Connect
To Top

Nasib Kritik Puisi Indonesia Bagaimana? Kritukus Muda Narudin Menjawab

NUSANTARANEWS.CO – Apakah puisi senantiasa membutuhkan kritik? Ada sebuah anggapan sederhana, ketika puisi lahir, ia lahir dari soerang ibu yakni si penyair. Selanjutnya puisi itu sebagai anak akan besar oleh tempaan seorang ayah yakni kritikus.

Di Indonesia, dalam banyak komunitas, ketika puisi lahir apalagi sudah terbit menjadi buku, peristiwa kebudayaan dalam kemasan diskusi yang populer dengan sebutan bedah karya dilakukan. Posisi si penyair awalnya mendengarkan sekian komentar dari seorang pembedah, pembanding, pemantik, atau sebut saja kritikus. Selanjutnya, di akhir si penyair akan mempertanggungjawabkan karyanya, kendati hanya dengan menceritakan proses kreatif.

Demikian lumrahnya. Namun, persoalan muncul dalam hampir setiap diskusi sastra, yakni minimnya kritikus sastra di Indonesia. Sehingga hal itu dianggap sebagai salah faktor dari ketidakberdayaan sastra Indonesia dalam menentukan arahnya sejak pasca masa reformasi.

Terkait dengan kritik, seorang kritikus muda Narudin Pituin menyatakan bahwa, kritik puisi sejak zaman H.B. Jassin bersifat impresionistik (hanya berpusat pada hal-hal pokok saja). Atau pendek kata, mengambil pokok tertentu sesuai kesan pandangan pertama untuk ditelaah selayang pandang (secara garis besar saja). Kritik H.B. Jassin dikutuk oleh A. Teeuw sebagai “pena Jassin mulai tumpul“.

“Di lain pihak, Teeuw sendiri berkutat pada masalah sintaksis yang lebih banyak daripada beraksi pada wilayah semantik dengan dalih ‘semiotika’ atau ‘Tergantung pada Kata‘, demikianlah judul buku kritik puisi Teeuw (1980-an),” terang Narudin dalam catatannya seperti dikutip nusantaranews, Minggu (8/1/2017).

Narudin menyampaikan, Kehadiran buku kritik puisi Hartoyo Andangjaya, Dari Sunyi ke Bunyi (1991), Subagio Sastrowardoyo, Sosok Pribadi dalam Sajak (1997), Sapardi Djoko Damono, Sihir Rendra: Permainan Makna (1999), dan beberapa lagi, termasuk Sutardji Calzoum Bachri, Isyarat (2007) merupakan ciri kritik puisi impresionistik, dengan pencapaian memukau buku kritik puisi Sapardi.

“Kemudian hadir pula buku kritik puisi alternatif bergaya modern ala Goenawan Mohamad, Puisi dan Anti-Puisi (2011). Terlampau asyik dengan referensi dan deskripsi historis,” imbuh pria yang multitalenta itu.

Tapi, lanjut Narudin, ada satu buku Pengkajian Puisi (1987/2014) karya Rachmat Djoko Pradopo yang menawarkan metode kritik puisi Semiotika, meneruskan kiprah kritik puisi ala A. Teeuw agar lebih sistematis. Buku pengkajian puisi itu dapat disebut buku studi puisi tahap lanjut bila kita telah membaca buku dasar berpuisi Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi (1987).

“Pesan saya, seperti dikeluhkan oleh Pradopo tempo hari, kita harus mengembalikan kritik puisi pada metode literer, bukan berupa kritik yang bersifat absolutisme, dan relativisme,” pesan penerjemah yang juga menulis cerpen itu.

Mengakhiri catatannya, Narudin mengungkapkan bahwa dirinya sudah mempersiapkan materinya untuk menerbitkan buku kritik puisi. Menurut keterangan dia, buku tersebut menggunakan pendekatan metode literer yang kontemporer untuk menjawab semua tantangan kritik puisi di zaman ini. “Semoga buku kritik puisi saya nanti dapat membantu meningkatkan mutu puisi di tanah air, dan seluruhnya,” tandas Narudin. (sule/red-02)

Komentar