Connect
To Top

Pelacur Negeri (Bagian 1) – Novelet Yan Zavin Aundjand

NUSANTARANEWS.CO – Sehabis aku mabuk, badanku terasa lemas. Mataku seakan tak mampu aku buka dengan sempurna. Di depan rumahku, aku duduk mengantuk meski pikiran terasa sambil memikirkan kejadian yang menimpaku sebelum aku mabuk; sebuah kejadian di mana aku diberi minuman arak oleh salah seorang kawan lama yang baru saja datang dari Ibu Kota Jakarta. Dia baru saja sampai di Surabaya, jauh-jauh dari Ibu Kota hanya untuk mau bertemu denganku. Dia memintaku menemuinya di Terminal Surabaya. Kutahu, ternyata temanku itu sudah melanjutkan kuliah S2 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta dengan konsentrasi pada jurusan Ilmu Hukum. Aku terus mencoba menghilangkan kejadian perjumpaanku dengannya di salah satu hotel di Surabaya, tapi tak bisa, mungkin karena aku duduk di atas kursi.

Entahlah. Aku coba turun dari kursi, duduk di lantai, bersila seperti orang mau bersemidi, tapi tetap saja kejadian perjumpaanku dengannya terus menghantui. Aku sangat lelah. Aku ingin istirahat. Aku tidak mau pikiran dan hidupku terganggu. Aku sungguh sangat lelah. Lalu aku letakkan kepalaku di atas kedua tanganku ditempelkan ke lantai, meski dingin memasuki ruang-ruang pori-pori, aku tak menghiraukannya, yang penting pikiranku bisa tenang dan menghilangkan kejadian perjumpaan itu hanya sebuah kebetulan. Mata terus menatap langit-langit atap rumahku. Ah, semakin tak bisa dihilangkan kejadian itu.

“Ahhh….!” Aku berteriak kencang, berlari ke dalam kamar.

Kuletakkan saja badanku di atas guling dan bantal. Di sana aku merasa berenang-renang sendirian. Kejadian itu terus mengikutiku. Lalu aku mengambil duduk kembali di depan cermin yang aku tempel di dinding dekat pintu. Mata berkaca-kaca. Kuperhatikan wajahku sudah kusut. Warna hitam melingkari kedua bola mata sembari bertanya dalam hati, aku kenapa?

“Ahhh…!” aku berteriak lagi.

Tanganku tanpa sengaja merobek kaca, sepertinya aku benci dengan warna kulit wajahku. Aku pukuli dia, aku seolah mencincang kaca itu sampai retak lebur. Kubiarkan saja kejadian perjumpaan itu mengambil pikiranku—mengambil hidupku. Kubiarkan dia memperkosaku sampai dia merasa puas.

Aku kembali berenang-renang di atas kasur dan bantal. Kupeluk guling sekedar lebih menentramkan bokongku yang lelah. Dia memaksaku untuk mengingat-ingatnya kembali kejadian perjumpaan itu; sebuah peristiwa perjumpaan dengan seorang perempuan, Jumailah, teman lama yang dulu pernah aku mencintainya dengan gila, dan saat ini ia datang kembali ke dalam kehidupanku yang sudah memiliki buah hati dengan wanita lain.

Mungkin baiknya kubiarkan saja. Aku rela, meski hati kecilku terus mencoba menolak bayangan wajahnya yang terus menghantui. Lain lagi cerita sebelum aku kembali mabuk seperti saat ini, padahal aku sendiri sudah lama meninggalkan kebiasaan mabuk dan hobby ke tempat-tempat hiburan malam. Kebiasaan ini mengajakku kembali bermain-main.

Iya, di sebuah hotel dekat Bandara itu, aku juga sempat diperkenalkan oleh Jumailah dengan beberapa pejabat dan pengusaha besar yang menemui dia di salah satu hotel Bandara. Aku berpikir, andai aku bisa seperti mereka yang kutemui di hotel itu, alangkah indah hidupku di negeri ini; hidup terasa serba berkecukupan, semua serba ada yang dibutuhkan, semua serba bisa ditaklukkan dengan uang dan kekuasaan. Begitulah yang terjadi pada beberapa orang yang memiliki jabatan di negeri ini yang kulihat di hotel itu dengan mata kepalaku sendiri.

Awalnya, aku tidak tahu apa-apa, aku hanya menemui teman lamaku di hotel itu. Sebelumnya, Jumailah memaksaku menemuinya. Katanya, dia sangat rindu padaku. Aku memenuhi permintaannya dengan menjemput dia di Terminal Surabaya. Beberapa bulan ini aku memang jarang ke mana-mana, selain memang belum mendapat kerjaan kembali setelah beberapa bulan resign dari kantor tempat aku bekerja.

Kulihat lelampu kota kerlap-kerlip di jalan-jalan menuju Terminal. Kuperhatikan setiap belokan jalan, setiap gang-gang kecil, berharap ada orang yang dapat mengantarku ke Terminal. Aku terus berjalan mengikuti jalan semauku, yang penting aku bisa sampai.

Melihat aku yang seperti orang kebingungan, ada tukang becak menghampiri. Dia mendayung becaknya pelan sekali. Aku harus naik becak, gumamku, karena Terminal lumayan jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki. Biar aku tak lelah dan bisa segera sampai ke Terminal, pikirku. Dan aku tak habis pikir, kenapa aku tak naik angkot saja saat itu. Entahlah.

“Becak, Mas?” Katanya, padahal aku sesungguhnya tak ada uang. Aku jawab seadanya mengikuti alur pertanyaan itu. Tukang becak itu tidak mau, karena aku tidak punya ongkos. Bukannya tidak punya uang, tapi dompetku ketinggalan di kantong celanaku yang lain di rumah, aku pun malas mau balik lagi ke rumah, sebab aku baru sadar setelah berjalan kaki bermeter-meter jauhnya bahwa aku tak membawa dompet.

“Bapak yakin tidak mau menolongku?” Tanyaku kemudian. Kulihat dia sambil berpikir. “Aku ini tidak punya uang, Pak. Aku cuma bisa minta tolong, antarkan aku ke Terminal. Sekali-kali nolong orang tanpa ongkos itu lebih besar pahalanya, Pak. Yakin,” kataku sambil senyum. “Aku ditunggu teman di sana. Soal ongkos nanti gampang, ada temanku di sana.”

Bapak itu tersenyum.

Lekas, dia pun mau mengantarku. Beruntung, sungguh aku beruntung, kataku dalam hati. Jalan-jalan di Kota Surabaya itu ternyata ramai kurasakan di malam hari. Alunan lagu-lagu disco seperti terdengar di mana-mana. Ternyata, aku kembali sadar bahwa di kota yang kukenal kota pahlawan itu banyak discotik, dan sudah lama aku meninggalkannya. Sungguh!

Becak itu berlaju pelan, selain memang tukang becaknya itu juga sudah tua. Kasihan sekali. Aku diam saja seolah tidak menghiraukannya, yang penting aku bisa sampai ke Terminal. Banyak perempuan dan kaum lelaki di gang-gang jalan yang kulewati; ada yang minum-minuman, ada yang tertawa dan saling menertawakan, sama seperti aku yang dulu juga suka mabuk. Kulihat di salah satu gang itu ada yang bertengkar. Mungkin gara-gara perempuan, pikirku, karena di sana banyak perempuan bermain dengan tawa. Rok-rok mini dimainkan dengan arak dan orak-orakan laki-laki menyeret remang, lalu terjadi tengkar antar temannya. Mereka seperti tidak tahu apa-apa. Mereka dalam keadaan tidak sadar. Ah, gila. Manusia memang selalu suka pesta, apa pun alasannya, pikirku.

“Mas, kita berhenti dulu,” pinta sopir becak itu. Dia seperti tidak kuat lagi mengayuh becaknya, sementara perjalanan tinggal separuh lagi. Aku harus cepat-cepat sampai ke Terminal. Aku biarkan dia istirahat sejenak.

“Pak, kita berangkat lagi,” pintaku.

“Iya, Mas.”

“Biar aku saja, Pak, yang nyetir. Bapak di depan,” pintaku.

“Ndak apa-apa, Mas. Bapak masih kuat.”

“Biar aku saja, Pak. Bapak depan. Aku sudah bersyukur bapak mau ngasih tumpangan, biar aku saja yang di belakang.”

Bapak itu hanya mengangguk. Mungkin dia benar-benar lelah. Ternyata, bekerja narik becak itu cukup melelahkan juga. Bekerja seperti ini butuh kekuatan fisik dan batin yang tangguh. Tapi, aku merasa enjoy saja sambil tertawa kecil melihat bapak sopir becak itu minum es jeruk berbungkus plastik sambil merokok menenangkan diri. Sopir becak itu terus menunjuk arah jalan ke Terminal. Hatiku sudah semakin degdegan mau bertemu Jumailah.

Di jalan, pikiranku membayangi wajahnya, aku senang sekali dia mau bertemu denganku. Dia temanku waktu aku masih kecil sampai aku duduk di bangku SMA. Setelah lulus, kami berpisah, melangkahkan kaki masing-masing demi mencapai sebuah cita-cita. Sudah bertahun-tahun aku tak bertemu. Sudah seperti apakah dia, gumamku dalam hati bahwa aku juga rindu. Sudah mau hampir sampai, kata sopir becak itu, tapi kulihat di jalan perempatan itu banyak anak muda tanggung sedang ribut, semacam tauran geng anak muda.

Ada banyak botol dan batu melayang, saling melempari lawan. Aku mengajak bapak sopir becak itu mundur, meminta cari jalan lain. Aku takut kalau sampai terpaksa melawatinya kami pasti kenak lemparan botol-botol dan batu. Awalnya, aku sangka mereka adalah segerombolan anak-anak muda berpesta, ternyata tidak.

Kami hampir saja kenak lemparan botol dan batu melayang, kalau aku tidak cepat-cepat turun dan menarik becak mundur cari jalan lain, sudah pasti kami kenak. Ah, tambah jauh lagi jalannya. Aku harus mutar lewat jalan samping kerusuhan geng anak muda itu. Semakin lama saja aku sampai di Terminal. Tapi tak apalah, yang penting aku selamat. Sesampainya di Terminal bahkan di jalan-jalan begitu ramai dengan patroli aparat kepolisian.

“Ada apa ini, Pak?” Tanyaku pada sopir becak itu.

“Ada razia di Terminal, Mas.”

“O… Banyak orang yang dimasukan ke mobil polisi, tuh, Pak?”

“Itu paling teroris, Mas. Mungkin juga pengedar narkoba,” jawabnya serius.

“Gitu, ya, Pak.”

“Iya, sekarang kan banyak teroris nyebar di mana-mana, Mas. Ndak usah heran, Negara kita ini sedang dihuni banyak teroris dan narkoba, Mas, bisa jadi polisi ini nangkap teroris atau pengedar narkoba,” ucapnya menduga. “Biarkan saja polisi bekerja sesuai dengan tugasnya, Mas. Sudah tugas polisi menagkap ketidak beresan seperti ini.”

“Iya, ya, Pak. Mereka ini kok nggak capek bikin ribut-ribut di masyarakat, ya.” Sambil terus ngobrol ala kadarnya meski nafasku terasa sudah ngus-ngusan.
Keringatku berceceran membasahi kaos dalamku, bahkan celana luarku juga ikut basah dengan keringat. Ternyata capek juga bekerja narik becak. Kasihan, bapak ini sudah tua.

“Uang itu segalanya, Mas. Dengan uang orang bisa menjual agamanya, bahkan harga nyawanya sendiri bisa mereka korbankan. Apa yang ndak berkuasa di dunia ini tanpa uang. Uang itu segalanya, Mas. Ndak usah kaget, Mas. Orang seperti kita ini yang jadi korban. Tertindas. Biarkan mereka menguasai segalanya, toh akhirnya mereka juga akan hancur.”

“Haha… Bapak ini pintar juga rupanya. Mereka itu juga manusia, lo, pak?”

“Siapa yang bilang mereka Iblis?” Jawabnya seolah geram dengan keadaan.

“Haha… boleh-boleh. Bapak ini cerdas, ya, ternyata. Ngomong-ngomong dulu pernah sekolah di mana, Pak?”

“Saya ndak sekolah, Mas. Dulu sekolah itu hanya bagi orang-orang tertentu saja. Sekolah mahal. Kalau saya sekolah, saya ndak mungkin bekerja narik becak seperti ini, Mas. Mungkin saya jadi presiden, atau paling ndak jadi Menteri,” ucapnya sambil tersenyum.

Obrolan kami kemudian tidak berlangsung lama setelah aku bertemu dengan temanku, Jumailah, di Terminal. Rasa senang dan rindu seperti menggebu di tengah-tengah orang berlalu lalang. Rindu pun saling bertegur sapa bercampur senyum canda tawa. Tukang becak pun masih di situ menatapku dengan senyum. Kepada Jumailah, aku meminta dia untuk membayarkan ongkos becak yang aku tumpangi itu, dia pun langsung memberikannya meski si tukang becak tua itu seolah tak mau menerimanya.

“Bapak terima saja, nggak apa-apa,” pintaku.

“Sudah, Mas, ndak apa-apa. Bapak ikhlas,” jawabnya.

“Bapak ambil saja. Anggap saja ini ucapan terima kasih udah mau ngantarkan saya.”

“Terima kasih banyak, Mas.” Tukang becak itu pun pergi meninggalkan kami.

Kulihat Jumailah tersenyum sambil menyedot es merek teh botol yang dipeganginya. Aku terus menatapnya meski dia sedikit masih malu-malu membalas tatapanku. Dia menunduk. Matanya melirik. Aku pun semakin sengaja menatapnya. Ketika aku tidak menatapnya, dia balik menatapku. Senang hatiku ditatapnya. Begitu seterusnya, kami saling tatap secara bergantian, seperti tidak disengaja.

Setelah lama berdiam diri, lalu kami berdua berjalan santai sampai ke luar area Terminal. Kami pun tidak tahu harus ke mana, ngobrol seadanya seputar kabar dan pengalaman bekerja selama ini. Kepadaku, Jumailah mengaku bahwa dia bekerja sebagai lawyer di salah satu konsultan hukum yang dibuatnya bersama teman-temannya di Jakarta. Sebagai lawyer di Ibu Kota sudah barang pasti orang hebat, banyak uang, dan banyak kenal dengan pejabat kelas atas di Ibu Kota. Aku senang mendengar ceritanya bahwa menurutku sebagai orang biasa yang masih mencari bentuk pekerjaan yang cocok sudah barang tentu dia orang hebat dan sukses.

Di sebuah hotel dekat Terminal, kami berdua mamasuki loby hotel, tak menjelang lama Jumailah memintaku menunggu. Kulihat dia berjalan menuju tempat resepsionis hotel, mungkin dia ingin memasan kamar, pikirku. Setelah itu dia mengajakku keluar dan menyetop taksi, aku pun mengangguk tanpa bertanya mau ke mana. Aku ikut saja ke mana dia mau pergi.

Sekitar kurang lebih satu setengah jam kami naik taksi, kulihat jalan-jalan tak begitu ramai seperti di kota, ternyata jalan itu arah menuju Bandara. Taksi melaju pelan saat sampai di salah satu hotel dekat Bandara. Sesampainya di hotel itu, Jumailah langsung memesan kamar. Aku pun mengikuti dia dari belakang sambil memasuki life ke lantai 2 menuju kamar yang kami pesan.

“Aku udah pesan 1 kamar buat kita. Kamu tunggu di sini dulu, aku ada ketemu orang di bawah. Kalau mau apa-apa, kamu tinggal pesan dari sini atas namaku,” sambil menunjuk tempat telepon kamar.

(Bersambung….)

Yan Zavin Aundjand

Yan Zavin Aundjand

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa (Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

 

Komentar