Ilustrasi: Pancasila Pelita Dunia/Foto Ilustrasi: NUSANTARAnews
Ilustrasi: Pancasila Pelita Dunia/Foto Ilustrasi: NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Pancasila adalah pelita dunia. Rumusan Pancasila yang telah digagas, disusun dan diperjuangkan para founding fathers sebagai asas NKRI telah final. Menginjak usia kemerdekaan RI ke-71 tahun, Pancasila telah terbukti mampu menjadikan Indonesia kokoh di tengah-tengah kehidupan yang multietnik dan multikultural.

Lebih penting lagi, Pancasila adalah pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah asas tunggal negara dan asas bersama bagi masyarakat. Tanpa adanya Pancasila, niscaya tidak ada kesatuan. Sehingga, Pancasila adalah eksistensialisme Indonesia.

Nyaris seabad lamanya, Pancasila terus diterjang berbagai ideologi dunia. Komunisme, kapitalisme, liberalisme, etatisme, teokrasi dan sekulerisme adalah deretan ideologi yang telah dihadapi Pancasila. Tetapi, Pancasila bukanlah bagian dari ideologi-ideologi tersebut. Pancasila justru sebenarnya merupakan kristalisasi ideologi dunia yang mencoba untuk mencari jalan tengah yang baik antara liberalisme dan etatisme, antara teokrasi dan sekularisme, antara kapitalisme dan komunisme. Namun, kini kita menghadapi kenyataan bahwa kapitalisme sudah menjadi sistem dunia. Bangsa Indonesia juga tampak terlambat menyadari kalau globalisasi yang dipromosikan kaum neoliberal merupakan bentuk baru kapitalisme.

Kita kini mulai menyadari bahwa imperialisme, kapitalisme dan globalisasi sama saja. Sama-sama tidak mampu menciptakan keadilan sosial atau distribusi sumber daya produksi dan pendapatan. Bayangkan saja, menurut data Oxfam International 2016; orang-orang terkaya di dunia hanya berjumlah 62 individu. Angka ini lebih kecil dibandingkan tahun 2015 sebanyak 80 orang, dan pada 2014 sebanyak 85 orang. Lebih spesifik lagi, ekonom Faisal Basri sempat menyebutkan bahwa pada tahun 2015 lalu Bank Dunia mencatat 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 77% kekayaan nasional.

Selain itu, Oxfam International juga melaporkan surveinya bahwa delapan pria terkaya dunia memegang nilai kekayaan sama besarnya dengan jumlah harta 3,6 miliar penduduk miskin di dunia.

Bahkan baru-baru ini Majalah Forbes kembali merilis daftar nama orang-orang terkaya di dunia tahun 2016. Mereka adalah Bill Gates, total kekayaannya US$75 miliar, Amancio Ortega; US$67 miliar, Warren Buffett; US$60,8 miliar, Carlos Slim Helu; US$50 miliar,  Jeff Bezos; US$45,2 miliar, Larry Ellison; US$43,6 miliar, Michael Bloomberg; US$40 miliar, Mark Zuckerberg; US$44,6 miliar, Charles Koch; US$39,6 miliar, dan David Koch; US$39,6 miliar.

Terlepas dari itu, dunia kini justru tengah mengalami kelesuan. Perekonomian dunia, sejak krisis moneter pada 2008 silam hingga kini tak kunjung pulih. Presiden Cina, Xi Jinping sendiri mensinyalir faktor penyebab lesunya perekonomian dunia disebabkan oleh aksi saling mengejar keuntungan yang berlebihan.  Ditambah lagi dengan fakta perekonomian yang tidak merata dan kekayaan hanya dinikmati oleh segelintir orang sementara penduduk dunia sebanyak 7.323.187.457 jiwa. Akibatnya, jurang kemiskinan di dunia kian melebar dan memprihatinkan.

Sampai saat ini, krisis global tak kunjung padam. Krisis global dalam dasawarsa terakhir ini tak lain adalah pertanda globalisasi gelombang kedua perlahan tapi pasti segera berakhir. Dan Indonesia, dinilai sejumlah pihak menjadi bangsa dan negara gagal memanfaatkan globalisasi, dibandingkan negara tetangga seperti Cina, Rusia, Malaysia dan Singapura yang mampu memanfaatkan globalisasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Menydari kondisi global yang makin sengkarut, Indonesia harus mulai mempersiapkan diri menyongsong era baru, yakni globalisasi gelombang ketiga yang ditandai munculnya isu inovasi, revolusi industri baru dan ekonomi digital. Segenap elemen bangsa harus menyadari dua pilihan ekstrim; Indonesia bangkit menjadi salah satu pemain utama di pasifik, atau tenggelam sama sekali ditelan globalisasi gelombang ketiga yang belum berwujud nyata itu. Dan, tidak ada pilihan ketiga.

Forum-forum seperti G20 dan WEF telah berulang kali dihelat. Isunya tak lain adalah langkah-langkah strategis untuk merumuskan tatanan dunia baru, seperti peningkatkan tata kelola ekonomi global, penguatan sistem keuangan dan moneter, peningkatan tata kelola lembaga keuangan global serta peningkatan upaya antikorupsi untuk mengurangi resiko perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, muncul juga dorongan untuk menciptakan globalisasi yang lebih inklusif, perubahan iklim dan terorisme.

Tak menutup kemungkinan bahwa zaman baru yang bernama globalisasi gelombang ketiga ini akan menghancurkan siapa pun yang tidak mampu menahannya. Namun, realitas aktual juga mengatakan negara mana pun yang memilih berada di luar globalisasi dapat dipastikan akan tertinggal, terkucilkan, miskin, dan kehilangan kesempatan untuk maju dan menjadi besar.

Dalam situasi dilematis semacam inilah Pancasila seharusnya dipahami, di mana nilai-nilai adiluhung yang ada di dalamnya tidak cukup hanya dipuja dan dipuji, melainkan juga harus dioperasionalkan untuk memilah dan memilih yang baik secara cerdas di antara dua kutub ekstrim yang terlibat dalam pergulatan.

Karenanya, bangsa Indonesia harus sudah mulai mengenal dengan baik, teliti dan cermat bagaimana proses globalisasi tersebut bekerja. Dan oleh karenanya, apabila nilai-nilai Pancasila dipahami secara benar, maka benar pula apa yang dikatakan Wakil Presiden keenam RI, Try Sutrisno bahwa Pancasila bila digali dan diimplementasikan niscaya akan menjadi pelita dan mencusuar dunia di masa depan. Dikatakannya; pelajari, pahami, hayati dan amalkan Pancasila dalam segala bidang, baru nanti kita bisa wujudkan sebagai negara yang toyyibun wa robbun ghofur. (Sego)

Komentar