Opini

Pemuda Masa Kini; “Aku Selfie Maka Aku Ada”

ilustrasi millennials. foto ist
ilustrasi millennials. Foto ist

NUSANTARANEWS.CO – Siapa sangka media sosial (medsos) seperti twitter, instagram, path, facebook, Line dan masih banyak lagi, ternyata mampu merubah karakter mental seseorang, khususnya generasi muda sekarang. Dengan eksis melakukan selfie yang kemudian dishare ke medsos membuat mereka merasa ‘ada’.

Anggapan semcam itu, tanpa disadari telah mengurat akar pada mental para pemuda dewasa ini. Sebuah anggapan agar bisa disebut kekinian.

Memburu status kekinian menjadikan mereka tampak abai pada kehidupan yang sesungguhnya. Mereka tercerabut dari spirit kepemudaan.

Sebaliknya, jika para pemilik akun medsos yang sepi foto selfi dan pergunjingan, akan dianggap ‘tidak ada’ (tidak kekinian). Sebuah kondisi yang penuh paradoksal.

Being (ada) bagi pemuda adalah penting. Tampil perfect di khalayak menjadi modal utama yang merupakan target dari pandangan orang lain. Jean Paul Sartre dalam buku Filsafat Eksistensialsme (2011) karya A. Setyo Wibowo menjelaskan, “tatapan orang lain mengurangi kemungkinan-kemungkinan untuk menentukan dirinya sendiri dan mendorong manusia untuk mereduksi dirinya menjadi yang lain dan melepaskan kebebasan jati diri yang otentik.”

Sejak media sosial menjadi alat bantu komunikasi umat manusia, maka tatapan orang lain menjadi begitu penting. Mereka memanfaatkan ruang publik ini sebagai kebebasan. Mengutip Setyo Wibowo dengan suatu refleksi Sartrian, manusia “ada untuk dirinya sendiri” lewat kesadaran transenden selalu bisa menidak, menghindar, dan menolak atas semua tatapan yang ada.”

Pemuda benar-benar bebas atas apa yang dilakukan. Hal tersebut tidak pula membuat penulis menganggap para pemuda lain yang eksis di dunia maya dengan bebas memanfaatkan kontigensi dan melakukan tindakan riil adalah tidak memiliki nilai apalagi nilai kepemudaan. Kebebasan atas being hanya digunakan untuk tampil sebagai objek tatapan tanpa “nilai”.

Media Sosial Sebagai Ruang Kebebasan

Menggunakan perspektif Nietszche karya Roy Jakson, “menggunakan hasrat adalah suatu bentuk kehendak untuk berkuasa.” Foto selfie hasil cepretan adalah bentuk aktualisasi diri yang penuh rasa iba/simpati dan mempengaruhi orang lain untuk mencari tau lebih dalam keadaan utuh yang terjadi terhadap dirinya saat itu.

Melanjutkan hal tentang kontigensi (kebebasan) di ruang publik, penulis menilai kalau kebebasan individu tersebut sangat rapuh dan rentan goyah. Era milenium saat ini tak ada ruang yang tidak diikat dengan aturan. Kita akrab benar dengan UU ITE yang telah banyak menjerat pemuda karena dianggap melakukan pelecehan terhadap orang lain. Inilah ruang publik yang rentan memicu berbagai masalah bagi siapapun, dimanapun, dan kapanpun.

Bagi pemuda desa, butuh perhatian yang jelas dari kawan pemuda lainnya yang memiliki  pemikiran maju. Pasalnya bagi para pemuda desa bisa berfoto selfie di starbuks misalnya, sudah menjadi kebanggan tersediri. Ini realitas adalah realitas yang tumpeng tindih.

Sebaliknya, kebun kakao, sawah padi, dan kebun sayur tampak sepi dari serbuan pict hunter. Tempat seperti ini menjadi absurd dan sulit dimaknai oleh pemuda masa kini. Lahan-lahan tersebut menjadi asing bagi mereka.

Abdul Salman, Alumnus Universitas Negeri Makassar, anggota FRONT Mahasiswa Nasional FMN kini  aktif di kelompok Tani Desa Maspul.

Komentar

To Top