Lukisan Pablo Picasso
Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Tak bisa kumafhumkan segala yang ada di hati, gejolak jiwa selalu menjanjikan kenikmatan dan kepuasan nafsunya. Berpikir adalah jalan yang melintang luas dalam kereta sang waktu. Rumput-rumput di pinggir jalan ikut bernyanyi, senantiasa bergembira melihat orang berjalan bergandengan dengan kekasihnya. Diriku tak tahu harus bagaimana, Jumailah tak pernah memberikan kesempatan untukku pergi walau hanya sementara. Aku sudah jauh dari istri dan anakku.

Keromantisan terus mencoba menggugat keadaanku yang terjebak dalam ketidak berdayaan dan keadaan yang mencoba memaksaku seperti ini. Tak ada jalan, kecuali aku harus pergi tanpa kuberitahu kepergianku, tapi itu tidak mungkin, entah kenapa keadaan selalu tidak bisa membuat kakiku untuk melangkah pergi. Terlebih aku tidak ingin tiba-tiba menghilang begitu saja darinya, aku tak ingin membuat dia kehilangan.

Aku tidak tahu, seberapa besar hati ini memperoleh kebahagiaan itu. Kebingungan selalu mencengkram, sehingga membuatku tak bisa berbuat apa-apa—otak jadi tumpul seketika. Telinga seakan tuli, mulut seakan bisu terkunci dengan ketidakberdayaanku. Benar apa kata orang, bila ada orang kekasih tak lagi ada dalam pandangan hati tapi ada di hati, membuatnya tragis, gila, impian harapan dalam hidupnya menjadi sirna. Hanya harapan kebingungan dan kebimbangan yang menemani sepanjang hidupanya. Apakah aku termasuk di dalamnya? Aku tidak tahu.

Harapan dalam mimpi membawa malam yang menjanjikan berjuta-juta impian. Namun, aku tidak pernah menangis sampai berlinangan air mata seperti saat ini di saat-saat sendiri menatap angan jauh ke depan. Hanya mungkin keterbukaanku yang sudah berkeluarga kepada Jumailah yang dapat memberikan jalan untuk sementara melihat keadaan istri dan anakku, meski itu mungkin membuat Jumailah kaget, atau mungkin bisa lebih dari sekedar kaget.

Awalnya, aku hanya iseng, hanya sekedar luapan rindu seorang teman kepada teman lama yang lama tak jumpa. Apa mungkin Jumailah menyangka aku seperti dulu yang jatuh hati padanya secara diam-diam? Kalau pun rasa itu sampai saat ini masih tersimpan dalam hati. Iya, semacam hanya mencoba mendatangi diri dengan membawa harapan cinta untuk kupersembahkan kepadanya, tapi bukan cinta sebagai seorang kekasih dan menyerahkan seluruhnya, jiwa dan ragaku ini, hingga akhirnya harus melepas seluruhnya seperti yang sudah terjadi.

Di Jakarta aku tidak bekerja di kantoran, pun aku tidak berdagang, aku hanya menemani dan membantu Jumailah bekerja sebagai lawyer di Konsultan Hukumnya. Jumailah jarang ke kantor, dia lebih banyak di luar menemui klien dan orang-orang yang kutahu kenalannya di pemerintahan, bahkan tak jarang kutemui mereka itu adalah petinggi-petinggi negeri ini. Aku sendiri sering diperankan sebagai partnernya saat bertemu dengan kliennya atau bahkan dengan siapa saja.

Dari sini aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang hukum untuk ikut berperan membantu menegakkan hukum. Meski kuliahku dulu bukan jursan hukum, tapi dengan bergabungnya saya di Konsultan Hukum bersama Jumailah dan rekan-rekannya, dengan pengalaman ini aku bisa, aku tahu bagaimana proses dalam hukum dan peradilan yang ada di negeri ini.

Memang tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya tentang bagaimana penegakan hukum di negeri ini. Hukum di negeri ini belum memberikan perlindungan hukum. Hukum hanya sebatas hukum yang hanya tajam ke bawah tumpul ke atas. Perlakuan ini benar-benar mengusik rasa ketidakadilan kepada masyarakat secara umum. Selama aku berproses di Konsultan Hukum, aku tidak pernah melihat ada upaya mengurangi tindak kejahatan, khususnya tindak kejahatan korupsi, sebab kejahatan baik kejahatan berbentuk kriminal, maling, korupsi, pemerkosaan, sepertinya sudah diorganisir sedemikian rupa, bahwa ada skenario di balik semua tindak kejahatan yang terjadi di negeri ini.

Hukum secara Undang-Undang sudah jelas mengatur segala bentuk tindak kejahatan apa pun yang terjadi yang itu merugikan masyarakat dan negara, namun penegakan hukum yang terjadai ternyata hanya kesewenang-wenangan dan dipermainkan oleh oknum-oknum penegak hukum dan pemerintah sendiri dan cenderung berpihak kepada yang kuat, tentu bagi mereka yang beruang. Rendahnya efektifitas dan kepastian penegakan hukum ini harus menjadi agenda besar ke dapan baik pemerintah mau pun pelaku-pelaku hukum di negeri demi tercapainya rasa keadilan bagi masyarakat.

Aku menyadari dan mengakui bahwa selama membantu Jumailah sebagai seorang lawyer tidak ada upaya bagaimana harus membela yang benar. Uang selalu berbicara kebenaran. Uang selalu berbicara kekuasaan dan kemenangan. Inilah yang aku alami dan aku lihat saat ini dan bagaimana proses itu terjadi.

Benar apa yang aku duga sebelumnya, Jumailah yang profesinya sebagai lawyer di Ibu Kota ini ternyata banyak kenal dengan petinggi-petinggi pemerintah, bahkan petinggi-petinggi negara lain, karena dia sering banyak membantu proses hukum yang menjerat warga negara asing keterkaitan dengan penyelundupan narkoba di Indonesia.

Aku cukup heran dan sekaligus takjub dengan Jumailah yang banyak dikenal di kalangan petinggi negara, selain orangnya yang cantik, kariernya sebagai lawyer terbilang sukses. Dan tak jarang dia selalu memanfaatkan senyumnya yang memikat siapa saja yang melihatnya, tubuhnya yang semampai, kulit sawo matang, dan cara berbicaranya yang sopan. Beberapa petinggi negara pun banyak yang takluk dengannya, aku sendiri membiarkan itu terjadi apa adanya. Bagaimana pun itu adalah cara dia untuk bisa mendapatkan klien dan cara dia dalam melayani klien-kliennya.

Karier Jumailah sebagai lawyer memang terbilang cukup muda, namun dia mampu menyedot perhatian banyak pihak dalam mensukseskan kliennya, bahkan seberat apa pun hukum yang menjerat kliennya pasti terselesaikan dengan sempurna sesuai dengan yang diinginkan sang klien.

Bersama Jumailah, aku sering mendapatkan Jumailah tidak hanya menggeluti profesinya sebagai lawyer, tapi ada banyak hal yang dilakukan Jumailah di luar profesinya sebagai lawyer, seperti dia melakukan lobi-lobi atau negosiasi ke pemerintah dan perusahaan untuk menggolkan sebuah proyek. Lobbying yang dilakukan Jumailah aku lihat selalu tertutup dan dilakukan secara diam-diam. Dia selalu melakukannya dengan baik. Tak ada satu pun yang lolos dari target lobinya.

Suatu ketika, aku iseng bertanya kepada Jumailah, “hampir semua yang kamu lakukan selama ini selalu lolos, selalu berhasil. Apa karena tidak ada lawan atau orang lain yang berusaha selain kita?”

Jumailah tersenyum. “Negara ini nggak seperti yang kita lihat,” jawabnya.

“Maksud kamu?”

“Aku melakukannya dengan kemampuan yang aku punya. Mereka nggak mungkin menolak tawaranku.”

“Ya… karena aku pengacara. Mereka lebih percaya aja kalau aku ikut membantunya.”

“Kan banyak juga pengacara yang lain yang juga sama melakukan itu.”

“Ah, kamu. Aku kan perempuan. Perempuan itu lebih pintar ngelobi.”

“Oh… gitu.”

“Iyalah… aku kan cantik,” ucapnya sambil matanya menatapku. “Entar juga kamu tahu sendiri.”

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 4: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

Yan Zavin Aundjand
Yan Zavin Aundjand

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa (Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar

SHARE