Saya Pemuda, Saya Pancasila/Foto Istimewa/Nusantaranews
Saya Pemuda, Saya Pancasila/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Indonesia adalah sebuah bangsa yang plural. Laiknya pohon, Indonesia adalah sebuah pohon besar yang tumbuh dan berkembang di atas akar serabut. Akar serabut itu serupa realitas yang membentuk Indonesia, yakni kebinekaan atau pluralitas. Bangsa ini lahir dan tumbuh besar dari kemajemukan, yaitu agama, etnis, budaya, bahasa, dan lain sebagainya.

Belajar dari sejarah, Pancasila sebagai  ideologi Negara Indonesia melalui proses yang tidak sederhana, banyak gagasan muncul dari para pendiri bangsa – khususnya yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Namun demikian, berbagai gagasan yang berbeda-beda tersebut berakhir tatkala Pancasila disepakati sebagai dasar dan ideologi Negara, proses yang sudah semestinya menjadi teladan bagi bangsa Indonesia.

Dalam perjalanannya, mulai dari era Presiden Soekarno sampai saat ini, masih ada kelompok-kelompok di Indonesia yang kontra terhadap Pancasila. Bahkan, tak sedikit yang menyuarakan bahwa Pancasila tak sejalan dengan spirit bangsa Indonesia.

Karena itu, menjadi penting untuk kembali mengampanyekan Pancasila sebagai falsafah bangsa yang sudah sah dan final. Hari Kelahiran Pancasila yang kemudian dijadikan momentum oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama Organisasi Kepemudaan, Kemahasiswaan dan Kepelajaran untuk menyatakan sikap kesetiaannya terhadap Pancasila, NKRI dan UUD 1945 menjadi penting.

Artinya, deklarasi kesetiaan yang diselenggarakan di Monumen Sakti Pancasila, Lubang Buaya (31 Mei 2017) dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila (1 Juni 2017) perlu dimaknai lebih dari sekadar seremonial semata. Deklarasi tersebut harus mampu memasuki wilayah tindakan dan sikap para pemuda, bukan berhenti di ranah menghafal, sakralitas dan cara berfikir saja.

Dalam memaknai Pancasila, pemuda harus tampil sebagai teladan yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui tindakan. Aktualiasi nilai-nilai Pancasila oleh pemuda menjadi penting di tengah kondisi bangsa hari ini. Dimana, gesekan kerap kali dimunculkan oleh kelompok-kelompok yang tidak menerima keberadaan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Munculnya radikalisme berbasis keagamaan menjadi bukti nyata bahwa masih ada kelompok yang tidak mengamini Pancasila sebagai perekat bangsa. Gesekan-gesekan semacam itu – meski tidak sedikit yang berangkat dari sentimen politik – tentu membuka mata bahwa rasa kebersamaan kita sebagai satu bangsa perlahan mengecil.

Tentunya, pemuda harus mampu memperoleh dan mencapai tujuan bahwa sila-sila dalam Pancasila adalah kesatuan yang mampu menciptakan kesejahteraan. Di tangan pemuda, Pancasila harus menjadi disiplin sikap dalam tujuannya berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, membumikan Pancasila berarti mendeklarasikan diri bahwa pemuda siap terlibat langsung dalam upaya Negara untuk menciptakan kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera.

Harapannya jelas, keterlibatan tersebut mampu memperteguh, memperkuat, serta berkontribusi terhadap penciptaan keindonesiaan-kebangsaan di tengah lingkaran kebinekaan. Meminjam istilahnya Imam Nahrawi, Pancasila sebagai jalan tengah, sebagai konsensus, sebagai rumah bersama, dari keberagaman yang dianugerahkan Tuhan kepada Indonesia. Kita harus merawat dan menjaganya dengan sepenuh hati. Karena, begitu Pancasila roboh maka rumah bersama itu pun akan runtuh.

Bagaimanapun juga, Pancasila menghendaki sebuah tujuan untuk menjadikan masyarakat Indonesia berwatak religius, tetapi sekaligus lapang dada, berkomitmen kerakyatan, menjaga persatuan kebangsaan, serta mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karenanya pula, spirit ini harus menjadi alasan pemuda untuk memberi kontribusi nyata kepada Indonesia.

Saya Pemuda, Saya Pancasialis!

*Miftahul Aziz, penulis adalah Ketua Umum Sekretariat Nasional Nahdliyyin Nusantara (SETNAS NAHNU)

Komentar