Tanam Tembakau Secara Paksa/Foto ilustrasi/Nusantaranews
Tanam Tembakau Secara Paksa/Foto ilustrasi/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Tembakau merupakan salah satu komoditi tanaman yang banyak ditanam oleh petani di Indonesia. Tanaman ini seringkali disebut sebagai emas hijau karena nilai jualnya tinggi.

Di pulau Madura, tembakau bukanlah tanaman baru. Ada dua pendapat tentang asal-usul tanaman tembakau di Madura. Pendapat pertama mengatakan bahwa tanaman tembakau diperkenalkan di Madura oleh bangsa Portugis pada akhir abad 16 (Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas)

Pendapat kedua mengatakan bahwa pada waktu kedatangan bangsa Belanda di Madura sekitar abad 16, tanaman tembakau telah banyak dibudidayakan rakyat. Tanaman tembakau telah ada sebelum kedatangan Portugis ke Indonesia. Bahkan timbul dugaan bahwa tembakau merupakan tanaman asli Madura. Hal ini berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Madura, bahwa tanaman tembakau diperkenalkan pertama kali oleh penyebar Islam dari Kudus bernama Pangeran Katandur sekitar abad ke-12 (Santoso, 1994).

Seorang ahli botani Rumphius membuktikan bahwa tanaman tembakau terdapat di tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi bangsa Portugis (Makfoeld, 1982: 1). Maka tak berlebihan kiranya, jika Thomas Santoso dalam Tata Niaga Tembakau di Madura (2001) mengatakan bahwa Madura dan tembakau adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Tanaman tembakau Madura ini tersebar mulai dari dataran tinggi di sebelah utara Pulau Madura, mulai Pakong, Kabupaten Pamekasan, sampai Batu Putih, Kabupaten Sumenep. Awalnya sebagian besar petani menanam tembakau untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Hanya sedikit yang diperjual belikan di pasar.

Percobaan penanaman komoditas tembakau secara besar-besaran baru dimulai tahun 1830 karena adanya sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) untuk memenuhi pasar Eropa (Makfoeld, 1982:2). Pemerintah Belanda mengenalkan tembakau jenis Virginia. Namun gagal, karena lahan dan sistem pengairan yang buruk serta kondisi sosial budaya pada saat itu yang tidak mendukung untuk penanaman tembakau secara besar-besaran.

Baru pada era kepemimpinan Raffles kesuksesan budidaya tembakau Madura mulai dapat dirasakan. Bahkan hasil dari pertanian tembakau nomor dua setelah padi. Pada awal abad 20, perdagangan tembakau di Kabupaten Pamekasan dipegang oleh orang Cina.

Adapun di Kabupaten Sumenep dipegang oleh orang Madura (Huub de Jonge, 1989: 183). Jelang runtuhnya Hindia-Belanda, luas ladang tembakau adalah sepersepuluh dari seluruh penanaman tembakau di Jawa (Huub de Jonge: 2011). Hal ini menunjukkan bagaimana tembakau menempati posisi strategis sebagai tanaman yang banyak dicari orang.

(ed) Romandhon

Komentar