Connect
To Top

Narasi Pelik Pada Sebuah Mata – Puisi Jusiman Dessirua

Membaca mata

1.
00;00
Jalan lengang
tak ada yang tersisa dari tembok-tembok  tua ini
kecuali dingin dan jerit kisah yang menjaga denyut kesedihan lampu taman.
Air mata tergeletak di jalan-jalan kota, tempat-tempat ibadah, kuburan-kuburan Tua, menggenang jadi puisi
selalu membuat kita menjadi lebih dekat dengan apapun, denga siapapun.

2.
Akhir-akhir ini seseorang dikotamu begitu rajin menulis perihal tentang sepi,
sembari mencari-cari simpulan yang akurat tuk merangkumi hidup.
Tetapi dengan sigap memahmi tak ada pohon yang mampu menampung  apapun,
Apalagi merengkuh sajak sederhana
yang menuntun kata-kata menyentuh ketabahan seorang perempuan yang ditanggalkan lelaki dalam kembara kesekiannya
seperti Sarah sesembahan kepada Tuhan.

3.
Bagaimana hidup tanpa matahari.
Arah mata angin yang kita sambangi tiap pagi

4.
Pertemuan adalah perpisahan yang niscaya
cinta dan keteguhan hanyalah keyakinan-keyakinan yang selalu berhianat.
Cahaya yag datang bertamu di matamu, agar kau lupa waspada
terhadap perangkap yang tiba-tiba saja menyergap.

5.
Ah, sudahlah,  jika mungkin  nafas dan kesalahan hanyalah kutukan yang datang dari yang tak kita kenal,
ketakberdayaan  apa yang musti  kita lakukan selain menerima dan merayakan.
Sebab hanya jika hari telah malam kita bertualang
sebab hanya jika hujan datang kita berangkat.

27-11-2016

Narasi pelik

1.
Malam ini dapat kutulis baris-baris paling pelik
semisal hujan menyergap,
kopi sekarat
Aku yang pengap harap mengecup mimpinya yang terendap.

2.
Di lenganmu ada kota-kota asing yang menjadikan Tuhan sebagai sebuah kebohongan
seperti mesin scanner yang lupa dimatikan.

3.
Yah ada yang tengah membuat kota  tanpa sejarah,
Arsiteknya hanya mampu dimengerti rute, yang dibangun oleh kecupan dan pelukan.

4.
Malam ini aku ingin menulis baris-baris paling pelik
Sambil menunggu pagi dengan kekurangan-kekurangan yang cukup
serta kelebihan-kelebihan yang tak pernah menjangkau apapun.
Kecuali terminal, kuci, atau tisu bekas

5.
seperti maut yang tak pernah memberi jawaban atas kemungkina-kemungkinan
mengembra dibawah hujan tanpa ada kisah di tubuhnya.
Seperti violet yang bermimpi jadi ikan di aquarium walikota
penuh harap memberi sambutan hangat atau sepatah kata yang ceriah.

5.
Malam ini dapat kutulis baris-baris paling pelik,
ah sudahlah
apa yang paling pelik dari puisi yang tak pernah selesai dituliskan,
seperti puisiku  ini yang tersesat di posko pengungsian
sebab di seberang jalan ada kegaduhan,
seorang lelaki melankoli tengah terlibat perkelahian dengan kesepiannya.

10-15-16
Sambil berharap pagi tak terbit atau terlambat sedetik lebih lama

Pada sebuah mata

1.
Telah kutemukan diriku menjelma batu
Beserta debar yang perlahan hangus
di sepasang mata ayahku
begitu bara sungguh

2.
Telah kutemukan diriku lesap
Seperti secangkir kopi yang sesap
di mata seorang anak lugu yang lupa cara mengenakan sepatu
di sebuah taman yang haru dan membisu

3.
Telah kutemukan diriku semakin dungu di matamu
menyimpan isyarat malu-malu
Tanda cintamu jatuh terlalu jauh
4.
Telah kutemukan puisi dengan segala khusyuk yang paling rusuh
Kata-kata yang berlarian tak menentu
di sepasang mataku yang separuh terkatup
pada sebuah shubuh yang terlampau beku
di kota yang tak menyisakan apa-apa
Selain gagal yang gagap dan gagu

 

Jusiman Dessirua

Jusiman Dessirua

*Andi jusiman biasa dipanggil Jusiman Dessirua, lahir di sebuah kampung kecil bernama kajang, kabupaten  Bulukumba, nama fb Jusiman Dessirua, studi strata satu di Universitas Negeri Makassar. Aktif dalam lembaga kemahasiswaan Bestra. Suka berlama lama dengan kopi dan beberapa buku. Bukunya yang pernah terbit, Bias Cinta di Langit Kajang, tergabung dalam antologi event cipta, juara satu dalam antologi event cipta puisi nasional Untuk Indonesia, penerbit Nahima Press, juara satu dalam antologi event cipta puisi nasional penerbit Stepa Pustaka, tergabung dalam undangan penyusunan buku sastra ‘Membaca Indonesia’ penerbit Bebuku Publisher. puisi-puisinya juga sering dibacakan pada acara kesenian internal kampus. [email protected]

Komentar