Suwido Limin
Suwido Limin kala sekat kanal di Desa Paduran Sebangau Kalteng, November 2015/Foto via Greenpeace
Suwido Limin
Suwido Limin kala sekat kanal di Desa Paduran Sebangau Kalteng, November 2015/Foto via Greenpeace

NUSANTARANEWS.CO – Pejuang lahan gambut kelas dunia, Dr Suwido Limin mengehembuskan nafas terakhirnya pada usia 61 tahun. Dosen Universitas Negeri Palangkaraya (Unpar) Kalimantan Tengah ini meninggal lantaran penyakit kanker paru dan kelenjar getah bening di RSUD Doris Sylvanus Palangkaraya Senin (6/6/2016) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB. Sebelumnya, putra terbaik Kalteng ini dijadwalkan menjalani pengobatan di Penang, Malaysia. Adapun upacara pemamakamannya dilaksanakan pada Rabu 8 Juni 2016 di Palangkaraya.

Suwido Limin adalah sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap lahan gambut di tanah kelahirannya. Dirinya sebagai Direktur Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP) sangat vokal berbicara tentang ancaman gambut akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalteng. Suwido aktif membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan sejak 1997.

Sebagai sesepuh masyarakat Dayak atau pejuang utus Dayak yang menguasai teknik-teknik pemadaman hutan komunitas juga memiliki perhatian khusus terhadap penelitian kerja sama dalam kesinambungan lahan gambut tropis. Karenanya, Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Dayak belum siap kehilangan sosoknya yang penuh dengan semangat juang tinggi. Hal ini dinyatakan oleh Co-Director Borneo Nature Foundation (BNF), lembaga pegiat orang utan dan perlindungan habitat satwa Bernat Ripoll Capilla. Bagi Capilla yang mulai kerjasama dengan Suwido sejak 2003, Suwido itu adalah pribadi yang sangat penting dalam penelitian dan konservasi gambut di Kalimantan, memiliki leadership sangat kuat, peduli masyarakat adat dan inspiratif.

Suwido tidak hanya berperan untuk tanah kelahirannya sendiri, tetapi juga berperan di banyak tempat. Dirinya turun langsung ke lapangan, berjuang bersama komunitas Dayak demi mendapatkan hak tanah, membangun tim pemadam kebakaran komunitas dan memimpin penelitian tentang lahan gambut serta mendekati para politisi. Sehingga Capilla menyebut Suwido sebagai sosok yang amat khusus dalam bidangnya dan seluruh perjuangan yang diwariskan akan dilanjutkan.

Bagi Cappila, pribadi Suwido adalah panutan sebagai pelopor penelitian lahan gambut dengan satu komitmen tinggi dalam konservasi. Tahun 2015 silam ketika terjadi kebakaran hutan di Palangkaraya, Suwido turun langusung ke lapangan bersama relawan komunitas pemadam kebakaran yang ia dirikan. Bahkan ia kerja sampai tengah malam untuk memadamkan si jago merah yang kian mendekati pusat kota. Begitulah aktivitasnya selama dua bulan.

Menurut penuturan Capilla, Suwido banyak men-support para mahasiswa dari S1 sampai S3 dalam penelitian gambut di Taman Nasional Sebangau. Sosok Suwido bisa menjadi orang yang keras ketika ia mendorong pemulihan ekosistem gambut. Namun dia pandai mendekati masyarakat hingga pemerintah melakukan hal itu. Hal itu, karena Suwido paham strategi apa untuk implementasikan proyek konservasi gambut. Mencampur semua konsep dengan tepat.

Peneliti CIMTROP Kitso Kunin menilai figur Suwido sebagai bapak bagi banyak orang. Kunin mengibaratkan dirinya laiknya anak ayam yang kehilangan induk. Bagaimana tidak, Suwido senantiasa berada di depan ketika berjuang memadamkan si jago merah. Kepada Kitso, Suwido pernah berpesan bahwa gambut lebih baik untuk konservasi daripada kegunaan lain. Sebab, menggunakan gambut untuk hal lain bisa merugikan banyak pihak, baik lingkungan, dan manusia.

Kalteng Pos Online menulis, bagi Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalteng Sabran Achmad, figur Suwido adalah pejuang utus Dayak, pembela hak-hak Dayak. Bahkan Suwido sebelum meninggal aktif sebagai wakil ketua di kepengurusan DAD. Bagi Sabran, keberanian Suwido tidak akan pernah terlupakan saat menentang rencana pembangunan kanal sebagai upaya menanggulangi dan mengantisipasi bencana kebakaran lahan dan hutan. Tidak tanggung-tanggung, dirinya bahkan menyampaikan gagasan besarnya kepada Presiden Joko Widodo berkaitan dengan antisipasi dan penanganan kebakaran di lahan gambut.

Dalam pada itu, Direktur Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalteng Simpun Sampurna mengibaratkan sang pejuang hak masyarakat adat tersebut seperti orangtua yang mengayomi dan mendampingi sekaligus membela masyarakat adat di Kalteng. Simpun mengenal Suwindo sebagai orang yang teguh hati dan konsisten menjalankan apa yang diperjuangkan.

Simpun pun banyak terinspirasi darinya yang berprinsip: konsistensi adalah kunci keberhasilan yang lebih baik. Terbukti, selama dua tahun terakhir, Suwido terlibat penuh dalam membuat rancangan peraturan daerah Kalteng terkait masyarakat adat. Bahkan dialah ketua tim penyusun raperda masyarakat adat tersebut. Atas semangat dan kegigihannyalah selama dua tahun, raperda itu rampung walaupun belum disahkan sampai sekarang.

Suwido Limin lahir di Desa Bawan, Pulang Pisau, Kalimantan tengah, 24 Mei 1955. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Agronomi Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin pada 1982. Lulus Pasca sarjana di Institut Pertanian Bogor jurusan Agronomi pada tahun 1992. Kemudian meraih gelar doktor manajemen lahan gambut di Universitas Hokkaido, Jepang pada 2007. Suwido mendedikasiakn dirinya sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya sejak 1982. (Sel)

Komentar

SHARE