Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sri-Edi Swasono/Foto via fimadani
Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sri-Edi Swasono/Foto via fimadani
Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sri-Edi Swasono/Foto via fimadani
Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sri-Edi Swasono/Foto via fimadani

NUSANTARANEWS.CO – Disadari atau tidak, pasca reformasi bergulir telah terjadi denasionalisasi terhadap tumpah darah Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk dalam hal pembangunan.

“Denasionalisasi terjadi karena arah pikiran masyarakat telah bermacam-macam. Dan denasionalisasi tidak terjadi dengan sendirinya melainkan ada faktor penyebab dan kehendak dari kelompok tertentu,” kata Guru Besar UI, Sri Edi Swasono, Kamis (22/9/2016).

Meski demikian, Edi mengatakan bahwa nasionalisme tidak akan pernah udang. Nasionalisme tetap menjadi identitas setiap anak bangsa. Nasionalisme adalah kebanggaan nasional, apapun “isme” yang disandangnya. Sebab, nasionalisme sebagai ideologi mengambil bentuknya dalam berbagai sikap dan perilaku.

“Nasionalisme yang luntur akan melunturkan identitas dan memperlemah kebanggaan nasional,” cetusnya.

Mengutip pernyataan Bung Karno pada 1930-an silam, Edi menirukan, “Imperialisme berbuahkan negeri-negeri mandat, daerah pengaruh…yang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang lain, membuahkan negeri jajahan…. syarat yang amat penting untuk pembaikan kembali semua susunan pergaulan hidup Indonesia itu ialah kemerdekaan nasional.”

Prof Edi menyoroti pembangunan di masa sekarang yang menurutnya sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila. “Pembangunan sekarang di Indonesia bukan pembangunan Indonesia. Pembangunan sekarang menggusur orang miskin, bukan malah menggusur kemiskinan,” keluhnya.

Ia menyebutkan bahwa pola-pola pembangunan yang terjadi sudah jauh dari esensinya. Penyebabnya, kata dia, karena kegagalan pendidikan. “Dan Indonesia masih bermental inlander,” tukasnya.

Untuk itu, Prof Edi mengingatkan bahwa kebangsaan atau nasionalisme adalah kesepakatan kita bersama yang sejak kita memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan dalam menghadapi globalisasi, inti dari nasionalisme tidak berubah. Artinya, kepentingan nasional adalah utama dan diutamakan tanpa mengabaikan kepentingan bersama global, mengemban persatuan bangsa-bangsa, menjadi kebersamaan hidup di dunia, menjaga kelestarian bumi tempat hidup bersama, menjaga kelestarian bumi tempat hidup bersama dengan the brotherhood of men sebagai ruh mondial.

“Bila saat ini kita merasakan tentang melunturnya nasionalisme sebagaimana saya singgung pada pendahuluan. Saat ini kita telah melihat banyak contoh bahwa banyak di antara anak-anak muda kita telah menjadi lawan kita, dalam arti mereka mengagumi dan gandrung dengan yang serba asing, mereka lupa kepentingan nasional khususnya kecintaan pada tanah air, kepada produk-produk dalam negeri. Lebih khusus lagi, anak-anak muda kita mencoreng-moreng kota bahkan neigbourhood mereka sendiri sebagai ekspresi graffiti penuh kekonyolan, cermin hilangnya kecintaan  pada Ibu Pertiwi,” papar Prof Edi. (Sego/Red-02)

Komentar