Spudnik Sujono usai konferensi pers refleksi Kementan akhir 2016 di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, 28 Desember 2016/Foto Andika/NUSANTARAnews
Spudnik Sujono usai konferensi pers refleksi Kementan akhir 2016 di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, 28 Desember 2016/Foto Andika/NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Direktur Jenderal Hortikultura dari Kementerian Pertanian (Kementan) Spudnik Sujono mengaku “bingung” dan merasa serba salah dengan kondisi harga cabai di pasaran yang melonjak tinggi.

Spudnik menduga kenaikan harga cabai karena adanya pedagang-pedagang atau adanya penjual second hand atau tangan kedua yang mengambil untung besar, memanfaatkan lonjakan permintaan pada periode Natal dan tahun baru ini.

“Itulah pedagang, mereka memanfaatkan momen itu. Kami dari pertanian sudah menyiasati dengan suplai, tapi kan yang menjual siapa,” ujar Spudnik seusai konferensi pers refleksi Kementan akhir 2016 di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu(28/12/2016).

Spudnik berujar, pihaknya juga tidak bisa melarang atau mengendalikan harga cabai yang dijual pedagang. “Saya tidak bisa memaksa pedagang menjual sesuai harga pemerintah, uang-uang mereka, itu hak mereka,” kata dia.

Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan Kementan di antaranya, bekerja sama dengan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan Perum Bulog agar membeli cabai langsung di tingkat petani dan dijual ke pasar dengan harga wajar sesuai yang ditetapkan.

Spudnik mengatakan, penentuan harga selama ini memang dinamis, bergantung pada pedagang. “Misalnya mereka mau jual Rp 40 ribu atau sampai Rp 90 ribu, kan siapa yang mau melarang?” ucap dia.

Bahkan, Spudnik mengatakan ketika pihaknya mengadakan operasi pasar demi menekan harga cabai dan bawang yang meroket, dia mengaku pernah dihampiri oleh pedagang dan diancam didemo. “Dia(pedagang) bilang, bapak jangan jualan di sini. Jualan di (kawasan) luar aja sana. Bikin rugi pedagang, bikin susah,” kata Spudnik menirukan seruan pedagang itu. (Andika)

Komentar