Seks

Nikmatnya Mengakhiri Sahur Dengan Jima’

Ilustrasi pasangan suami istri islami bermesraan di balik kelambu ranjang/Foto: fakta.co.id

Ilustrasi pasangan suami istri islami bermesraan di balik kelambu ranjang/Foto: fakta.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Saat berpuasa di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk menahan semua nafsu. Tentu saja tidak sekadar menahan dari dari makan dan minum, tapi juga nafsu syahwat.

Namun demikian, bagaimana bila ada pasangan pasutri yang terdorong nafsu syahwatnya?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) berpendapat, bersetubuh bagi pasangan suami istri saat bulan Ramadhan tidak masalah. Bahkan tidak masalah walaupu berjima’ saat mendekati waktu sahur usai.

“Atau malah, jelasnya sahurnya ‘begituan’ sama istri, itu boleh, halal, selagi belum imsak,” ujar Wakil Sekjen MUI Sholahudin Al Aiyub kepada Nusantaranews.co, di kantornya, Jakarta, Selasa (14/6).

Saat waktu sahur usai, dan kedua suami istri tersebut belum mandi besar, Aiyub mengatakan puasanya tetap sah. Hanya saja, ia harus mandi Junub (mandi besar) sebelum Sholat Subuh.

Lalu bagaimana jika hanya berciuman setelah Shalat Subuh? Al Aiyub hal itu masih diperbolehkan, namun dengan catatan orang tersebut bisa menahan syahwatnya atau tidak mengeluarkan sperma. Berciuman dalam batas kening, pipi, dan tangan.

Bahkan, kata Aiyub, Rosulullah Muhammad SAW pernah melakukannya. Namun, ia bisa menjaga nafsunya.

“Hukumnya makruh, ini sama seperti menggembalakan ternak disamping kebun, maksudnya ternak tidak boleh makan tambahan di kebun, tapi ini sangat sulit,” tandasnya. (Achmad)

Komentar

To Top