Presiden RI ke-2 Soeharto/Foto Istimewa/Nusantaranews
Presiden RI ke-2 Soeharto/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ternyata Presiden RI ke-2 Soeharto lebih hebat dari apa yang dibayangkan banyak orang selama ini, khususnya generasi pasca Reformasi. Ini sangat relevan jika kembali menengok sumbangsih sang Jenderal Besar itu dalam memahami dan membumikan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Dosen UIN Yogyakarta sekaligus mantan Komisioner KPI Iswandi Syahputra mengaku tidak bisa menolak untuk tidak hormat pada Jenderal Besar Soeharto. Sekalipun Soeharto bukan tokoh yang ikut menyusun butir-butir Pancasila dalam berbagai perdebatan panjang dan alot pada sidang BPUKI, namun ia memahami betul bahwa Indonesia yang Bhinneka ini harus tetap disatukan dengan Pancasila. ‘Kita berbeda, tapi kita harus bersatu.’ Mungkin begitu kira-kira pikiran Soeharto yang polos.

Berbeda tapi bersatu ini penting untuk menemukan rute kembali pulang ke rumah Pancasila, rumah kita semua sebagai bangsa Indonesia. Bahkan Sekjen PKB Abdul Kadir Karding juga mengaku ‘rindu’ dengan gaya presiden Soeharto dalam mendorong bangsa Indonesia mengejawantahkan Pancasila.

Menurutnya, Pancasila harus diberikan porsi besar pada kurikulum yang ada di sekolah-sekolah layaknya era Soeharto dulu. “Saya masih sepakat ada pola-pola seperti dulu, ada semacam pelatihan atau belajar Pancasila dan sebagainya,” ungkap Karding, Rabu (31/5/2017).

Pasalnya, ia merasa setelah Reformasi berjalan sampai saat ini, Indonesia kian kehilangan Pancasila yang begitu agung dan sakral. Ironisnya, secara tidak langsung Reformasi telah mendistorsi Pancasila di tengah-tengah masyarakat. Dirinya menyebut era Soeharto dalam mempraktekkan Pancasila dinilai sangat baik.

Karding menyebut Orde Baru itu dalam banyak hal, tidak boleh dibuang begitu saja, dan harus diambil yang baik. Baginya butuh panduan atau poin-poin seperti Soeharto kala mengejawantahkan butir-butir Pancasila. Berikut butir-butir Pancasila yang sudah lama dilupakan banyak orang.

Butir-Butir Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila

Lima asas dalam Pancasila dijabarkan menjadi 36 butir pengamalan, sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Butir-butir Pancasila ditetapkan dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Eka Prasetya Pancakarsa.

I. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

  1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling hormat-menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

II. Sila Kedua: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu kembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

III. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

  1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
  4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan bertanah Air Indonesia.
  5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

IV. Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

  1. Mengutamakan kepentingan Negara dan masyarakat.
  2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

V. Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  1. Mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
  2. Bersikap adil.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak-hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak bersifat boros.
  8. Tidak bergaya hidup mewah.
  9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  10. Suka bekerja keras.
  11. Menghargai hasil karya orang lain.
  12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan.

Pewarta/Editor: Romandhon

Komentar