Frans Magnis Suseno. Foto via islamlib
Frans Magnis Suseno. Foto via islamlib

NUSANTARANEWS.CO – Franz Graf von Magnis atau yang biasa disapa Frans Magnis Suseno seorang filsuf sekaligus pemikir kebudayaan Jawa asal Polandia menjelaskan pengalamannya pertama saat ke Indonesia. Tokoh yang pernah belajar filsafat di Jerman ini mengaku lama sekali dalam mempelajari bahasa Jawa hingga fasih.

“Saya datang ke Indonesia 1961. Saya belajar dulu cukup lama 13 bulan bahasa Jawa sampai cukup lancar. Kemudian bahasa Indonesia gampang,” ungkap Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Sebagai orang yang telah lama tinggal dan hidup di lingkungan orang Jawa, Frans Magnis mengaku bahwa secara gramatika berpikir orang Jawa itu berbeda dengan Bahasa Eropa. Itulah alasan mengapa dirinya kemudian menulis karya-karya seputar orang Jawa.

“Karena saya di Indonesia menjadi besar di dalam lingkungan Jawa hidup bersama orang Jawa hingga hari ini. Masuk akal saya mempelajari etika Jawa dan akhirnya menulis buku juga tentang Jawa dan etika Jawa,” terangnya.

“Dan tentu ada gunanya dari sudut bahasa karena gramatika cara berpikir orang Jawa dalam bahasa itu sangat berbeda dari bahasa-bahasa Eropa,” beber pria yang menginjakkan kaki pertama kali di Indonesia saat masih berusia 25 tahun itu.

Kaitannya dengan bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia, ia menjelaskan bahwa sesungguhnya tak jauh berbeda dengan bahasa Jawa berdasarkan struktur gramatikanya. Pun demikian dengan bahasa Indonesia yang bisa dikompromikan dengan berpikir menggunakan bahasa Inggris atau Jerman.

“Bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia strukturnya sebenarnya sama dengan bahasa Jawa, tetapi sudah dikompromikan. Sehingga orang masih bisa ngomong bahasa Indonesia dengan berpikir Inggris atau Jerman. Tapi bahasa Jawa itu tidak mungkin,” ujarnya.

“Nah dengan saya masuk bahasa Jawa, saya mengharapkan bisa keluar dari bahaya menuliskan ngomong bahasa Indonesia dengan berpikir bahasa Jerman,” tandas pria yang pernah belajar filsafat dan teologi di Yogyakarta ini. (Adhon)

Komentar