Pengakuan Mengejutkan SIPRI Terkait Penjualan Senjata Cina

0
Polisi Keamanan Cina Pamerkan Meriam Api saat parade 70 tahun memperingan perang dunia II di Beijing. Foto via VOANEWS
Polisi Keamanan Cina Pamerkan Meriam Api saat parade 70 tahun memperingan perang dunia II di Beijing. Foto via VOANEWS

NUSANTARANEWS.CO – Akhir-akhir ini Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mengeluarkan hasil penelitian terbarunya terkait daftar negara penjual senjata (alutsista). Dari 100 perusahaan dunia yang memproduksi alutsista, SIPRI tak mencantumkan Cina ke dalam daftar negara penjual alat tempur terbanyak.

Padahal jika merujuk pada beberapa dasawarsa terakhir, Cina justru tampak begitu getol dalam membangun kekuatan militernya. Sebaliknya, SIPRI dalam penilitiannya tak mencantumkan Cina ke dalam daftar 100 negara penghasil senjata perang.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Anggaran Belanja Militer dan Pertahanan SIPRI, Aude Fleurant menjelaskan bahwa pihaknya sudah sejak lama mengamati perkembangan Cina. Dirinya mengaku kesulitan untuk memperoleh informasi, karena para konglomerasi senjata Cina enggan terbuka.

“Kami memonitor perkembangan di Cina sudah sejak beberapa tahun. Kesulitan terbesar yang kami hadapi adalah minimnya transparansi dalam laporan keuangan konglomerasi senjata Cina,” ujar Aude Fleurant dilansir dari laman Dw.com, Kamis (8/12/2016).

Daftar hasil penjualan sejata perusahaan terbesar di dunia. Foto via DW
Daftar hasil penjualan sejata perusahaan-perusahaan terbesar di dunia. Foto via DW

Lebih lanjut kata Fleurant, Cina tidak hanya menjual produk militer, melainkan juga berbagai kebutuhan bagi warga (sipil).

“Mereka tidak cuma menjual produk untuk militer, tetapi juga buat keperluan sipil. Tapi perusahaan-perusahaan itu tidak membeda-bedakan angka penjualannya antara sipil dan militer,” bebernya.

Karena sulitnya transparansi pihak Cina, SIPRI mengaku tidak tahu menahu kepada siapa dan negara mana produk-produk alutsista mereka diperjualbelikan.

“Kami tidak tahu kepada siapa mereka menjual dan harga produk yang mereka tawarkan untuk pemerintah sendiri. Kesulitan metodologis sedemikian besar sehingga angka yang kami temukan tidak bisa dibandingkan dengan angka lainya,” imbuh perempuan berdarah Kanada dan Francis tersebut.

Namun, alumini PhD in Political Science, Université du Québec à Montréal ini yakin andaikan Cina mau transparan, maka penjualan alutsista mereka tentu masuk ke dalam daftar 25 negara terbesar penghasil senjata perang di dunia.

“Kami meyakini sejumlah perusahaan Cina masuk dalam daftar 100 besar, bahkan mungkin dalam 25 besar. Tapi temuan kami tidak bisa dijadikan landasan untuk memasukkan Cina dalam daftar 100 besar,” tegasnya. (Adhon/Emka)

Komentar