Selain makanan dan minuman, orang hidup membutuhkan ajaran kehidupan. Semar sedang mengajarkan kearifan lokal lewat tembang Macapat di Pendapa Tembi Rumah Budaya. (lukisan Herjaka HS 2012)/Foto: Dok. Tembi.net
Selain makanan dan minuman, orang hidup membutuhkan ajaran kehidupan. Semar sedang mengajarkan kearifan lokal lewat tembang Macapat di Pendapa Tembi Rumah Budaya. (lukisan Herjaka HS 2012)/Foto: Dok. Tembi.net
Selain makanan dan minuman, orang hidup membutuhkan ajaran kehidupan. Semar sedang mengajarkan kearifan lokal lewat tembang Macapat di Pendapa Tembi Rumah Budaya. (lukisan Herjaka HS 2012)/Foto: Dok. Tembi.net
Selain makanan dan minuman, orang hidup membutuhkan ajaran kehidupan.
Semar sedang mengajarkan kearifan lokal lewat tembang Macapat
di Pendapa Tembi Rumah Budaya. (lukisan Herjaka HS 2012)/Foto: Dok. Tembi.net

Puisi Selendang Sulaiman

Penembang Jagad Jawa
: Milad Rama IBS ke- 68

I
Setahun silam, hikmah-hikmah niat baik
Bergema. Seperti kawanan burung srigunting
Burung-burng jiwa – ringkih mengepak-ngepak
Di langit-langit tanah Jawa yag memutih
Pucat pasi

Suaramu: kalam nurani kota tua
Pengungkit pintu pagar kampung halaman
Terpatri las listrik teknologi – tergembok zaman anarki
Ideologi kaum propagandis;  perompak tanah warisan ini

Malam renta. Bulan lelah jadi cermin
Wajah hari. Sinar lelampu remang masa
Anak-anak cucu dari rahim wayang
Ramayana & Mahabarata yang dibiarkan
Terkatup di bilik pagar dunia.

Engkau datang. Menembang (sebelum terlambat)
Sebelum lagu-lagu pilu picisan merah jambu
Membisingkan pendengaran di liang berlumut
Ramah abadi raja-raja, resi, dan kawindra

Senantiasa aku merasa, seperti baru senja tadi
Kau gubah madah cinta jagad Jawa
Bagi sanak saudara Nusantara
Lalu kau baca penuh tembang
Diantara kami tanpa gendang

“Sahabat, aku datang karena cinta
Karena pesan yang tersembunyi di balik kata
Sunggu tak membuatku seperti buku tua,” tembangmu
Luruhkan keakuan yang agkuh di dada ini.

II
Semakin tebang suaramu, Rama
Bait-bait bening embun di lembah-lembah tujuh  gunung
Batin dan hati terseret ke lorong rembang jagad  Jawa
: kampung halam bernama semesta jiwa

Di sana, mata, telinga, hidung, dan bulu kudu
Bertemu berlaksa-laksa kuasa makna
Tuhan pemangku alam

Aku pun datang sebagai peziarah
Ke tanah Jawa – tanah Mataram
Yang kau kultuskan di lubuk puisi wayang
Sebab marga satwa tak pernah berdebat
Saling silang sengketa bumi, katamu

III
Dari candi ke candi kau papah langkah
Kaki-kaki luka masa kini, Rama
Kepada sungai-sungai mengular
Kau tempa diri ini dengan riak alir dan
Kesenyapan paripurna batu-batu

Maka bersinarlah mata batin oleh nyala kata-kata
Seperti pesan luhurmu pada segenap
Peziarah yang dipercompang-caming jiwanya
Oleh tangan-tangan zaman yang memisau

Penuh khidmad laut selatan dan gunung merapi
Mengaji isyarat kehidupan
Karenanya kuaji lagi pesan luhurmu :

“Aku tak akan memainkan gelap terang
Dalam puisi dan membuat tercengang”

Merinding bulu-bulu di sekujur
Rumput-rumput menuding ke langit
Persis tangan-tangan anak semua bangsa
Menadah mu’jizat Tuhan

IV
Tentaskanlah Rama, tuntaskan tembangmu
Lorong-lorong jagat Jawa ; Kampung halaman anak bangsa
Akan sirna tanpa ajian dan tembang Warisan zaman emas
Ramayana & Mahabrata

Supaya kelak segala yang menyatu
Dengan tulang sumsummu, lebur pula ke tubuhku

Yogyakarta, Maret 2016

Selendang Sulaiman, penikmat kopi dan puisi. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa seperti; Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Indopos, Suara karya, Minggu Pagi, Riau Pos, Merapi, Padang Ekspres, Lampung Post, Radar Surabaya, Majalah Sagang, Majalah Sarbi, Jurnal Sastra Santarang dll. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), dlsb.

Komentar