Pesona Jembatan Cincin, Jatinangor. Foto panoramio
Pesona Jembatan Cincin, Jatinangor. Foto Dok. panoramio

NUSANTARANEWS.CO – Tiga setengah abad lamanya imperialisme menjajah Indonesia. Selama kurun waktu yang begitu panjang itu, Belanda telah banyak meninggalkan berbagai situs-situs bangunan bersejarah.

Kali ini redaksi traveller Nusantaranews.co akan mengajak pembaca untuk menyusuri napak tilas Jembatan Cincin peninggalan Belanda di Desa, Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumendang. Secara historis, jembatan yang memiliki usia ratusan tahun itu dulunya merupakan jalur kereta api pada masanya.

Kekhasan dari situs ini tampak pada kemegahan gaya arsitektur Eropa tempu dulu. Disebut sebagai Jembatan Cincin karena lengkungan-lengkungan yang ada menyerupai lingkaran cincin. Sekalipun tidak tidak melingkar layaknya cincin beneran.

Jempatan cincin tempo dulu
Jempatan cincin tempo dulu

Berdasarkan usianya, situs peninggalan kaum penjajah mulai berdiri sejak tahun 1918. Namun baru pada tahun 1942, bangunan ini resmi bisa digunakan. Itu artinya proses pembangunan Jembatan Cincin ini memakan waktu yang sangat lama.

Wajar jika kemudian tempat ini begitu istimewa. Mega proyek pembangunan Jembatan Cincin itu diprakarsai oleh Staat Spoorwagen Venenidge Spoorwegbedrijf. Yang mana itu merupakan nama perusahan kereta api milik Belanda.

Tujuan pembangunan itu sendiri untuk memudahkan pengiriman barang seperti karet dan akses ekonomi yang menghubungkan daerah Rancaekek dan Tanjungsari. Sepanjang daratan Jawa saat itu juga sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan rel kereta api. (Adhon/Red-01)

Komentar