NU Hadapi Tantangan Zaman

0
Kaderisasi GP Ansor dan Banser Lampung/Foto Dok Satkorwil Banser Lampung/Nusantaranews
Kaderisasi GP Ansor dan Banser Lampung/Foto Dok Satkorwil Banser Lampung/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Bandar Lampung – Puluhan tahun silam, Nahdlatul Ulama (NU) beserta badan otonomnya seperti GP Ansor yang mengelola pasukan khusus Barisan Ansor Serbaguna (Banser) telah melawan neo liberalisme dan neo kapitalisme.

“Bahkan sebelum berdirinya NU pada 1926, ulama-ulama kami telah berbuat dan berkarya nyata mengajak masyarakat untuk memiliki ilmu tauhid, mengunakan akal dengan mendirikan pesantren-pesantren hingga mendorong kemandirian masyarakat,” ujar Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Banser Kecamatan Tanjung Karang Barat, Heru Zuliyanto, di Bandar Lampung, Senin (17/4).

Kiprah nyata itu, lanjut dia, telah menjadi sejarah jelas. Bukan sekedar kecemasan berlebihan neo liberalisme akan membuat politik hanya sebagai alat perpanjangan dalam perluasan pasar di Indonesia dan menyulap manusia menjadi mahkluk ekonomi semata.

“Silakan buka sejarah.  Tiga cikal bakal NU, Nahdlatul Wathan (1914) berorientasi pada kebangkitan berbangsa dan bernegara yang merdeka, bebas dari pengaruh penjajahan. Tashwirul Afkar (1918) berorientasi pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, lalu Nahdlatut Tujjar (1918) berorientasi pada pengembangan ekonomi ummat. NU selalu menjadi solusi bagi Indonesia. Dari politik hingga ekonomi,” papar Heru.

Baitul Maal wa Tamwil (BMT) Artha Buana Metro (ABM) di Kelurahan Purwosari Kecamatan Metro Utara yang dimiliki Pimpinan Cabang NU Kota Metro, imbuh Heru, adalah contoh nyata bagaimana NU menjadi solusi terhadap persoalan ekonomi. BMT merupakan lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dan kecil, dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin.

Sejak berdiri empat tahun lalu, ABM telah mempunyai dua cabang, di Metro Barat dan Kabupaten Pringsewu. Asetnya saat ini sekitar Rp13 miliar. (Erli Badra)

Editor: Romandhon

Komentar