Berita Utama

Pelacur Negeri (Bagian 3: V) – Novelet Yan Zavin Aundjand

Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id
Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Lekas setelah beberapa menit aku duduk, ada suara pintu terbuka, dua aparat keamanan menghampiriku.

“Suryadi?” Tanya salah satu aparat berseragam masuk ke apartementku.
Aku mengangguk.

“Apa yang kamu lakukan itu salah,” ucapnya.

“Apa yang salah dari saya?” Tanyaku meski aku sendiri tidak tahu apa dia maksud. Aku jawab saja seadanya sesuai kata yang ada dalam pikiranku pertama, tanpa berpikir panjang.

“Kamu sudah makan?” Tanya aparat yang satunya lagi.

“Belum,” jawabku. Ternyata aku masih lapar.

“Sebentar lagi ada pelayan yang mengantarkan makanan buat kamu.”

“Terima kasih.”

“Aku lihat, kamu salah satu pahlawan di antara korban itu yang masih hidup,” kata aparat berseragam itu lagi.

“Aku tidak berbuat lebih dari sekedar membantu mereka yang luka dan kelaparan, Pak.”

“Beruntung kamu selamat.”

“Saya hanya berusaha menyelamatkan diri sekuat tenaga, Pak. Tidak lebih.”

“Apa yang kamu tahu tentang peristiwa ini?”

“Tidak banyak. Hanya tahu bahwa kami dibantai. Bagaimana dengan yang lain di sana, Pak?”

“Keadaan sudah aman.”

Aku mengangguk.

Bel pintu berbunyi.

Salah satu dari aparat berseragam itu tiba-tiba berdiri mendekati pintu. Matanya mengecek dari kaca pintu, dilihatnya dengan serba berhati-hati. Lekas pintu itu dibuka. Pelayan. Iya, pelayan mengantarkan makanan untukku. Pelayan dipersilahkan masuk.

“Kami mau keluar dulu. Silahkan dilanjut makanannya,” ucap aparat sambil bergagas keluar pintu, pun si pelayan itu juga keluar tanpa ragu.

“Terima kasih, Pak.”

“Permisi.”

Aku mengangguk.

Pintu ditutup kembali.

Hidangan cukup menggiurkan rasa laparku yang sangat. Dengan senang hati aku melahap makanan itu tanpa ragu.

“Tit tit tit, tit tit tit,” bunyi sesuatu di bawah meja. Kaget. Jantung berdetak kencang. Pikiran kacau. Aku tak menyangka tiba-tiba ada bom di bawah meja. Aku mencoba berlari ke arah pintu, tapi pintu terkunci. Aku berteriak minta tolong, tapi tak ada satu pun orang yang mendengarnya. Mau melompat dari arah jendela, di balik jendela di lapisi pagar besi. Aku tidak punya harapan hidup. Iya, detik-detik jantung kematianku.

Kugedor-gedor pintu tanpa henti. Kutendang. Tapi juga tak terbuka. Kuambil bom itu, kubuka jendela, kubuang bom itu dari arah lubang pagar besi jendela. Aku belum siap mati. Kubuang saja, kujatuhkan bom itu dari lantai 18 ke arah jalan raya dekat pintu masuk loby apartement. Aku tidak memikirkan akibatnya kalau sampai bom itu meledak di bawah sana, apa yang akan terjadi padaku, apa yang terjadi pada orang-orang di bawah sana. Aku pasrah, yang penting aku bisa hidup. Jantungku berhenti berdetak. Kurasakan goncangan gedung apartemen kencang, seperti terjadi gempa. Suara letusan bom itu kencang sekali. Tak banyak memakan korban, separuh tempat di depan loby unit itu hamcur. Teriakan orang-orang di dalam apartement tiba-tiba riuh. Aku diam saja, duduk termenung.

Ah, empat polisi membuka pintu mendatangiku tiba-tiba. Aku yang sadari tadi bulum beranjak ke mana-mana di depan jendela, langsung diringkus dan tanganku diborgol. Mereka menyeretku keluar. Menendang-nendang pahaku berjalan.

“Pak, ini ada apa?”

“Aah… Banyak bicara.” Lagi-lagi mereka menendangku. Lalu menginjak tengkukku.

“Apa salahku?”

Mereka terus memukulku.

“Ikut saja ke kontor,” balsanya sambil menyeret badanku layaknya barang.

Oh, begitu kejam mereka mengirim orang hanya untuk ingin membunuhku. Aku tahu bahwa mereka itu sekongkol. Tak ada satu pun yang tahu aku membuang bom. Kunci pintu apartementku dipegang oleh mereka, aku tak punya kesempatan untuk keluar unit. Mereka benar-benar kejam sekali terhadapku. Apa salahku? Apa dosaku pada mereka?

Tak ada proses hukum di kantor polisi, tak introgasi, tak ada apa-apa. Aku dibiarkan begitu saja tergeletak di balik bagar besi setelah mereka lelah menyiksaku. Aku di tempatkan di sebuah penjara yang berbeda dari biasanya, jauh dari pantauan. Tubuhku disiksa dengan tidak manusiawi. Kepalaku dicas dengan alat listrik, seringkali itu terjadi. Aku tak habis-habis dipukulinya. Aku jadi tak ingat apa-apa.

Aku merasakan bahwa penyiksaan ini membuatku lupa akan segalanya yang terekam dalam memori otakku. Pemerintah tak lagi percaya terhadap rakyatnya yang membuat negara. Kami ditindas. Kami tidak bisa berbuat sesuai dengan yang kami mau. Mereka menginginkan kami mati, dan negara ini segera ditempati oleh orang-orang asing yang punya kepentingan di negeri ini, atau negara hanya sebatas tempat bagi mereka untuk berkunjung. Ah, tidak. Negara ini dibangun atas hati dan pribadi yang suci. Tangis mengalir darah kami, menjunjung tinggi hak asasi kami. Rela mati dan berkorban demi anak dan masa depan Negeri ini.

“Dia itu teroris,” kata penjaga pintu penjera, tangannya menunjuk ke arahku.

“Bom bunuh Bandara itu?” Tanya si penjaga yang lain.

“Iya. Bandara sama yang di apartement.”

“Kelihatannya bukan teroris.”

“Kelihatannya. Tapi hatinya, jangan macam-macam. Kalau sampai dia dibiarkan, bisa jadi Negara ini hancur. Terus kita mau tinggal di mana?”

“Oh…! Tampangnya memang begitu. Yang aku tahu, teroris itu punya jenggot yang panjang, berkumis, celana separuh betis, baju seperti orang arab begitu. Tapi ini tidak. Dia polos. Dan tidak ada ciri-ciri atau simbol yang menunjukkan bahwa dia ini teroris.”

“Itu teroris kelas tinggi. Dia rela melepas semua simbolnya demi kepentingan misi yang dia bawa, sampai benar-benar tercapai misi itu.”

“O…! Begitu, ya…?”

“Untung kepolisian segera menangkapnya. Kalau tidak, bisa kita bayangkan apartement itu hancurnya seperti apa. Bisa dibayangkan, berapa ribu orang yang ada di dalam apartement itu.”

Oh, begitulah kerjaan para aparat keamanan negara ini, begitulah kerjaan pemerintah. Peristiwa demi peristiwa, kejadian demi kejadian selalu dibuatnya sendiri, selalu menduga-duga. Padahal, merekalah teroris itu, merekalah yang selalu membuat teror di masyarakat, merekalah yang selalu membuat rakyat tidak tenang—merampas hak-hak rakyat, merampas hak hidup rakyat. Bukankah seandainya meski aku benar seorang teroris, bukankah seorang teroris pun kalau dia tidak melakukan perlawanan tidak boleh dilakukan tindakan eksesife atau tindakan berlebihan.

Kadang, masyarakat dan bahkan seorang sekali pun menganggap bahwa bom bunuh diri itu adalah bentuk representasi dari ajaran agama Islam. Apakah ada bom bunuh diri selama ini yang mengatasnamakan Islam? Masyarakat bahkan aparat sendiri yang membuatnya begitu, menyeret-nyeret kejadian pada pada ranah Islam. Islam bukan agama teroris. Dan aparatlah yang selalu memaksa bahkan menduga-duga pelaku sebagai teroris kelompok agama garis keras. Bukankah sebagai aparat keamanan negara sudah dilengkapi dengan telinga, mata dan rasa, tapi masih saja selalu menduga-duga, dan rakyat tidak pernah diberikan kepastian.

Tidak ada yang datang untuk menemuiku di dalam penjara. Keluargaku tak tahu, atau mungkin mereka sudah mati dibantai oleh mereka juga. Jam akan terus berlalu. Hidup di penjara hanya menyia-nyiakan waktu terbuang. Ah, kenapa aparat-aparat itu bersekongkol dengan makhluk berekor, sang dajal dunia. Aku mendengar semua kelanjutan kedua penjaga penjara itu bercerita, aku sok tak mengerti saja di balik pagar besi menempelkan telinga. Mereka mengira aku sudah hilang ingatan, tapi tidak, Tuhan masih menjagaku. Aku mendengar dari penuturan mereka bahwa korban pembantaian makhluk berekor itu tak ada yang selamat. Tapi aparat keamanan yang berjaga-jaga di lokasi setempat selamat. Wartawan juga mati terbunuh. Wartawan yang lain tak ada yang berani untuk pergi ke sana. Mereka dibiarkan begitu saja. Dan aku harus menghabiskan hidup ini di penjara. Sungguh kejamlah mereka.

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 3: IV) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

Yan Zavin Aundjand

Yan Zavin Aundjand

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa (Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar

To Top