Lokasi sumber migas terbesar di Natuna, Indonesia/Ilustrasi Nusantaranews
Lokasi sumber migas terbesar di Natuna, Indonesia/Ilustrasi Nusantaranews
Lokasi sumber migas terbesar di Natuna, Indonesia/Ilustrasi Nusantaranews
Lokasi sumber migas terbesar di Natuna, Indonesia/Ilustrasi Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Natuna terus bergolak pasca penangkapan Han Tan Cou bernomor 19038 berbendera China oleh KRI Imam Bonjol-383 yang dikomandoi Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar), Jumat (17/6) bulan. Kekuatan keamanan di perairan Natuna pun diperketat. Tidak tanggung-tanggung, saking pentingnya Natuna bagi Indonesia, Presiden Joko Widodo hadir ke Natuna untuk menggelar rapat terbatas langsung di atas KRI anti kapal tersebut pada Kamis (23/6) sepekan kemudian.

(Baca juga: Tiongkok Ancam Pulau Natuna, DPR Setujui Pembangunan Pangkalan Militer)

Setelah China, Malyasia juga mencoba memasuki wilayah perairan Natuna dengan militer Malaysia jenis Hercules C-130, Sabtu (25/06) dua hari setelah Jokowi gelar rapat terbatas. Namun dua pesawat tempur F-16 milik TNI-AU RI berhasil mengusirnya. Sempat menjadi polemik perihal pengusiran pesawat militer Malaysia tersebut. Persoalan akhirnya reda setelah menteri pertahanan menyampaikan permintaan maaf kepada Menteri Pertahanan RI.

(Lihat : Tidak Hanya China, Malaysia pun Recoki Natuna | Coba-coba Mengudara di Atas Natuna, Malaysia Akhirnya Minta Maaf!)

Pasalnya, Natuna menjadi wilayah terincar negeri-negeri asing, karena Natuna merupakan kekuatan sumber migas Asia. Hal tersebut dipertegas oleh Tenaga Ahli Bidang Migas Kemenko Kemaritiman, Haposan Napitupulu. Dimana pihaknya mengatakan bahwa potensi migas di perairan Natuna dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan sumber pendapatan bagi Indonesia. Informasi berharga ini disampaikannya di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Senin (18/7/2016).

(Baca juga: Baru Tahu Jadi Pusat Perhatian Dunia, Akhirnya Jokowi Bicara Kedaulatan di Pulau Natuna)

“Gas D alpha di Natuna merupakan cadangan migas terbesar yang pernah ditemukan selama sepanjang sejarah permigasan di Indonesia 130 tahun. Cadangannya itu 222 triliun TFC,” ungkapnya.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa cadangan gas yang melimpah tersebut, kata Haposan Napitupulu, tidak dibarengi dengan aspek komersil yaitu gas yang bisa dieksplorasi untuk saat ini. Akibatnya adalah meningkatnya kandungan CO2 yang mencapai 72% di dalamnya. Akhirnya, para calon investor mengurungkan niatnya dan/atau kurang berminat untuk ‘menggali’ blok migas di Natuna. Sebab yang baru bisa dikomersilkan menjadi gas metana dan lain sebagainya, imbuhnya, hanya sekitar 46 TFC belaka.

Haposan pun menilai bahwa pengembangan di wilayah perairan Natuna, sebenarnya akan menjadi peringatan tersendiri bagi negara lain, termasuk China yang selama ini melakukan klaim terhadap perairan Natuna.

“Seandainya kita kembangkan maka akan ada kesibukan. Akan ada pergerakan pengembangan ekonomi di wilayah tersebut. Maka eksistensi Indonesia akan jelas di situ,” jelasnya.

Lebih lanjut, Haposan mengatakan harga minyak yang saat ini terjun bebas pun menjadikan nilai ekonomis blok D Alpha ini kurang menarik untuk dikembangkan. Sehingga pengembangan Blok Natuna oleh beberapa konsorsium seperti PT Pertamina masih perlu melakukan studi mencari cara paling tepat dan ekonomis untuk mengembangkannya.

“Pemerintah harus duduk dengan Pertamina agar lapangan ini bisa dikembangkan. Insentif-insentif apa yang bisa diberikan sehingga bisa ekonomis lagi. Migas ini biasanya jadi ujung tombak, karena biasanya kan kita bekerja sama dengan big player dari negara besar. Mengerjakan ribuan orang dan budget-nya cukup besar. Hanya migas yang melakukan demikian di Natuna,” pungkasnya. (Sule)

Baca juga:

Rencana Pembangunan Pangkalan Militer di Natuna Sudah Tepat
Indonesia Harus Waspadai Klaim China di Natuna
AS Ingin Bantu Indonesia Jaga Kedaulatan Kepulauan Natuna
Pemerintah Sudah Mulai Perhatikan Kepulauan Natuna
Pengamat: Pangkalan Militer Natuna Dapat Memberi Efek Gentar Kepada Negara Lain
Natuna Diakui Sebagai Kawasan Tempat Kapal Asing Mencuri Ikan
KRI Anti Kapal Selam Terus Awasi Perairan Natuna

Komentar