Lukisan Ratu Theodora karya Jean Joseph Benjamin Constant/Foto: dok. Istimewa
Lukisan Ratu Theodora karya Jean Joseph Benjamin Constant/Foto: dok. Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Di desa yang jauh dari ramainya Ibu Kota, kurasakan ketenangan, kesejukan. Tak ada kebisingan. Suatu ketika, desa tempat kami tinggal begitu ramai dengan pendatang-pendatang baru dari luar daerah Indramayu. Menurut penuturan beberapa warga, pendatang-pendatang baru itu kebanyakan dari Bogor dan Jakarta. Aku pun heran, kenapa tiba-tiba banyak orang yang datang ke desa ini, kenapa pada minggalkan Ibu Kota.

Jumailah yang mendengar ada banyak orang pendatang baru ke desa itu hanya tersenyum, “nggak apa-apa. Mungkin mereka udah sumpek juga di Jakarta,” tuturnya.

“Iya juga, sih, pada mau bertani paling.”

Jumailah, perempuan yang aku cintai dengan sangat. Duduk selonjoran di teras rumah dengan beralaskan karpet. Jumailah menyandarkan kepalanya di dadaku. Gemericik air di kali samping rumah itu terdengar merdu mewarnai percakapan kami. Tubuh seakan berayun mengikuti bunyi gemericiknya. Suara angin berdesir pelan dan santai menyapa tubuh. Tangan saling berpegangan.

Kami saling tersenyum. Jumailah meraba-raba pipi kanan dan kiriku, lalu mengelus-ngelus hidungku yang katanya mancung.

“Aku nggak nyangka kita bisa bersama seperti ini,” kataku.

“Emmm…! Karena takdir,” ucap Jumailah.

“Takdir?”

“Karena jodoh.”

“Di, kamu harus berjanji, apa pun yang terjadi, kita nggak boleh berpisah.”

“Kenapa, Mila?”

“Nggak apa-apa. Aku cuma takut kamu tiba-tiba membenciku, nggak mencintaiku lagi. Aku takut kehilangan kamu,” terang Jumailah.

Aku duduk. Kupeluk dia hangat.

Air mata terasa menetes tiba-tiba, seperti ada kesedihan. Siapa gerangan menyeret air mataku. Aku peluk dia semakin erat. Aku harus merelakan hidupku dengannya, bukan untuk sementara waktu. Aku tak ingin menghancurkan harapan Jumailah. Aku tak ingin meninggalkan dia setelah aku puas mengambil segalanya. Aku ingin tetap bersamanya tanpa harus meninggalkan istriku yang pertama dan anakku. Entah sampai kapan semua ini akan terus bertahan. Istri dan anakku, mereka menungguku kembali.

Kulihat air di kali samping rumah tempat aku tinggal, jernih sekali. Suara gemericik airnya pelan. Kami beranjak mendekati kali sambil melepas senyum.

“Aku pengin punya rumah di dekat sini,” kataku sambil menunju ke arah kali.

“Nggak perlu,” sanggah Jumailah.

“Kenapa?” tanyaku seperti tak ingin kembali ke Jakarta.

“Aku pengin di tempat lain aja. Lagian kita belum benar-benar siap hidup di daerah, masih ada banyak kerjaan di Jakarta.”

Matahri mulai bersinar terang pagi itu. Duduk menatap jalan. Jumailah belum beranjak dari kali, aku kembali duduk di teras rumah. Dia seperti sangat menikmati sekali air yang mengalir di sana. Indah. Kulihat dia senyum sendiri menatap air. Aku semakin tak ingin jauh darinya.

Desir angin begitu damai aku rasakan. Kami kembali masuk ke dalam rumah Rumah ini yang kelak akan kami rindukan saat-saat kami sudah kembali ke Jakarta.

“Rasanya aku tak ingin pergi. Aku suka tempat ini,” kataku.

“Karena kita udah lama di kota. Lama kelamaan bosan juga di sini,” terang Jumailah.

“Besok kita sudah mau kembali ke Jakarta.”

“Udah beres semua, Sayang. Mobil kita udah dicuci sama Pak Tatang. Besok kita tinggal berangkat.

“Barang-barang yang mau dibawa sudah beres?”

“Udah. Udah beres semua.”

Aku kembali mengambil duduk di pojok teras rumah, duduk di kursi sambil menatap air mengalir di kali itu. Rasanya tak ingin aku pergi dari tempat ini. Jakarta. Iya, aku sudah tahu kehidupan Jakarta. Kota yang bising, panas, dan penuh dengan lika-liku hidup. Sebenarnya, hatiku sudah kerasan tinggal di tempat ini, seperti tak ingin tempat yang lain. Tempat ini cukup indah untuk melanjutkan sisa perjalanan hidupku bersama Jumailah. Apa boleh buat, keadaan memaksa kami untuk segera kembali ke Jakarta.

***

“Saya berharap, kalian bisa sering-sering ke sini,” kata kiai Asep Syamsudin kepada kami.

Kami duduk bersila di depannya di sebuah Mushalla, tempat kami dulu melaksanakan akad pernihan. Minuman teh hangat disuguhkan dan buah apel, salak, nanas, dan jeruk.

“Insya Allah. Kami tetap meluangkan waktu untuk ke sini lagi, Kiai,” ucapku.

“Untuk masalah kerjaan yang di sini, bapak dam ibu nggak usah khawatir. Saya yang bertanggungjawab. Kalau ada apa-apa, saya pasti hubungi bapak.”

“Terima kasih banyak, Kiai.”

Kiai Asep Syamsudin mengangguk.

“Jadi, kalian kapan balik ke Jakarta?”

“Besok pagi berangkat, Kiai,” jawab Jumailah.

Tiba waktu ashar, Kiai Asep Syamsudin mengajak kami melaksanakan salat berjamaah di Musallanya itu. Mau tidak mau, kami berdua ikut salat berjamaah meski sudah sering tidak salat sebelumnya. Doa-doa dalam salat saja bisa dibilang sudah banyak lupa. Ah, benar-benar bukan Islam, salat jadi ikut-ikutan. Baru kali itu kami melaksanakan salat setelah sekian lama kami meninggalkannya. Tiba-tiba kami jadi taat agama dadakan ada di rumah Kiai Asep Syamsudin pas waktu salat.

Rasanya, jujur aku rasakan bahwa hati ini setelah melaksanakan salat sangat damai dan tentram kurasakan seketika. Aku jadi merasa berdosa besar terhadap Tuhan yang selama ini aku lupakan. KTP-ku Islam. Tapi aku tidak tahu banyak tentang Islam. Aku hanya tahu Islam, bahwa di dalam Islam itu ada kewajiban untuk melaksanakan salat sebanyak lima waktu dalam sehari semalam. Sungguh bodohnya.

Dulu, orang tuaku sempat mau memasukkan aku ke pesantren, tapi aku tidak mau. Aku lebih masuk pendidikan di sekolah umum yang sama sekali tidak ada mata pelajaran agamanya sebagaimana layaknya pelajaran agama yang ada di pesantren. Di sekolah itu, aku bertemu dengan Jumailah, sahabat baikku, cinta pertamaku, sekaligus istri keduaku. Awalnya, aku tidak menyangka bahwa akhirnya bisa menjalani hidup dengan Jumailah. Sungguh hal ini jauh dari dugaanku sebelumnya, sebelum aku bertemu istri pertamaku, Herlina. Entah hikmah apa di balik semua ini, aku tidak tahu. Aku anggap bahwa kejadian ini adalah kehendak Tuhan, kupasrahkan segala kepada Tuhan, dan aku menyepakatinya.

Setelah selesai melaksanakan salat, rasanya aku ingin kembali bertaubat. Aku merasakan getaran yang lain. Ternyata salat itu benar-benar menentramkan hati seseorang, meski aku sudah lupa bacaan-bacaannya. Sungguh ini kejadian luar biasa yang pernah aku alami sebelumnya. Dulu, aku pernah melaksanakan salat waktu masih SMP, sedangkan waktu SMA tidak terlalu sering, karena remajaku sangat nakal. Keseharianku hanya untuk bermain dengan teman-teman sekolah. Hanya kesenangan-kesenangan duniawi saja, dan Tuhan aku lupakan.

Wajar, aku tidak dididik di dalam pendidikan agama. Sejak usia remajaku, aku sudah suka mabuk, main-main hal-hal yang kebanyakan orang tidak suka dan membencinya, urak-urakan di jalan. Saat ini aku merasakan sentuhan lain, apakah ini yang dinamakan hidayah Tuhan kata orang-orang yang dulu pernah bilang padaku? Atau mungkin karena aku dekat dengan seorang kiai yang bisa dibilang punya kedekatan spritual dengan Tuhan. Mungkin saja itu terjadi.

Jumailah hanya senyum-senyum sendiri melihatku ikut salat berjamaah. Wah, ini pasti godaan, gumamku. Aku tidak menghiraukan senyumnya. Orang yang tidak pernah melaksanakan salat, kemudian melaksanakan salat, memang kelihatan dirasakan bagi yang lain yang juga sama tidak salat. Tapi, itulah cobaan yang harus dihadapinya. Cobaan iman yang cukup berat bagi orang yang baru saja taat terhadap agamanya, atau hanya sekedar ikut-ikutan saja.

Hati kecilku berharap, Tuhan akan mengampuni kesalahan dan ketidak sengajaanku melupakan-Nya. Kebodohanku yang membuat aku melanggar aturan-aturan-Nya. Aku yakin, kelak akan ada masanya juga bagi orang-orang seperti aku ini. Tuhan Maha Tahu apa yang aku lakukan, semoga Dia mengampuni dosa-dosaku.

“Kamu lucu,” ujar Jumailah

“Kamu juga. Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Beda aja.”

“Apanya yang beda, Mila?”

“Nggak biasanya. Tobat, ya.”

“Kita sebagai tamu itu harus sopan, harus menghormati tuan rumah. Jangan sampai mereka kecewa dan berpikir yang bukan-bukan. Kamu juga lucu pakai mukena.”

“Bukan punyaku. Punya istri kiai.”

Kami sampai rumah. Membuka pintu dan menyalakan lampu. Aku mengambil duduk di kursi ruang tamu. Jumailah sibuk membuka bajunya sambil masuk ke kamar. Lampu kamar mati. Aku mengambil rokokku, lalu menyulutnya dengan damai. Kutarik nafas dalam-dalam. Kubuang beban lewat asap rokok itu bermain-main di wajahku. Ah, aku masih mengingat salatku yang tadi di rumah kiai Asep Syamsudin, tersenyum mengenangnya.

Malam ini adalah malam terakhir kami tinggal di Indramayu. Bunyi gemericik air di samping rumah tak henti-hentinya memberikan tembang-tembang keindahan dan kenangan. Aku akan menghabiskan malam terakhirku di desa ini sambil menikmati keindahan di sekitar rumah dan bunyi gemericik air yang begitu indah.

Malam sudh tiba, kulihat Jumailah sudah rebah di kasur, aku pergi ke dapur membikin secangkir kopi, rasanya tidak lengkap kalau tidak ada kopi. Kubikin sendiri tanpa membangunkan Jumailah, biarkan dia lelap dengan mimpi-mimpinya. Dia mungkin punya cara lain mengahabiskan malam terakhirnya di rumah ini. Selesai membikin kopi aku duduk kembali di tempat semula di kursi teras rumah.

“Belum mau tidur…?” Tanya Jumailah tiba-tiba.

“Iya. Sebentar lagi. Kamu udah bangun?”

“Besok itu pagi kita berangkat, lo.”

“Iya.”

“Ya udah, tidur cepat. Temanin aku tidur.”

Iya, jadi suami memang harus banyak mengalah. Perempuan memang maunya selalu ditemani dan dimanja. Tidur harus ditemani. Ke mana-mana harus ditemani. Ke kamar mandi harus ditemani. Semuanya serba ditemani.

Di malam itu, aku sentuh dia seperti malam-malam yang lain. Kami menghabisi malam terakhir di desa itu dengan keinginan masing-masing. Kami akan meninggalkan kenangan juga di rumah tempat kami tinggal, sebagaimana rumah itu meningalkan kenangan di hati kami.

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 6: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

Yan Zavin Aundjand
Yan Zavin Aundjand

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa (Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar