Presiden AS
Foto diambil Selasa, 5 Januari, 2016, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington/AP/Jacquelyn Martin/via salon.com
Foto Ilustrasi Obama's Tribute to Muhamad Ali
Barack Obama tanpak duduk di meja, di dinding terpajang foto pertandingan Muahamadi Ali/Foto Ilstrasi diadaptasi dari berbagai sumber

NUSANTARANEWS.CO – Presiden Barack Obama pada Sabtu kemarin ikut serta dalam acara memperingati kehidupan dan warisan Petinju Legendari Muhammad Ali, yang meninggal di usia 74 Jumat (3/6) dua hari lalu.

“Seperti semua orang di planet ini (seluruh dunia), Saya dan Michelle (Istri Obama) turut berduka cita atas kepergian Muhamad Ali. Tapi kami juga berterima kasih kepada Tuhan karena betapa beruntungnya kita telah mengenalnya,” kata Obama dalam pernyataan langsungnya seperti dikutip Time.

“Muhammad Ali telah menggucang dunia. Dan dunia menjadi lebih baik karenanya. Kita semua pun lebih baik,” katanya persis dengan tweet yang dibuatnya di akun Twitter Presiden Obama (@POTUS) 4 Juni 2016.

Obama menyatakan dalam studi pribadinya dari Kantor Oval, dirinya memiliki dan merawat sepasang sarung tinju Muhamad Ali dan digantung dibawah pajangan salah satu foto paling populer Ali usai bertanding (mengalahkan Sonny Liston, tahun 1964). Obama memuji yang dimilikinya itu indah, infeksi dimana Ali tampak penuh semangat. Obama pun menyebut Ali sebagai sosok yang mengubah Amerika dan menjadikannya sebagaimana yang ia kenal hari ini.

Inilah Pernyataan lengkap Presiden Barack Obama:

Muhammad Ali adalah yang terhebat. Titik. Jika Anda menanyainya, maka ia akan memberi tahu Anda yang sama. Ia akan memberi tahu Anda bahwa ia adalah dua kali yang terhebat; bahwa ia akan “memborgol petir, dan memenjarakan halilintar.”

Tapi apa yang membuat Sang Juara jadi yang terhebat — yang membedakan dirinya dari orang lain — adalah orang lain juga akan mengatakan hal sama tentang dirinya.

Seperti manusia lainnya di planet ini, saya dan Michelle berduka atas kepergiannya. Namun kami juga bersyukur pada Tuhan karena kami beruntung bisa mengenalnya, bahkan jika hanya sejenak; kami sangat beruntung Yang Terhebat terlahir di masa kami.

Di ruang kerja pribadi saya, dekat dari ruang Oval, saya menyimpan sepasang sarung tinjunya. Letaknya di bawah fotonya yang terkenal — sang juara muda, di usia 22 tahun, mengaum seperti singa di atas mangsanya, Sonny Liston. Saat itu saya masih terlalu muda untuk memahami siapa dirinya — dia masih Cassius Clay, dan telah menjadi pemenang emas Olimpiade, dan belum menjalani perjalanan spiritual yang akan membawanya pada keyakinan Muslimnya, membuatnya dalam pengasingan di puncak kejayaannya, dan kemudian memiliki panggung untuknya kembali dengan nama yang sangat dikenal di perkampungan kumuh di Asia Tenggara, dan di desa-desa Afrika, sebagaimana ia dikenal oleh para penonton yang bergemuruh di Madison Square Garden.

“Saya adalah Amerika,” dia pernah berkata. “Saya adalah bagian yang Anda tidak ingin kenali. Tapi terbiasalah dengan saya – hitam, percaya diri, sombong; nama saya, bukan namamu, agama saya, bukan agamamu, tujuan saya, milik saya. Terbiasalah dengan saya.”

Itulah Ali yang saya kenal ketika saya mencapai kedewasaan — bukan hanya sebagai penyair yang andal, atau juga petinju hebat di dalam ring, tapi sebagai pejuang kebenaran. Seorang lelaki yang berjuang untuk kita semua. Ia berdiri di samping King (Martin Luther King) dan Mandela (Nelson Mandela); ia tegak berdiri dalam kondisi sulit, dan ia lantang bersuara ketika yang lainnya bungkam. Pertarungannya di atas ring akan membuatnya kehilangan gelar dan juga kehilangan panggung di depan publik. Pertarungan itu membuatnya memiliki musuh di samping kanan dan kiri, dibenci, dan nyaris masuk penjara. Tapi Ali tegak berdiri mempertahankan kepercayaannya. Dan kemenangannya membantu kami untuk menjadi Amerika yang kita kenal saat ini.

Ia tidak sempurna, tentu saja. Untuk semua keajaibannya di ring, ia pun bisa ceroboh dengan kata-katanya, dan penuh kontrakdiksi seiring perkembangan keyakinannya. Namun semangatnya yang menyenangkan, mudah menular, bahkan terkadang lugu, membuat Ali memiliki lebih banyak penggemar dari pada musuh–Mungkin karena kita semua berharap melihat diri kita sendiri dalam sosoknya. Di kemudian hari, ketika kekuatan fisiknya menurun, ia bahkan menjadi kekuatan yang lebih hebat lagi untuk perdamaian dan rekonsiliasi di seluruh dunia. Kita semua melihat seorang lelaki yang mengunjungi anak-anak sakit di seluruh dunia, dan mengatakan bahwa mereka juga bisa menjadi yang terhebat. Kita semua melihat seorang pahlawan menyalakan api, dan sekali lagi tampil di panggung dunia menunjukkan pertarungan terhebatnya, sebuah pertarungan melawan penyakit yang mendera tubuhnya, tapi tak mampu menghapus sinar dari matanya.

Muhammad Ali mengguncang dunia. Dan dunia menjadi lebih baik karenanya. Kita semua menjadi lebih baik karenanya. Michelle dan saya mengirimkan duka terdalam kami bagi keluarganya, dan kami berdoa bahwa sang pertarung terhebat pada akhirnya beristirahat dalam damai. (Sel/Time)

Komentar