Rudal Korea Utara. Ilustrasi/Foto: Crop vi googel image
Rudal Korea Utara. Ilustrasi/Foto: Crop vi googel image

NUSANTARANEWS.CO – Isu nuklir Korea Utara membuat sejumlah warga Amerika Serikat dan Jepang panik. Penjualan bunker sebagai tempat persembunyian dilaporkan melonjak setelah warga mendengar Kim Jong-un akan meluncurkan rudal nuklirnya.

Melansir DailyStar, Selasa (24/4/2017), semenanjung Korea kini telah berada di ambang perang nuklir. Baik Korea Utara maupun AS sejauh ini masih belum kunjung juga menunjukkan tanda-tanda akan mengalah dalam pertikaian.

Korea Utara sendiri bahkan telah mengancam daratan AS menjadi abu. Sementara di sisi lain Trump juga didesak untuk segera memukul genderang perang di semenanjung Korea.

Warga Hawaii telah didesak untuk mendapatkan penampungan untuk melindungi diri dari nuklir Korea Utara. Kini, warga Jepang juga berbondong-bondong membeli bunker menghadapi potensi konflik di semenanjung Korea.

Oribe Seiki Seisakusho, yang menjual tempat penampungan dan membangunnya di bawah rumah-rumah penduduk, mengungkapkan telah menjual sejumlah bunker dan terjual habis dari pembersih udara untuk mencegah radiasi.

“Butuh waktu dan uang untuk membangun tempat berlindung. Tapi yang kita dengar akhir-akhir ini, dalam suasana tegang ini, mereka menginginkannya sekarang. Mereka meminta kami untuk segera datang dan memberi mereka perkiraan,” ujar direktur perusahaan Nobuko Oribe.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengungkapkan bahwa Korea Utara dapat memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal ke negara tersebut dengan gas saraf sarin. Para menteri Jepang juga telah mengajukan banding untuk mengembalikan program rudal negara tersebut, dan menghapus sebuah kesepakatan yang dibuat setelah Perang Dunia ke-2. Ini terjadi setelah tiga rudal Korea Utara yang ditujukan ke pangkalan militer AS di Laut Hapan.

Tempat penampungan Oribe bisa menampung hingga 13 orang dan menghabiskan biaya sekitar £250.000. Tempat penampungan itu dirancang untuk menahan ledakan sekuat bom nuklir kelas Hiroshima.

Pewarta: Eriec Dieda
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar