SelArt / Nusantaranews / independent
Couple argument rex/Ilustrasi: SelArt / Nusantaranews / independent
Couple argument rex/Ilustrasi: SelArt / Nusantaranews / independent

NUSANTARANEWS.COMenentukan apakah teknologi “baik” atau “buruk”, sama halnya dengan menentukan “baik” atau “buruk”nya makanan. Artinya, sudah cukup jelas bahwa teknologi itu baik dalam beberapa hal dan di sisi yan lain juga memiliki keburukan. Tapi kita harus berhati-hati supaya tidak terlalu dalam memasuki dunia digital.

Teknologi menurut beberapa berpendapat, memiliki dampak positif terhadap hubungan terdekat kita. CEO Facebook Mark Zuckerberg mengklaim bahwa “ketika orang-orang yang terhubung, kita bisa melakukan hal-hal yang besar. Kami memiliki kesempatan untuk membawa orang-orang yang kita sayangi menjadi lebih dekat dengan kita. Itu benar-benar membuat perbedaan besar.”

Benarlah demikian. Akan tetapi kita tidak boleh terlalu cepat untuk menggeneralisasi. Teknologi juga dapat memiliki efek toksik pada hubungan intim, salah satunya adalah potensi Facebook sendiri memperburuk suasa romantis pasangan suami istri.

Fitur utama (daya tarik khusus) dari ketidakamanan teknologi tersebut adalah timbulnya rasa tidakpercaya pada loyalitas dan kesetiaan pasangan; ketakutan mendalam terhadap pasangan untuk meninggalkan kita, dan hiper-waspada. Itulah respon psikologis terhadap fakta bahwa, pada tingkat tertentu, paradoks hidup terkejam adalah bahwa ternyata orang yang kita cintailah yang paling bisa (dan sering) menyakiti kita.

Ketidaknyamanan tadi bisa menjadi sifat yang mengakar dalam diri seseorang walaupun hal itu bisa ditanggapi (fakta atau imajinasi belaka) dengan cara yang bervariasi supaya tidak menjadi bawaan. Hal tersebut sudah menjadi pendorong yang kuat di balik konflik dan ketidakharmonisan hubungan sebab orang dipaksa untuk mengatasinya dengan mencari tingkat kepastian yang tidak masuk akal, mengerahkan kontrol yang berlebihan, dan cenderung menghukum orang lain untuk kesalahan yang dirasakan.

Itulah hal sederhana yang menunjukkan bahwa teknologi seperti Facebook telah menyebabkan rekatnya situasi romantis pasangan suami istri. Sebelum media sosial hadir kehidupan orang-orang cukup aman. Namun hal ini penting untuk dieksplorasi lebih jauh.

Facebook – yang dimulai dengan membandingkan penampilan mahasiswa Harvard – telah memberi akses setiap mahasiswa pada beberapa fitur dari kehidupan sosial pasangan mereka. Hal-hal yang termasuk di dalam daftar “pertemanan” (mengangkat pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa dia berteman dengan dia?”, “Mengapa dia masih berhubungan dengan mantan suaminya?”); yang didokumentasikan dengan interaksi masyarakat seperti “teman-teman,” gambar, komentar, suka, dan posting, yang masing-masing dapat dengan mudah disurvei dan diteliti. Hal tersebut bisa berfungsi sebagai alat yang sangat baik bagi pikiran yang hiper-waspada. Hal ini telah dibuktikan dengan sebuah studi antropologi terbaru mengungkapkan bahwa beberapa anak muda memang telah mengalami hal seperti disebutkan di atas. (MRH/independepnt/theconversation)

Komentar