Agus Pramono atau Gus Pram (paling depan tanpa seragam militer)/Foto : Dok. nu.or.id
Agus Pramono atau Gus Pram (paling depan tanpa seragam militer)/Foto : Dok. nu.or.id

Oleh: Widya Priyahita Pudjibudojo

NUSANTARANEWS.CO – Kabar membanggakan menjelang akhir tahun 2016 hendak dibagi oleh Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatiul Ulama (NU) Federasi Rusia dan Negara-negara Eropa Utara (FREU). Terbentuk tanggal  5 November 2016, PCINU FREU merupakan fusi PCINU Federasi Rusia (FR) yang vakum sejak 2009 dan PCINU Nordic-Baltic (NB) yang mulai mengorganisasi diri sejak 2015.

PCINU NB sendiri memiliki cakupan wilayah yang cukup luas di utara Benua Biru, yakni meliputi Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Estonia. Kabar bahagia yang dimaksudkan di awal adalah keberhasilan seorang Nahdliyin mempertahankan disertasi di bidang teknologi militer. Dialah Agus Pramono.

Menjabat sebagai Rais Syuriyah PCINU FREU, Nahdliyin kelahiran Kediri tahun 1976 ini, berprofesi sebagai Dosen Tetap bidang Metalurgi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Ia biasa disapa Gus Pram. Pendidikan keislaman diperolehnya selama mondok di pesantren Salafiyah – Al Falach Gedangsewu Kediri dan pesantren tarekat, Al Ihsan Gedongsewu Kediri.

Sebelum hijrah ke luar kota, Gus Pram sempat pula menjabat sebagai Ketua Tanfidziah PCNU Kota Kediri masa kepengurusan 2001-2005. Uraian ini disampaikan untuk menunjukkan bahwa seorang alumni pesantren dengan porsi pendidikan keagamaan yang sangat dominan juga mampu merambah ke berbagai bidang termasuk eksak –bahkan juga teknologi militer. Gus Pram adalah bukti bahwa alumni pesantren mampu berkiprah di dunia internasional.

Sebelum mengambil program doktor, Gus Pram merampungkan studi masternya di Universitas Indonesia. Kemudian sejak 2012 hingga kini, Gus Pram memperdalam ilmunya di Faculty of Mechanical Engineering, Department of Materials Engineering, Tallinn University of Technology, Estonia. Di Indonesia, negara terbaik dalam hal penerapan E-Governance ini memang belum cukup populer sebagai tujuan studi. Namun tentu bukan berarti tidak menjanjikan. Hampir seluruh pelayanan publik dijalankan berbasis ‘elektronik dan teknologi informasi’ termasuk pemilihan umum. Tak ayal Estonia kerap disebut Silicon Valley-nya Eropa. The new European startup hub dan pusat pengendalian NATO’s cyber-security juga berdada di Estonia. Berdasarkan Programme  for International Student Assessment (PISA), Estonia menempati posisi terbaik di Eropa dan nomor 3 di dunia pada tahun 2016. Di samping itu, Estonia pun berjaya dalam sejumlah indeks global seperti kebebasan pers, ekonomi, demokrasi dan politik.

Di negara bekas anggota Uni Soviet itu, Gus Pram sukses mengembangkan metode Repetitive Press-Roll Forming (RPRF) yang mulai menjadi pembahasan di kalangan akademisi Eropa. Teknologi RPRF merupakan perangkat manufaktur yang menggabungkan multi-aksial pressing dengan gaya roll. Teknologi ini mampu menghasilkan kekuatan tinggi dengan berat jenis yang rendah.

Ditilik dari sejarahnya, teknologi kemiliteran  berkembang dari zaman revolusi industri. Di mulai dari teknologi penempaan yang dikembangkan oleh ilmuwan Russia Nikolav Lomonosov lalu dilanjutkan oleh banyak ilmuwan Rusia yang lain. Salah satunya Vladimir Segal yang telah menggabungkan dua gaya pada mesin hidrolik sekitar tahun 1980-an.

Eksperimen tersebut dikembangkan di Institute Minsk-Belarus. Metode ini bernama Equal Channel Angular Extrusion (ECAE). Satu dekade berikutnya, Ruslan Valiev mengembangkan Equal Channel Angular Pressing (ECAP). Secara proses teknologi ini merupakan revolusi teknologi yang telah menyempurnakan teknologi konvensional seperti proses tempa, rolling, ekstrusi maupun drawing.

Beberapa tahun belakangan pengembangan teknologi untuk aplikasi perangkat kemiliteran mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Beragam jenis metode baru telah dikembangkan. Salah satu yang penting Accumulative Roll Bonding (ARB) oleh ilmuwan Jepang Nobuhiro Tsuji.

Namun demikian, ARB memiliki titik celah. Untuk menghasilkan logam berkekuatan tinggi, proses ARB memerlukan pengulangan tekanan rolling sampai puluhan kali, bahkan untuk logam baja industri pengulangan bisa mencapai 18 kali. Inilah yang mendorong Gus Pram merevolusi semua aspek hidrolik menjadi lebih uniaksial agar menghasilkan tegangan yang terdistribusi secara merata. Sukses. Melalui metode yang RPRF yang ditemukan oleh Gus Pram tersebut, eventali tidak diperlukan lagi pengulangan untuk menghasilkan material berkekuatan tinggi dengan sifat ringan (nano-metals).

Aplikasi RPRF juga dapat digunakan di luar perangkat kemiliteran. Di Eropa, perusahaan seperti Metallicum telah mengkhususkan diri dalam logam berstruktur nano. Saat ini teridentifikasi lebih dari 100 pasar khusus untuk nano-metals dalam bidang aerospace, transportasi, peralatan medis, pengolahan produk olah raga, makanan dan bahan kimia serta bahan bahan piranti elektronik. Teknologi manufaktur terbaru ‘Severe Plastic Deformation’ dari perusahaan Metallicum memproduksi bahan berstruktur nano untuk aplikasi piston mesin, sistem sambungan, dan bahan implant. RPRF akan memberikan input yang produktif dalam industri ini.

Hasil Rancangan metode RPRF telah dipresentasikan di beberapa negara di kawasan Eropa dan Rusia, sejak tahun 2013, di antaranya: di Estonia, di Latvia, di Lithuania, di Helsinki-Finlandia (Januari’15), di Moscow-Rusia (Mei’15), serta di Stockholm-Swedia (Desember’15). Ke depan RPRF bersama dengan teknologi Severe Plastic Deformation atau dalam kalangan industri lebih dikenal dengan istilah advanced metal forming, Reversed shear spinning (RSS) dari German, Metode Accumulative Press Bonding (APB) dari Inggris, dan Accumulative Continuous Extrusion (ACE) akan diaplikasikan oleh Russia dan negara-negara Eropa anggota NATO dalam perangkat ALUTSISTA yang mulai diproduksi pada pertengahan tahun 2017.

Hingga saat ini beberapa ilmuwan tertarik mengundang Gus Pram untuk melakukan eksperimen lanjutan serta mempatenkan hasil penemuannya. Dua yang paling intensif melakukan penjajakan adalah Prof. Reinhard Pippan dari Austria Institute of Material Science dan Prof. Terence Langdon dari Centre for Bulk Nanostructured Materials Inggris.  Yang membanggakan, ke semua hal itu dapat diraih bahkan sebelum program doktoral dituntaskan Gus Pram. Pada penghujung 2016, ikhtiar Gus Pram akhirnya dapat terbayar lengkap. Tak hanya pengakuan dari dunia internasional, PRSF juga berhasil mengantarkannya meraih gelar pendidikan di jenjang tertinggi.

Sidang akhir disertasi diselenggarakan pada tanggal 21 Desember 2016. Sidang dihadiri oleh 5 orang Profesor  yang bertindak sebagai Komite Penguji. Dua orang di antaranya berasal dari luar. Sedangkan verifikasi dilakukan oleh Profesor dari Slovakia. Sidang terbuka ini berjalan alot dari pukul 14.00 waktu setempat hingga pukul 18.00. Senyum tawa membuncah saat disertasi diterima. Gus Pram berhasil meraih nilai optimal. Ada dua tanggapan umum yang disampaikan oleh Tim Verifikasi: 1) Metode RPRF terbukti menyempurnakan metode-metode terdahulu, serta 2) RPRF membawa pembaharuan teori tentang interdifusi antara logam dengan keramik.

Selama di Estonia, selain tholabul ilmi, Gus Pram juga aktif berdawah. Setidaknya hingga sekarang sudah memuallafkan 2 orang mahasiswa doktor dan mendampingi seorang professor yang tertarik mempelajari dan masuk Islam. Akhir kata, PCINU FREU dengan ucap syukur dan bersuka hati menyampaikan selamat kepada Gus Pram sekeluarga. Semoga ilmu yang dipelajari semakin produktif, manfaat, dan barokah. Semoga cerita ini dapat memotivasi kita semua, khususnya Warga Nahdliyin, untuk mengembangkan dakwah melalui jalur keilmuan di berbagai kehidupan. Selamat tahun baru masehi 2017, selamat memulai aktivitas jihad keilmuan yang baru.[Sumber Utama]

*Widya Priyahita Pudjibudojo, Ketua Tanfidziyah PCINU FREU, Mahasiswa Global Public Policy, Russian Presidential Academy (RANEPA)

Komentar