Zastrow El Ngatawi/Foto Croup/Nusantaranews
Zastrow El Ngatawi/Foto Croup/Nusantaranews

Oleh: Al-Zastrouw*

NUSANTARANEWS.CO – Sekumpulan kera sedang berebut memegang sebongkah batu intan permata yang indah berkilau. Mereka menimang sambil membolak balik bongkahan batu tersebut, kemudian melemparkannya kepada yang lain.

Sebagian mereka kembali memungut batu yang terlihat mengkilat itu. Dipandanginya sambil memicingkan mata karena silau oleh kilatan cahaya yang memantul. Kera-kera itu makin penasaran, kemudian batu itu didekap dan dijilati. Tak ada rasa manis bahkan rasanya hambar cenderung pahit. Karena tak ada rasa manis, mereka kembali melempar bongkahan batu intan itu.

Lemparan itu mengenai kera yang lain. Karena penasaran, kera yang terkena lemparan itu memungut batu intan dan menggitnya kuat-kuat. Batu itu terlalu keras sehingga giginya tanggal. Sang kera marah kemudian membanting dan menginjak-injak batu intan terrsebut.

Entah siapa yang memulai tiba-tiba kerumunan kera itu saling lempar memggunakan bongkahan batu hitam berkilau yang sebenarnya batu intan permata. Tiba-tiba datang seseorang melihat kejadian ini. Dia tahu bongkahan batu hitam berkilau yang dilempar-lempar oleh gerombolan kera adalah batu intan.

Melihat kejadian ini, orang tersebut melempar beberapa butir pisang di tengah kerumunam kera yang sedang saling lempar bongkahan batu. Kera-kera itu segera berebut pisang dan meninggalkan bongkahan batu intan. Dengan modal beberapa butir pisang orang tersebut bisa memungut dan menguasai bongkahan batu intan yang ditinggalkan oleh para kera.

Inilah tamsil kehidupan, kadang banyak orang bersikap seperti kera. Menyia-nyiakan sesuatu yang sangat indah, mulia dan berharga. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai alat untuk saling memukul, menyakiti bahkan melukai. Mereka tidak bisa menghargai sesuatu yang suci dan mulia sesuai dengan marwahnya dan menempatkanya sesuai posisinya.

Banyak diantara mereka yang menukar keindahan dan kemuliaan bongkahan batu mulia dengan sebutir pisang karena kerbatasan nalar dan kedangkalan pikir, sehingga tidak bisa membedakan harga batu mulia dan sebutir pisang. Orang seperti ini juga tidak bisa menemukan keindahan dan kemuliaan batu mulia, sehingga tidak bisa menempatkan dan memperlakukan sebagaimana layaknya.

Berapa banyak diantara kita, secara sadar atau tidak, telah menjadikan sesuatu yang indah dan mulia hanya sebagai alat untuk saling melukai dan membenci. Betapa sering kita membuang hal-hal berharga hanya kerena dengki. Berapa banyak bongkahan intan permata dihancurkan karena rasa permusuhan yang menutup kepekaan hati dan kecerdasan nalar.

Berkali-kali sudah bangsa ini menyia-nyiakan orang baik dan pejuang ikhlas, menyingkirkan tokoh-tokoh yang berkualitas dan berintegritas. Mereka dinista dan dilecehkan di negeri sendiri tapi sangat dikagumi dan diakui integritasnya oleh bangsa lain. Batapa sering bangsa ini menjadikan nilai dan ajaran agama yang indah dan mulia sebagai alat menebar kebencian dan pemicu kekerasan yang mengancam memanusiaan. Ada baiknya semua ini dijadikan bahan muhasabah bagi bangsa ini.

Jika suatu bangsa masih belum bisa membedakan antara bongkahan batu kali dan batu intan. Jika suatu masyarakat masih belum bisa membedakan nilai sebutir pisang dengan batu mulia, maka kita akan bisa melihat pada derajat mana peradaban bangsa tersebut berada. Karena hanya bangsa yang beradab yang memiliki kepekaan rasa dan kecerdasan nalar yang bisa mengetahui harga sebutir intan dan menikmati keindahannya. Hanya orang-orang beradablah yang bisa menghargai dan menempatkan bongkahan intan permata milikmya secara layak dan menjaganya agar tidak diambil orang lain. Sekalipun bongkahan intan tersebut tidak bisa bikin kenyang seperti sebutir pisang.

*Al-Zastrouw (Zastrouw Al Ngatawi), Merupakan budayawan indonesia. Pernah menjadi ajudan pribadi mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid. Mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU periode 2004-2009.
Editor: Romandhon

Komentar