stop-radikalisme /Ilustrasi/Istimewa/Nusantaranews
stop-radikalisme /Ilustrasi/Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Pengamat Kebijakan Publik Bidang Sosial Masyarakat dari Universitas Indonesia (UI) Sri Handiman Supyansuri menegaskan bahwa langkah introspeksi religiusitas diri, diyakini mampu menghindari perilaku radikalis masyarakat.

“Kami menilai, dengan melakukan introspeksi religiusitas diri, maka tindakan bom bunuh diri yang kemarin terjadi di Kampung Melayu Jakarta, bisa dihindari,” ujar dia dalam siaran pers yang diterima redaksi, Jumat (26/5/2017).

Menurut dia, saat ini semakin banyak masyarakat yang sulit melakukan introspeksi terhadap religiusitas dirinya. Akibatnya, semakin banyak pula masyarakat yang rela dan berani terlibat dalam gerakan-gerakan radikal di Indonesia. Padahal, saat ini seluruh umat Muslim di seluruh dunia tengah mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa.

“Tapi justru anak muda pelaku bom bunuh diri itu, kok mau bertindak nekad seperti itu? Jadi sangat penting untuk melakukan introspeksi religiusitas diri,” imbuh Handiman.

Motivasi religiusitas

Senada dengan itu, Peneliti Etika dari President University, yang kini menempuh studi Doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Supeni Mapuasari mengatakan, menjelang Bulan Suci Ramadhan tahun ini, sangat penting bagi masyarakat untuk melakukan instropeksi religiusitas diri. Pasalnya, frekuensi seseorang beribadah, belum tentu mencerminkan religiusitas yang ada di dalam hatinya.

“Ini waktu yang tepat untuk menjalankan puasa sembari mengintrospeksi religiusitas diri. Di hari baik, bulan baik tahun ini,” kata Supeni.

Ia menjelaskan, bahwa dilihat dari unsur motivasi, terdapat dua tipe religiusitas, yaitu eksternal dan internal. Dan setiap orang memiliki kadar religiusitas eksternal dan internal-nya masing-masing.

Individu dengan kecenderungan religiusitas intrinsik dominan senantiasa menghidupkan agamanya dengan pemaknaan hubungan antara dirinya dan Sang Pencipta.

“Motivasi individu ini dalam beribadah adalah mencari ridha Sang Pencipta, sehingga, dia akan lebih terhindar dari sikap riya,“ papar Supeni.

Sebaliknya, individu yang memiliki kecenderungan religiusitas ekstrinsik dominan menjalankan ibadah agamanya karena didorong oleh motivasi sosial.

“Individu ini pergi ke tempat ibadah untuk menjaga hubungan pertemanan, malu jika tidak menampakkan diri, dan segudang motivasi sosial lainnya,” terangnya lagi.

Religiusitas pengambilan keputusan

Sementara itu, Hadi Mahmudah, Peneliti Etika Alumni Program Master of Science UGM mengatakan, pernyataan tentang motivasi religiusitas diri diperoleh dari hasil penelitian yang menemukan hubungan erat antara religiusitas eksternal dengan pengambilan keputusan relativis.

Menurut dia, individu yang memiliki skor religiusitas eksternal tinggi akan lebih condong mengambil keputusan yang relativis. Keputusan relativis kerap dianggap kurang beretika dan oportunis. Sebab, dasar baik buruknya tindakan bukan dari prinsip dasar agama/moralitas yang universal, tetapi lebih kepada kesepakatan sosial.

Temuan penelitian tersebut memberikan justifikasi bahwa orang yang tampak rajin beribadah belum tentu jujur, tidak korup, tidak ghibah, anti riya, dan bebas dari penyakit hati jenis lainnya. Karena itu, kata dia, menyambut Ramadhan yang penuh berkah ini, masyarakat hendaknya mulai instropeksi diri.

“Kecenderungan religiusitas mana yang ada dalam diri kita? Ekstrinsik atau instrinsik? Kemudian, pantaskah kita menilai orang lain hanya dari kebiasaan ibadah yang kasat mata? Semoga secuil pengetahuan ini menghindarkan diri dari ibadah yang riya’ yang sia-sia, serta memicu perbaikan diri di bulan suci,” pungkasnya. (ed)

Editor: Eriec Dieda

Komentar