Kreatifitas

Pelacur Negeri (Bagian 9: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand

Lukisan Ratu Theodora karya Jean Joseph Benjamin Constant/Foto: dok. Istimewa
Lukisan Ratu Theodora karya Jean Joseph Benjamin Constant/Foto: dok. Istimewa

Iya, malam ini aku lelah, lelah…!

Sementara besok masih lebih berarti dari sebelumnya. Entah, bagaimana aku harus membahasakan perasaanku yang telah tertahan sejak nama sucimu terngiang di hati sejak dulu. Sampaikan terima kasihku pada Tuhan, jika kau bertemu dengan-Nya malam ini, yang menjawab kegelisahanku atas namamu, melampiaskan rinduku lewat bahasa Tuhan. Jumailah, maafkan aku tentang semua ini, aku semakin merasa bersalah jika tak mengungkapkan hal ini; karena aku terlanjur mencintaimu. Jumailah, ajarkan aku tentang ikhlas untuk menerima kehendak-Nya.

 

“Saat ini, aku duduk rapi di atas sajadah. Bertafakkur, mengadukan namamu pada Tuhan. Sayup-sayup kumandang azan tadi, sebagai saksi panjatan doa-doa atas namamu dan dirimu untuk kumiliki apa yang kumau,” kukabari dirinya dalam doa menghamba.

Namun, tak ada kabar tentang Jumailah. Setiap hari, hampir selalu aku tunggu sampai senja mulai menyingsing dalam deram gelap.

“Jumailah, aku tidak mungkin terus-terusan seperti ini, membohongi diri untuk kutahan cintaku, bahwa aku sangat mencintaimu, menyayangimu sejak dulu mengenalmu wakti di bangku sekolah,” khayalku lagi.

Aku diam kemudian, seakan tidak mau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku terlalu girang, aku ternyata terlalu mengedepankan amarah cinta yang juga belum tentu keluar dari lubuk hatinya yang sebenarnya.

 

# # #

 

Malam itu, aku masih saja belum terbangun dari tidurku pulas, seperti tak ingin kembali ke dunia aktifitas hari-hari. Aku tenggelam dalam dunia yang kucipta dari diriku sendiri, seperti bukan aku yang bertindak, tapi sesuatu yang ada dalam diriku, kembali ke masa lalu dan mencoba menciptakan masa depan. Bermain-main. Tak ada yang perlu ditakuti. Semua hanya teka-teki.

Dalam tudurku itu, kemudian kulihat di sebuah ruang, seorang bernama Hasan menciptakan remang di depan kamarnya. Hasan duduk dengan putus asa, bermain-main perasaan, mengingat-ngingat kembali peristiwa yang telah menimpanya dan orang yang telah menganiaya dirinya.

Padahal ruangan itu sudah tak mapan lagi, semua alat-alat dan perabot-perabot yang ada di ruangan itu, berantakan di sana-sini. Dan gelap pun dalam ruangan itu akan menyelimuti bagi siapa saja yang ingin mau mati, bagi orang yang merasa dirinya hidup tapi tak  hidup dan mati tapi tak mati.

“Allah…. Ya… Allah… sakit Allah… sakit… sakit…!” suara Hasan lantang, lalu lirih, terus lirih. Kata-kata itu terus diulang-ulang, sampai akhirnya tak mampu mengeluarkan kata-kata itu lagi.

Tak ada teman, tak ada kawan, tak ada sahabat, tak ada apa-apa, dan tak ada siapa-siapa. Dia sendiri menanggung luka asmara.

Dia menangis dalam ruangan itu. Kaca-kaca yang tertempel di jendela, tak menampakkan wajahnya, menjadi buram penglihatannya, karena air matanya yang tumpah dan menggerutu setiap waktu. Dia seakan mencabik-cabik dada yang dirasakan sakit. Duduk di atas kursi tunggal, berkaki tiga, namun hilang apa-apa.

Sukma bertebaran dalam ruangan itu, mencari tubuh yang normal dan bersih dari noda. Oh, Hasan menjungkir balikkan tubuhnya, mengeluarkan amarah yang belum terbuang. Namun, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal disesali hidup yang telah lalu, lalu diingkari apa yang menjadi kebaikannya.

“Kau kenapa?” Tanyaku, saat mendapati Hasan tergeletak di lantai dalam ruangan itu, seperti orang tidak punya nyawa. Kuangkat dia ke atas ranjang. Apa pun kulakukan, yang penting Hasan bisa sembuh dan sadar kembali.

Setelah beberapa jam kemudian, Hasan sudah terlihat sadar, dan sudah agak sedikit normal perkataannya.  “Ya… Allah…! Aku di mana?” Katanya sambil tangannya memegangi kepalanya.

“Di kamar, San,” kataku yang masih sibuk memegangi tubuhnya.

“Sudah baikan?”

Tidak lama kemudian, teman-temannya datang menghampiri. Mendengar Hasan yang sudah tak normal lagi, tapi lumayan sudah bisa diatasi. Hasan adalah orang yang tak pernah bergengsi, sekali pun dilecehkan, tapi kali ini dia berbeda, dia seperti bukan Hasan yang sebenarnya.

Hasan menceritakan semua yang terjadi pada dirinya pada kami. Suasana menjadi tegang, suasana kaget, menjadi tangis dalam batin masing-masing dalam kamar itu ketika sudah mendengar semuanya dari Hasan.

Namun, seketika Hasan kembali gelisah; rasa gelisah yang terus menghantui pikirannya. Setelah itu dia selalu murung di tempat-tempat sepi, bahkan kadang meski di tempat keramaian, dia terlihat termenung. Tak ada kebanggaan dalam dirinya. Tak ada semangat, yang ada hanya kebencian dan identitas yang sudah hilang.

Tak ada cerita.

Ia pergi, entah ke mana.

Hasan menghilang untuk melupakan segala.

Dia kecewa dan sangat kecewa, karena perempuan yang selama ini dia cintai ternyata telah menghianatinya dan mengambil segala yang dia punya, termasuk diketahui perempuan itu membunuh orang tua perempuannya, mertuanya sendiri.

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 9: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

Yan Zavin Aundjand

Yan Zavin Aundjand

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa(Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email:[email protected] atau [email protected]

Komentar

To Top