Pekerja asal Tiongkok di Bayah, Lebak, Banten/Foto Nusantaranews via CNN
Pekerja asal Tiongkok di Bayah, Lebak, Banten/Foto Nusantaranews via CNN
Pekerja asal Tiongkok di Bayah, Lebak, Banten/Foto Nusantaranews via CNN
Pekerja asal Tiongkok di Bayah, Lebak, Banten/Foto Nusantaranews via CNN

NUSANTARANEWS.CO – Keputusan pemerintah membuka kran investasi dari Cina menyebabknya buruh Cina (Tiongkok) menyerbu Indonesia. Bahkan ada kalangan yang menyebutnya Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Cina di Indonesia jumlahnya sudah mencapai 1 juta jiwa. Jumlah tersebut sepadan dengan jumlah penduduk DKI Jakarta.

Hadirnya TKA dari Tiongkok ke Indonesia bisa memberi dampak negatif maupun positif. Kehadiran mereka menjadi positif bila mereka memiliki skill atau pengetahun yang mana dapat ditransformasikan pada para pekerja Indonesia. Namun jiga meraka tidak memiliki skill dan pengetahuan, kehadiran mereka akan memberikan dampak negatif yaitu berkurangnya lapangan kerja bagi warga Indonesia. Jika hal itu terjadi, maka imigrasi dari Indonesia ke luar negeri akan meningkat.

Terlepas dari dampak positif maupun negatif tersebut, senyatanya akan lebih baik jika dilakukan pencegahan sebelum terlambat. Pencegahan tenaga kerja asing, khususnya dari Tiongkok dapat dilakukan dengan tegas terhadap TKA ilegal. Caranya tentu saja dengan ditingkatkannya penguatan sistem dan penegakan hukum. Lebih dari itu, pemerintah sebenarnya dapat memaksimalkan potensi sumber daya manusia dalam negeri. Sehingga dengan sendirinya tidak perlu menerima TKA apabila lapangan kerja yang ada telah terisi oleh pekerja pribumi.

Ibarat ‘nasi sudah jadi bubur’, maka yang perlu dilakukan pemerintah adalah pengendalian TKA di Indonesia. Persis seperti yang diharapkan oleh Politikus Partai Demokrat Marzuki Alie.

“Utamakan tenaga kerja dalam negeri, terutama apa yang kita bisa lakukan,” ujar Marzuki kepada Nusantaranews.co, di Mampang, Jakarta, Kamis (21/7).

Terkait dengan jumlah TKA asal Tiongkok yang disebut mencapai 10 juta, Mantan Ketua DPR RI ini sama sekali tidak percaya dengan jumlah sebesar itu. “Saya nggak yakin, itu sebanyak penduduk DKI lho,” katanya.

Sebab TKA asal Tiongkok lebih mudah masuk ke Indonesia pasca dibukanya kran investasi oleh pemerintah, Marzuki menilai jumlah 10 juta bisa saja terjadi. Namun membutuhkan rentang waktu tertentu untuk mencapainya. Sebab, tambahnya, mereka datang ke Indonesia secara bertahap. Ada yang pulang kembali ke negaranya setelah bekerja di Indonesia sekian tahun, ada pula yang menetap.

“Makanya pengendalian itu penting,” tandasnya. (Achmad/Red-02)

Komentar