Jam Kerja Terpendek di beberapa negara ini. Foto: Trentech.id
Jam Kerja Terpendek di beberapa negara ini. Foto: Trentech.id

NUSANTARANEWS.CO – Jam kerja yang panjang terkadang memberikan tekanan tersendiri terhadap para pekerja. Di negara kita, rata-rata kita dituntut bekerja selama delapan jam perhari. Namun, pernahkan anda bermimpi bekerja dengan waktu yang lebih sedikit tetapi lebih produktif?

Jam kerja panjang mungkin dipandang baik untuk sebagian perusahaan. Namun, tahukah kita bahwa tubuh manusia memiliki daya kerja dan konsentrasi yang terbatas. Jadi jam kerja yang panjang sejatinya tidak menawarkan produktivitas yang baik bagi para pekerjanya. Selain itu jam kerja panjang membuat para pekerja tidak sepenuhnya bersemangat dan tetap dalam kondisi fisik yang bugar pada beberapa jam terakhir pekerjaannya.

Alasan tersebutlah yang mendasari bahwa jam kerja yang terlalu panjang tidak menawarkan produktivitas yang penuh dari pekerja. Selain itu, para pekerja juga tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri di luar tempat kerjanya.

Beberapa negara telah menerapkan jam kerja pendek dengan produktivitas yang tetap baik.

Swedia

Di Swedia, para pekerja baik dari instansi pemerintah, rumah sakit negara sampai perusahaan-perusahaan swasta mengurangi jam kerja dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan membuat para pekerja lebih bahagia.

Dengan jam kerja pendek, maka akan lebih banyak lagi membuka peluang mengyerap pekerja sehingga jumlah pengangguran dapat diatasi negara. Sistem jam kerja pendek ini juga tidak menyebabkan kemakmuran menurun, Swedia terbukti mampu berada di deretan ke-9 negara-negara paling kompetitif pada tahun 2015.

World Economic Forum menilai bahwa Swedia memiliki nilai yang tinggi dalam hubungan para pekerjanya. Selain itu para pekerja dengan jam yang tidak terlalu panjang di negara ini, para pekerja secara lebih efisien dan maksimal menggunakan talenta mereka karena jam kerja yang tidak menimbulkan stres hanya dengan waktu sekitar 4 jam 40 menit per hari.

Jerman

Tahun 2014, sebuah penelitian OECD menemukan bahwa Jerman adalah negara dengan jam kerja terpendek di Dunia setiap minggunya. Jumlah jam kerja pendek yang di terapkan Jerman juga dikatakan sama sekali tidak membahayakan produktivitas negara. Negara tersebut tetap menjadi negara paling kompetitif keempat di Dunia, pada tahun 2015-2016 menurut data Global Competitiveness Forum.

Para pekerja di Jerman hanya memiliki jam kerja kurang lebih 4 jam setiap harinya. Data yang kami himpun dari World Economic Forum, jumlah jam kerja di Jerman pada tahun 2013 hanya 1.363 jam sepanjang tahun.

Perancis

Perancis juga tidak ketinggalan dalam penerapan jam kerja yang pendek bagi karyawannya terutama di kota Paris. Paris menerapkan waktu kerja hanya 5 hari dalam satu minggu dengan jumlah jam kerja per minggunya adalah 30 jam 50 Menit. Ini artinya Paris memiliki jam kerja sebanyak 6 jam 10 menit setiap hari kerjanya dengan dua hari libur.

Sementara secara keseluruhan, Perancis memiliki jam kerja 1.489 tercatat pada tahun 2013. Hal ini berarti bahwa dalam sehari rata-rata jam kerja di negara tersebut hanya sekitar 4 jam 15 menit.

Denmark

Jam kerja di negara ini juga sangat singkat yaitu hanya menuntut para pekerja untuk bekerja selama kurang lebih 4 jam dalam satu hari. Hal ini diambil dari data WEF pada tahun 2013 yang menunjukkan angka 1.438 jam kerja sepanjang tahin 2013.

Nah, negara-negara di atas adalah beberapa contoh negara dengan jam kerja terpendek. Beberapa negara lainnya juga memiliki jam kerja yang sama seperti Belanda, Norwegia, Slovenia, Belgia, Swiss, dan Austria. Negara-negara tersebut memiliki kisaran jam kerja rata-rata antara 4 hingga 6 jam dengan tawaran produktivitas karyawan yang lebih tinggi dan kebahagiaan para pekerja yang lebih terjamin.

Jadi, apakah sistem jam kerja pendek sebagaimana yang diterapkan di beberapa negara di atas dapat pula di terapkan di Indonesia? Apakah menurut anda ini akan cocok, lebih efektif dan efisien? Satu yang mungkin harus kita garis bawahi adalah dengan jam kerja yang lebih pendek maka akan lebih memungkinkan untuk perusahaan merekrut lebih banyak pekerja sehingga sangat mungkin dapat mengurangi jumlah pengangguran di negara ini.

Penulis: Riskiana
Editor: Sulaiman

Komentar