(Ilustrasi) Steven Hadisurya Sulistyo/Foto Crop Istimewa/Nusantaranews
(Ilustrasi) Steven Hadisurya Sulistyo/Foto Crop Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta “Dasar Indo…” “Dasar Indonesia…” “Dasar Pribumi…” “Tiko!!!” Sederet umpatan kasar yang menyasar kepada Gubernur NTB Tuan Guru Muhammad Zainul Majdi oleh seorang pemuda bernama Steven Hadisurya Sulistyo ini menggugah seorang pengacara Jansen Sitindaon untuk ikut angkat bicara.

Menurut Jansen Sitindoan dalam tulisannya berjudul Tuan Guru Yang Pemaaf dan Sakitnya Jadi Pribumi, ia menilai sekalipun sangat ritmik, namun kata-kata di atas bukanlah puisi. Ataupun sajak yang dikutip dari potongan karya seorang sastrawan. Jansen menegaskan bahwa itu adalah kata-kata kotor yang keluar dari mulut seorang Steven Hadisurya Sulistyo. Menurutnya efek umpatan kasar itu membuat ruang publik menjadi gaduh.

Mungkin di bandara Changi, Minggu 9 April 2017 yang lalu, Steven sedang kerasukan singa, akibat mungkin pengaruh sedang berada di “negeri singa”, Singapura ini. Sehingga terlontarlah kata-katanya tersebut. Atau bisa juga. Dalam kehidupan sehari-harinya, Steven memang telah terbiasa melontarkan kata-kata tersebut. Namun selama ini baik-baik saja. Tidak ada masalah. Karena yang menerima lontaran tidak berdaya untuk mempersoalkannya.

Lain cerita, peristiwa di Changi menurut Jansen membuat Steven akhirnya kena batunya. Dan yang jadi “batunya” kali inipun tidak main-main. Betul-betul batu besar. “Kalau biasanya yang menerima lontaran kalimatnya ini mungkin pembantunya di rumah. Atau orang yang bekerja di perusahaan milik keluarganya. Yang beratus kalipun kalimat itu dia lontarkan. Karena keadaan, akan diam saja. Tidak berdaya untuk melawan. Kali ini situasinya berbeda,” tulis Jansen.

“Kalimat yang tidak pantas itu dia “semburkan” ke wajah Gubernur NTB, yang juga pemimpin Organisasi Islam besar di Indonesia, Nahdatul Wathan. Kita tahu bahwa Gubernur NTB dalam kesehariannya memang sangat low profile. Sederhana. Jangankah Steven, kita yang sering melihatnya di ruang publikpun, kadang sering tidak sadar kalau beliau ini adalah seorang Gubernur,” sambung dia.

Dimata Jansesn, kesederhanaan Gubernur NTB inilah yang membuat Steven akhirnya kena batunya. Akibat tidak menyadari sosok dihadapannya dan menganggapnya seperti pegawai di rumahnya (mungkin). Karena naik pesawat jenis low cost seperti orang Indonesia pada umumnya, terlontarlah kata-kata dari mulut Steven yang memantik bara di atas. Kemudian terekspos, menjalar, membangkitkan ketersinggungan, dan akhirnya membuat panas ruang publik.

Jansen menambahkan, dengan usianya masih tergolong muda (1991) menarik sebenarnya untuk mengetahui, darimana kira-kira Steven Hadisurya ini “belajar” kata-kata berbau tuduhan rasial tersebut. Apa juga yang menyebabkan dia begitu bencinya kepada pribumi? Begitu bencinya kepada Indonesia?

Padahal ditelisik surat pernyataan maaf yang dibuatnya sendiri, tertulis, Steven ini ternyata juga berkewarganegaraan Indonesia. Bukan warganegara asing. Dan tinggalnyapun (sesuai foto KTP miliknya yang tersebar) juga di Kedoya, Jakarta Barat, yang sampai saat ini “masih” masuk wilayah Indonesia.

“Mungkin, karena pernah sekolah di luar negeri saja, sehingga ada sedikit bagian dirinya yang berbau luar negeri. Selebihnya, semuanya Indonesia,” ujar Jansen.

Namun lanjut Jansen, dengan keluarnya ucapan; “dasar Indonesia” dari mulutnya yang berkonotasi negatif. Maka tidak salah kemudian publik berasumsi dan bertanya-tanya. “Jangan-jangan Steven ini dan banyak “warga keturunan” lainnya memang tidak merasa sebagai orang Indonesia? Apalagi merasa sebagai pribumi? Inilah sesungguhnya pertanyaan pokok dari kejadian ini, yang terlebih dahulu harus dijawab. Dan ditemukan jawabannya,” terangnya.

Pewarta/Editor: Romandhon

Komentar