Connect
To Top

Pemerintah Dinilai Tak Serius Benahi Kualitas SDM Petani

NUSANTARANEWS.CO – Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Hidayah Bali, Hadiman Marzuki menilai, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) tak serius membenahi kualitas dan pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) petani di Indonesia.

Menurut Hadiman, ujung tombak pembinaan pelatihan bagi petani, salah satunya adalah P4S yang saat ini berjumlah hampir mencapai 1000-an di Indonesia.

“Para pendiri dan pengurus P4S, umumnya adalah petani merdeka. Artinya, mereka sukses dulu sebagai petani baru mendirikan P4S,” katanya di Bali, Selasa (20/9).

Praktik bertani secara langsung, lanjutnya, saat ini dilakukan oleh jaringan P4S dengan kelompok binaan sehingga bisa dikatakan, mereka jadi berdaya ada di P4S bukan di balai pemerintah.

Faktanya, tambah Hadiman, para P4S di Indonesia saat ini sedang menunjukkan pertumbuhan. “Para P4S utama saat ini omzet bisnis pertanian dan hasil usaha taninya sudah miliaran per tahun,” paparnya.

Dia memberikan contoh, omzet tiga P4S unggulan nasional di Bali, yakni Somnya Pertiwi sudah menembus Rp 5 miliar, Mupu Jakarta Rp 2,5 miliar dan Hidayah Bali Rp 1,5 miliar.

Jika dari 1000-an P4S kelas madya rata-rata omzet usaha pertaniannya saja sekitar Rp500 juta, maka tinggal dikalikan jumlahnya. “Ini sangat luar biasa potensinya untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” imbuhnya.

Namun, tegasnya, faktanya pemerintah belum melirik dan memberdayakan secara maksimal potensi itu.

“Buktinya, anggaran pemerintah untuk membantu operasional kepada P4S tak sampai 5% dari biaya operasional kami,” ungkapnya.

Senada dengan Hadiman, Ketua Seksi Pelatihan P4S Somnya Pertiwi, Wayan Mulyadi mengaku prihatin dengan kondisi itu.

“Padahal fakta empiris, melalui pelatihan langsung dan binaan di lapangan dengan P4S, kualitas dan kemampuan petani jadi lebih baik,” jelas Wayan.

Wayan memberikan contoh, melalui P4S, hasil tanam petani padi binaan varietas terbawah saja menjadi delapan ton per ha atau meningkat dari kondisi sebelumnya 5-6 ton.

“Untuk varietas unggul Hybrida 05 dengan pola tanam jajar legowo dari 5-6 ton menjadi 13 ton per ha,” ungkap.

Sebelumnya, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementan, Widi Hardjono mengaku sejak 2006 sampai sekarang hanya membantu 71 P4S dan tahun ini hanya 12 P4S.

“Nilai bantuan hanya sekitar Rp 200 juta per P4S yang bersumber dari nonAPBN yakni ‘Counterpart Fund Second Kennedy Round (CF-SKR)’,” kata Widi.

CF-SKR merupakan dana hibah dari negara Jepang yang diberikan sebagai hibah murni (grant) bukan pinjaman lunak (soft loan) ke negara Indonesia melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). (Yudi/ant)

Komentar