Simpatisan Ahok Hina Jokowi/Ilustrasi/Nusantaranews
Simpatisan Ahok Hina Jokowi/Ilustrasi/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Kekalahan terkadang membawa duka yang teramat sulit untuk dihapuskan dari ingatan kolektif. Tak jarang, sekedar untuk ‘move’ butuh waktu yang tak singkat. Kenyataan atas hasil Pilkada DKI Jakarta dan vonis dua tahun penjara bagaimanapun tetaplah hal yang sulit untuk diterima. Namun sepahit apapun kenyataan itu, kita harus tetap sadar bahwa inilah dinamika politik. Kalah menang itu biasa.

Sebab kemarahan hanya akan menggiring kita menjadi manusia yang menanggalkan akal sehat. Sehinga berbagai tudingan mencuat. Mulai dari menyebut keadilan mati sampai menuding rezim Presiden Jokowi lebih buruk dari rezim SBY.

Pada kondisi demikian ini, sesungguhnya ujian berat bagi para elit politik. Baik yang mendukung maupun yang kontra, khususnya bagi para simpatisan yang menjadi tumbal politik. Karenanya, dibutuhkan kejernihan berpikir dan kedewasaan dalam bertindak demi kepentingan negara dan bangsa.

Sumpah serapah, caci maki dan berbagai umpatan provokasi yang mencuat harus tetap dihadapi dengan akal sehat. Mencari-cari kambing hitam atas situasi politik, bukanlah solusi untuk mengentaskan masalah bangsa ini.

Lagi-lagi, menejemen politik dalam menerima kekalahan harus dikedepankan. Sehingga berbagai tudingan terhadap rival politik tidak menjadi sebuah banalitas. Ironisnya, realitas berbanding terbalik, dimana tudingan terhadap pihak kontra dengan menyebut intoleran, anti kebhinekaan, anti NKRI dan anti Pancasila menyesaki dinding media sosial. Dan semakin memperuncing kegaduhan bangsa.

Dalam realitas politik, kekalahan merupakan hal yang lazim terjadi. Akal sehat dan kejernihan berpikir serta bertindak musti dikedepankan. Sebab manusia tanpa akal sehat hanya akan menjadi makhluk buas dan bar-bar. Dengan kata lain, sportifitas dan sikap legowo menerima kekalahan mestinya menjadi lokomotif dalam berpolitik.

Sekalipun inti dari politik adalah berebut kemenangan, namun bukan berarti kita harus menanggalkan etika dan sopan santun. Fenomena politik tak terima atas kekalahan pilkada belakangan ini bagaimanapun mencoreng batas-batas kewajaran. Karena menerabas etika dan norma hukum. Bahkan akibat situasi itu, tercium indikasi sekolompok pendukung yang ingin ‘makar’.

Bukankah semuanya sudah dijalankan sesuai perundang-undangan dan aturan hukum yang berlaku? Nah inilah tugas kita untuk mengedepankan akal sehat. Pilkada telah usai dan sesakit apapun itu, kekalahan harus diterima dengan keluasan hati. Sekalipun berat. Ini proses pendewasaan berpolitik, khususnya bagi para simpatisan politik yang taklid buta.

Sikap arogansi beberapa kelompok yang belakang ini menggaduhkan publik tanah air seakan menegaskan bahwa sengaja negara tengah diobok-obok. Bahkan presiden Jokowi pun seakan tak memiliki marwah dihadapan kelompok yang tengah kalap tersebut.

Membiarkan mereka sama halnya membiarkan negara diobok-obok, lantas siapa yang senang atas situasi demikian? Itulah sebabnya penting kiranya untuk mengoreksi atas fenomena yang belakangan terus menggerus keutuhan NKRI.

*Birru Ramadhan, Pemerhati Sosial Politik tinggal di Jakarta

Komentar