Xi Jinping dan Donald Trump bersaing pada KTT Davos. Foto via rappler
Xi Jinping dan Donald Trump bersaing pada KTT Davos. Ilustrasi Foto via rappler

NUSANTARANEWS.CO -Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping sejak 6 April tengah berada di Florida. Ini adalah kali pertama keduanya bertemu semenjak dilantiknya Trump pada 20 Januari lalu.

Pertemuan Trump dan Xi cukup menyedot perhatian dunia. Menurut pengamat intelijen dan pertahanan, Susaningtyas Kertopati pertemuan antara Trump dan Xi apapun yang dibicarakan akan ada efek dominonya bukan saja dalam kerangka pertahanan dan keamanan kedua belah pihak tetapi juga fluktuasi bursa saham kedua negara itu.

“Di satu sisi Trump harus bertahan pada visi America First-nya tapi disisi lain Trump juga harus menjaga posisi dan kepentingan Amerika sebagai warga dunia di kawasan utamanya Laut Cina Selatan,” ujar Susaningtyas melalui pesan singkat, Jumat (7/4/2017).

Simak: Mencermati Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump di Florida

Sejak awal, Trump sudah sering melontarkan kritik terhadap Cina. Utamanya terkait masalah perdagangan. Gedung Putih bahkan tak segan menuding Cina adalah proteksionis sejati dalam urusan perdagangan dan ekonomi. Pasalnya, Cina memproteksi diri dari produk luar yang masuk, sementara Cina menginginkan produk mereka bebas masuk ke mana saja. Itulah salah satu alasan mengapa Cina hendak menguasai Jalur Sutra Maritim Abad 21 yang membentang hingga 60 negara dan terintegrasi.

Namun, AS tentu saja memiliki banyak senjata untuk melemahkan Cina yang ambisius. Cina juga disebut sudah tak sabar ingin menjadi negara pengatur dunia. Salah satu proxy Cina adalah Korea Utara. Tak salah kiranya Gedung Putih menilai rudal balistik Korut adalah test case bagi hubungan Cina-AS, khususnya di kawasan.

Baca: Xi Jinping Bertolak Ke Finlandia

“Tentu saja Korut akan jadi pembicaraan inti mengingat semakin agresifnya Korut dalam memacu kekuatan militer di kawasan yang tentu merupakan ancaman bagi AS,” sambung mbak Nuning.

“Yang jelas Trump pernah kritik Cina gagal kendalikan Korut dalam program nuklirnya,” kata dia.

Bagaimana pun Cina dan AS adalah dua negara yang terhitung memiliki kekuatan militer terbesar di dunia. Dan perang fisik memang harus tetap diperhitungkan.

Breaking News: Xi Jinping dan Donald Trump Adakan Pertemuan di Florida

“Dalam menjaga kedaulatan setiap negara harus waspada dan siap hadapi ATHG (ancaman, tantangan, hambatan, gangguan) negaranya. Jadi, tentu kemungkinan perang fisik tentu harus diperhitungkan. Kekuatan intelijen kedua negara besar itu juga punya pengaruh besar dalam mengantisipasi ATHG,” jelas mbak Nuning.

Penulis: Eriec Dieda

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar