Opini

Objek Wisata Hambalang dan Magang Mahasiswa

proyek hambalang di sentul bogor/foto via viva/Nusantaranews
proyek hambalang di sentul bogor/foto via viva/Nusantaranews

Oleh: Ni Nyoman Ayu Suciartini*

NUSANTARANEWS.CO – Mengutip pernyataan Rhenald Kasali, bahwa beliau mengharuskan setiap mahasiswanya untuk memiliki passport, surat izin memasuki dunia global. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Begitu pernyataannya yang sungguh masuk akal. Namun, apakah mahasiswa Indonesia benar-benar butuh dan penting untuk bepergian ke luar negeri ketika negaranya sendiri masih muram durja?

Ketika melihat Indonesia yang masih terbelanggu gejolak sosialnya, apakah mahasiswa yang plesir ke luar negeri bisa serta merta mendatangkan solusi? Yang diharapkan dari kepulangannya tentu bukan semata selfie tak berarti.

Baik dan penting untuk didahulukan, mahasiswa magang atau tingkat akhir yang menjalankan tugas lapangan untuk membantu melihat, berkomentar, dan memberi nilai terhadap banyak kasus mangkrak yang seolah tak bertuan di Indonesia. Kasus hambalang

Mahasiswa adalah generasi penerus yang paling lurus untuk bisa diajak membantu pembangunan di Indonesia. Mahasiswa identik dengan cerdas, aktif, gesit, dan kreatif. Jika nilai-nilai positif ini dikerahkan, niscaya kasus mangkrak setidaknya bukan hanya beban pemerintah lagi. Dengan begitu, anak mudanya juga bermanfaat. Anak mudanya bergeliat melihat bagaimana kinerja pemerintah, oknum-oknum terkorup, dan harapan untuk Indonesia maju bukan sekadar hayalan.

Kegiatan tur keliling di dalam maupun di luar negeri sudah kadaluwarsa. Baiknya, perjalanan keliling ini difokuskan untk melihat bangunan, mega proyek mangkrak yang diwariskan penghuni jeruji besi ataupun tokoh korup di negeri ini.

Membangkitkan Rasa Memiliki

Rasa memiliki mahasiswa harus dibangkitkan. Dengan melihat triliyunan rupiah, jutaan tenaga, juga pemikiran digadaikan demi kepentingan pribadi, hati mereka akan menimbulkan gejolak masing-masing. Pikiran mencerahkan, mengakhiri kejahatan mental mungkin timbul tenggelam dalam benak mereka. Jika terus dirangsang, pemikiran cemerlang akan muncul dominan untuk membantu Indonesia melawan warganya sendiri. Tentu warga yang dimaksud adalah para koruptor tanpa karakter ini.

Beberapa kasus, yang masih membutuhkan gerakan moral mahasiswa yaitu penyelesaian kasus Bank Century yang telah merugikan uang negara 6,7 triliun. Kasus ini seakan mulai redup, bahkan terancam diputihkan penyelesaiannya. Untuk itu, gerakan mahasiswa dituntut tetap kritis menyikapi kasusnya, serta didorong agar penyelesaian tuntas tanpa batas.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut adanya 34 proyek pembangkit listrik yang mangkrak, beberapa diantaranya sudah mangkrak sejak 2007 lalu. Total kapasitas 34 pembangkit itu mencapai 627,8 Megawatt (MW). Sebagian besar proyek-proyek yang mangkrak ini berada di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Pembangkit-pembangkit mangkrak ini adalah bagian dari Fast Tracking Project pada kurun waktu 2007-2011.

Korupsi proyek Hambalang masih menjadi masa lalu yang suram terkait karakter kepemimpinan. Bangunan ini seolah tak bertuan ketika para penggagasnya satu per satu meranggas masuk bui. Bukan sembarang tokoh yang terlibat. Mereka adalah elite politik yang cerdas, berintelektual, bahkan ada di antaranya yang menyandang sebagai duta Indonesia dalam ajang Internasional. Mengapa justru korupsi begitu massif dilakukan secara bersama-sama dan dalam jumlah yang mengembangkan mata?

PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya

Ide pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional tercetus sejak zaman Menteri Pemuda dan Olahraga dijabat oleh Adiyaksa Dault. Dipilihlah wilayah untuk membangun, yaitu tanah di daerah Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Namun pembangunan urung terealisasi karena persoalan sertifikasi tanah. Saat Menpora dijabat Andi Alfian Mallarangeng, proyek Hambalang terealisasi. Tender pun dilakukan.

Pemenangnya adalah PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya. Anas Urbaningrum diduga mengatur pemenangan itu bersama Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan teman dekat Anas, Mahfud Suroso. Masalah sertifikasi juga berhasil diselesaikan. Pemenangan dua perusahaan BUMN itu ternyata tidak gratis. PT Dutasari Citralaras menjadi subkontraktor proyek Hambalang dan mendapat jatah senilai Rp 63 miliar. Perusahaan yang dipimpin Mahfud itu dikomisarisi oleh Athiyyah Laila, istri Anas. Nyanyian Nazaruddin telah memberi titik terang, meski nama-nama yang terlibat tidak digugat. Lantas, bangunan-bangunan mangkrak seperti ini yang diwariskan para dewan terhormat?

Ini penting untuk diakhiri. Kita harus percaya bahwa mahasiswa adalah manusia dewasa yang masih “murni”, idealismenya masih hangat, semangat kebaikan masih jadi prioritas tanpa berpikir sogok sana sogok sini. Hal inilah yang harus dimanfaatkan. Keikutsertaan mahasiswa, meski mungkin belum menampilkan solusi, namun mereka ikut mengawal, ikut mengawasi, juga bisa membangun karakter jujur yang paling praktis dalam teori kepemimpinan.

Jika mahasiswa tingkat akhir ini dipersiapkan dengan baik dengan pemenuhan karakter-karakter baik, ketika mereka terjun ke dunia kerja, terjun ke masyarakat, menjadi pemimpin yang jujur dan berintegritas bukan mustahil diwujudkan. Pendidikan karakter bukan melulu soal materi apalagi kurikulum. Studi kasus di Indonesia sangat banyak contohnya yang bisa melibatkan peran mahasiswa secara langsung. Memberi bukti kepada leluhur bangsa ini, bahwa generasinya tidak gagap. Mahasiswa bukan hanya tentang demo, perilaku anarkis, cenderung ikut aksi rasis, atau selfie narsis di media sosial. Mahasiswa harus menuntaskan persoalan banga, baru ke luar negeri. Entah jalan-jalan, cari pengalaman, atau berpetualang, ke luar negeri adalah bonus bagi anak bangsa yang merawat nilai-nilai kebangsaannya dengan baik agar jadi cerita tentang Indonesia yang mendamaikan.

*Ni Nyoman Ayu Suciartini, penulis tinggal di Bali.

Komentar

To Top