Connect
To Top

Pancasila Dan Kebangsaan (Bag. 2)

Oleh: Sayidiman Suryohadiprojo

Ilustrasi Sayidiman1NUSANTARANEWS.CO – Pengertian Bangsa (Nation) dan Kebangsaan telah timbul dalam umat manusia sejak lama sekali. Dalam sejarah manusia pengertian itu mempunyai kandungan yang terus terjadi sesuai perkembangan umat manusia. Dewasa ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan Bangsa adalah satu kumpulan orang yang hidup bersama di satu bagian tertentu dunia, merasakan persamaan nasib dan membentuk pemerintahan untuk mengurus keperluan hidupnya. Kalau semula bangsa merupakan satu etnik tertentu, atau bicara bahasa tertentu, sekarang pengertian itu jauh lebih luas. Namun jelas bahwa Alam semesta menentukan bahwa umat manusia terbagi dalam Bangsa-bangsa yang beda satu sama lain.

Dengan begitu Bangsa atau Kebangsaan, yaitu perasaan-kesadaran-semangat yang bersangkutan dengan Bangsa, adalah bagian integral kehidupan manusia Indonesia dan bagian dari Jati Diri Manusia Indonesia. Sebab itu Kebangsaan merupakan bagian integral Pancasila.

Maka usaha untuk menjadikan Pancasila kenyataan dalam kehidupan manusia Indonesia tidak mungkin terwujud tanpa mengembangkan Kebangsaan Indonesia dalam masyarakat umat manusia dan dunia. Sebab itu berbagai pendapat yang sejak akhir Abad ke 20 banyak diucapkan, bahwa Kebangsaan sudah berakhir maknanya, bukan pendapat yang didukung keadaan dunia yang sebenarnya. Globalisme dan globalisasi yang sering kali dijadikan indikasi sebagai saat berakhirnya Bangsa dan Kebangsaan, dalam kenyataan bukan begitu. Sebab globalisme justru merupakan usaha pihak tertentu untuk memperkuat bangsanya dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Maka dapat dikatakan bahwa mundurnya atau lemahnya Kebangsaan di masyarakat Indonesia sekarang adalah akibat kurangnya pemahaman di banyak kalangan tentang tempat yang organik bagi bangsa dalam masyarakat umat manusia. Akan tetapi juga karena banyak kalangan lain setuju tunduk terhadap usaha dominasi bangsa lain.

Sesuai dengan cara pandang Pancasila, Bangsa dan Kebangsaan Indonesia selalu berusaha membangun Harmoni dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bung Karno sebagai Penggali Pancasila mengatakan bahwa Nasionalisme atau kebangsaan Indonesia berkembang dalam taman sari Internasionalisme dunia. Jadi jelas bahwa Pancasila menghendaki bangsa Indonesia senantiasa mengusahakan hubungan baik dan harmonis dengan bangsa lain. Akan tetapi, kalau bangsa lain tidak berminat untuk hubungan baik dan malahan berusaha mendominasi bangsa Indonesia, seperti yang dulu dilakukan bangsa-bangsa Barat melalui kolonialisme, maka tidak ada sikap lain dari usaha kuat untuk mengamankan dan membela eksistensi bangsa Indonesia.

Karena kebudayaan Pancasila menghendaki Individu berkembang dengan sebaik-baiknya dan pada saat sama membangun Harmoni dengan lingkungan masyarakat di mana ia berada dan hidup, maka analog dengan itu bangsa Indonesia mempunyai kewajiban untuk mengembangkan dirinya sebaik mungkin lahir dan bathin dan menjalankan usaha kuat pula mewujudkan Harmoni dengan masyarakat manusia di keliling dirinya. Hanya bangsa Indonesia yang mengembangkan dirinya sebaik-baiknya lah yang merupakan anggota masyarakat dunia yang baik. Bukan bangsa Indonesia yang lemah dan miskin.

Dalam rangka itu jelas sekali bahwa Kebudayaan Pancasila harus membangun Peradaban Pancasila atau Peradaban Indonesia yang setinggi-tingginya. Untuk itu bukannya bangsa Indonesia harus membuang Pancasila sebagai Jati Diri dan mengambil sikap Barat yang berbeda dengan Pancasila, melainkan justru bangsa Indonesia harus memperkuat Kebangsaannya. Kebangsaan Indonesia harus memperkuat diri dengan menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), hal mana tidak perlu membuang kebudayaan Pancasila. Kunci penguasaan Iptek adalah cara berpikir rasional dan hal ini dapat dilakukan setiap manusia yang bersedia mengembangkan pikirannya, dan tidak harus menjadi individualis.

Hal itu telah dibuktikan masyarakat Jepang sejak 1868 ketika menjalankan Restorasi Meiji dan berjuang merebut penguasaan Iptek modern untuk dapat mencapai kesejahteraan lahir bathin bagi bangsanya agar dapat menolak dominasi Barat. Tanpa mengorbankan jati diri Jepang yang mengutamakan solidaritas kelompok dengan harmonisasi anggota kelompok dengan kelompoknya, masyarakat Jepang berhasil merebut Iptek modern yang dikuasai Barat. Buktinya adalah ketika Jepang mengalahkan Russia sebagai satu negara Barat pada tahun 1905 dengan menggunakan senjata dan alat hasil produksi industri modern yang hanya dapat dibangun dengan penguasaan Iptek modern. Bangsa Jepang telah memperoleh kemampuan itu dalam tempo kurang dari 40 tahun tanpa merubah kebangsaannya.

Itu berarti bahwa bangsa Indonesia juga dapat membangun Peradaban Indonesia modern tanpa meninggalkan kebudayaan Pancasila, asalkan memperteguh kebangsaannya dengan mengembangkan kekuatan Niat-Tekadnya sehingga sasaran tercapai. Buat kita bukti keberhasilan tak perlu menang perang. Buat kita lebih penting mencapai kesejahteraan rakyat yang tinggi dan merata bagi 250 juta rakyat Indonesia. Dan setelah itu Peradaban Indonesia terus ditingkatkan di semua aspek kehidupan sehingga terwujud Ketahanan Nasional yang tinggi.

Niat-Tekad itu diwujudkan berupa perjuangan menguasai kemampuan Iptek yang luas dan tinggi. Hal itu memungkinkan bangsa Indonesia memanfaatkan berbagai karunia Allah berupa sumberdaya alam yang banyak serta bernilai tinggi, sumberdaya manusia yang besar jumlahnya dan berpotensi tinggi, serta lokasi geografi Indonesia dengan nilai strategi tinggi. Niat-Tekad itu akan kuat kalau didukung jiwa dan semangat Kebangsaan tinggi serta dilandasi Kebudayaan Pancasila.

Peradaban Indonesia akan memungkinkan kita membangun Ketahanan Nasional yang terdiri dari dua aspek yang dapat dibedakan tapi tak dapat dipisahkan, yaitu Kesejahteraan Nasional di satu pihak dan Keamanan Nasional di pihak lain. Terwujudnya satu kondisi dinamis bangsa Indonesia yang menghasilkan kekuatan nasional yang ulet dan tangguh, sanggup menghadapi dan mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung, membahayakan kelangsungan hidup bangsa serta pencapaian tujuan nasionalnya.

Dengan Ketahanan Nasional demikian bangsa Indonesia dapat memberikan kontribusi tinggi pada perkembangan umat manusia dengan menciptakan perdamaian dunia dan kesejahteraan lahir bathin. Dan pandangan bahwa Kebudayaan Pancasila menjamin masa depan umat manusia yang paling baik.

Penutup

Kondisi bangsa Indonesia sekarang yang cenderung mengabaikan Pancasila dan Kebangsaan merupakan kelemahan dan kerawanan yang harus segera kita perbaiki, demi mencapai masa depan yang maju dan sejahtera. Untuk itu perlu dikembangkan kesadaran masyarakat bahwa cara hidup sesuai nilai-nilai Pancasila adalah sikap yang tepat sesuai hakikat Alam Semesta.

Mewujudkan Gotong Royong dalam masyarakat, yang berarti Kebersamaan atau Kekeluargaan, adalah cara hidup yang dilandasi pengertian Perbedaan dalam Kesatuan, Kesatuan dalam Perbedaan.

Namun untuk mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan yang tinggi dan merata bagi 250 juta rakyat Indonesia, kebudayaan Pancasila harus membangun Peradaban Pancasila atau Peradaban Indonesia. Untuk itu masyarakat Indonesia harus dikuatkan niat dan tekadnya untuk berjuang kuat. Berjuang menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan dengan itu mampu menjadikan semua kekayaan Sumber Daya Alam karunia Allah kekuatan nyata, melalui kemampuan produksi di berbagai bidang.

Peradaban yang terbentuk menjadi sumber penting bagi terwujudnya Ketahanan Nasional, baik sebagai Kesejahteraan Nasional dan Keamanan Nasional, yang memungkinkan bangsa Indonesia mencapai Tujuan Nasionalnya serta menjamin kelangsungan hidupnya sepanjang zaman. Lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi kenyataan yang hidup, dan Indonesia dapat memberikan sumbangan berharga bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia dan umat manusia. Tamat. (as/sayidiman.suryohadiprojo.com)

Komentar