Kreatifitas

Pelacur Negeri (Bagian 10: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand

Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id
Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id

NUSANTARANEWS.CO – “Tok tok, tok tok,” suara ketuk pintu. Kubuka pintu pelan. Elisa, dia ke kamarku.

“Di, kebawah dulu, yuk!” pinta Elisa.

“Mau ngapain?”

“Duduk duduk aja dulu di bawah. Masih jam segini,” ucapnya sambil melihat jam di tangan kirinya.

Aku kembali turun ke bawah, kembali duduk di resto hotel sambil ngopi dengan Elisa. Berdua, hanya berdua. Handoko dan Ihsanudin di kamarnya.

“Pertemuan mereka belum selesai, ya?” Kata Elisa memulai obrolan.

“Sama Menteri, ya lama.”

Kulihat suasan di hotel semakin banyak dipenuhi pengurus-pengurus partai, ada yang masih baru datang, ada yang sudah duduk-duduk sambil ngopi, bahkan ada yang sudah beranjak menuju ke kamar hotel yang sudah dipesannya. Aku dan Elisa menatap mereka yang berlalu lalang sesekali sambil bercanda seputar pekerjaan.

“Entar aku pulang aja, deh, ya.”

“Kenapa mau pulang. Yang lain di sini semua.”

“Nggak enak sendirian di kamar. Mending pulang aja. Sama aja, kan. Di sini tidur, di apartement juga tidur.”

“Iya. Tapi, kan, di sini rame-rame. Di apartement kamu juga sendirian. Yang lain, kan, di sini.”

Pertemuan sudah selesai. Kulihat Jumailah sudah keluar bersama salah seorang menteri negara berbincang-bincang santai di lobi hotel. Sesekali tersenyum kulihat ia menatap si menteri negara. Jumailah dan menteri itu berjalan menuju life.

“Ibu Jumailah kayaknya nginep di sini juga, Di. Tuh, udah naik dia sama menteri.”

“Iya. Paling dia ngantar menetri ke atas. Masak menteri mau nginap di sini juga.”

“Pastinya di sini juga, sebentar. Bisa jadi juga ikut pulang besok.”

“Oh ya. Apa masih ada rapat lagi di atas?”

“Udah nggaklah. Kan udah selesai.”

“Itu Jumailah masih ikut ke atas juga.”

“Bisa jadi, masih ada rapat lagi berdua di atas. Ibu Jumailah kan kuasa hukumnya.”

“O… udah, yuk. Naik,” ajakku ke Elisa.

“Aku sendirian. Gimana, dong…?”

“Udah besar, masih aja takut.”

“Bukan gitu, Di. Mana enak sendirian di situ. Aku di kamar kamu aja, ya. Belum mau tidur, kan…?”

“Belum.”

“Kan biar ada teman ngobrol…”

“Iya. Ayuk.”

Di dalam kamar, di hotel itu. Elisa terus mengajakku ngobrol apa saja sesekali kulihat Handphoneku barangkali ada kabar dari Jumailah. Apakah dia sudah selesai atau tidak. Apakah dia sudah turun atau belum. Lama kuperhatikan, Handphoneku juga tak kunjung berbunyi.

“Jumailah udah selesai belum, ya…?” Tanyaku ke Elisa.

“Selesai apa…?”

“Selesai rapat.”

“Kalau udah selesai dia pasti ngubungin kamulah. Udah, dia pasti nginap di sini juga, kok.”

“Sampai jam segini kok belum ngabarin aku, ya…” jam sudah sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

“Mana aku tahu. Pastinya udah selesai jam segini, Di. Dia pasti udah tidur.”

“Tapi nggak ngabarin aku dulu, ya. Kan bisa tidur di sini juga.”

“Ya dimaklumilah. Namanya juga dia lagi kerja. Ikut menteri, kali, keluar. Menteri juga nggak mungkin tidur di hotel ini.”

“Rapat apaan sampai jam segini…”

“Namanya rapat sama menetri, ya lama.”

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Barangkali dia Jumailah, pikirku. Aku mau beranjak membuka pintu, tapi Elisa sudah membukanya duluan. Kulihat ada dua seorang perempuan berok mini, matanya begitu memanja saat perempuan-perempuan itu tersenyum.

“Iya, ada apa, Mbak?” Tanya Elisa.

“Maaf. Ini benar kamar 311?” Tanya perempuan berbadan tinggi langsing.

“Benar. Cari siapa, Mbak?”

“Bapak Herunya, ada?

“Nggak ada, Mbak. Di sini nggak ada bapak Heru.”

“O… ya, udah. Makasih, ya…” ucapnya lalu mereka pergi.

“Di, kamu mau?”

“Mau apa…?”

“Cewek yang tadi itu. Kalau mau biar aku panggil lagi.”

“Mereka cari pak Heru.”

“Bukan. Nggak mungkin. Itu cuma akal-akalan mereka aja, karena tahu kalau di kamar ini udah ada ceweknya.”

“Maksud kamu?”

“Itu cewek bokingan tahu… khusus buat ngelayanin tamu-tamu pengurus partai yang bermalam di sini.”

“Kok kamu tahu?”

“Tahulah. Udah biasa begitu… kamu kayak nggak tahu aja. Yang di sini ini udah ada jatahnya masing-masing.”

“Hiburan, ya.”

“Tuh, ada telpon,” kata Elisa, Handphoneku berbunyi. Telepon dari Handoko.

“Sudah dapat jatah belum?”

“Jatah apa, Pak?”

“Jatah hiburan dari hotel?”

“O… sudah aman, Pak. Bapak di situ bagaimana?”

“Sudah ada. Ya sudah, selamat bersenang-senang.”

“Benar, kan…?” Kata Elisa.

“Iya. Kamu benar.”

“Terus. Mau?”

“Nggaklah. Aku nggak enak sama Jumailah. Dia di sini juga.”

“Hemmm Ibu Jumailah lagi. Emang dia udah ngubungin kamu?”

“Belum. Sudah tidur paling.”

“Tidur? Kamu sampai sekarang belum mengerti juga, Di? Udah berapa tahun sama Ibu Jumailah kok belum juga ngerti?”

“Ngerti apaan. Udahlah, tidur. Kamu belum ngantuk? Sana tidur di kamarmu.”

“Nggak, ah. Di sini aja.”

Tubuhku rebah di ranjang, pun Elisa di ranjang itu juga. Di atas bantal, mata belum juga meram, pikiran terus membayangi Jumailah. Hatiku mulai curiga. Iya, tidak biasanya, di tempat yang sama, berangkat bersama, sampai saat ini tidak ada kabar. Apa benar dia masih rapat dengan menteri itu? Apa mungkin dia menemani menteri di kamar itu? Pikirku terus bertanya-tanya.

Jumailah, selain dia masih muda, dia juga cantik. Sulit bagi lelaki lain yang menolak pandangannya. Hatiku mulai cemburu. Apa mungkin hari-hari sebelumnya juga sama di saat bekerja tanpa bersamaku, sama seperti yang aku pikirkan saat ini.

“Kamu masih mikirin apa?” Tanya Elisa seolah tahu apa yang aku pikirkan.

“Nggak apa-apa.”

“Nggak usah dipikirin…” suara Elisa seperti membisik telinga. “Dia pasti udah tidur…” suaranya terus mendekat.

“Iya…” kubiarkan tibuhku terlentang sambil menatap langit-langit kamar.

Yan Zavin Aundjand

Yan Zavin Aundjand

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya:  Pelacur Negeri (Bagian 10: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa(Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email:[email protected] atau [email protected]

Komentar

To Top