Ki Ageng Suryomentaram/Foto via 1001indonesia
Ki Ageng Suryomentaram/Foto via 1001indonesia

NUSANTARANEWS.CO – Nama Ki Ageng Suryomentaram memang tidak terkenal dan setenar Supriyadi atau Ki Hajar Dewantara, namun ia memiliki sumbangsih besar terhadap perjuangan Indonesia. Ilmu kawruh begja adalah bukti atas buah pemikirannya tentang filsafat moral. Kawruh begja Suryomentaram menganut faham spekulasi tentang dasar-dasar metafisis dari perasaan atau pengalaman kejadian.

Menurut Abdurrahman El ‘Ashiy (2011) dalam bukunya Makrifat Jawa Untuk Semua, paham ini sebenarnya ke arah mistik fenomenologis. Artinya dasar pemahaman hidup pada realitas. Yakni fenomena kejiwaan (kramadangsa) dan inti pribadi (the true self) dipahami sebagai yang rusak atau binasa. Jiwa mengalami lahir dan setelah memperoleh pengalaman lalu mati.

Selama ini sosok Suryomentaram masih sangat asing bagi masyarakat Indonesia. Padahal ia adalah sosok pemikir besar yang pernah dimiliki oleh bangsa ini. Bahkan Suryomentaram kerap disebut sebagai bapak filosof tanah Jawa. Hal ini dapat dilacak dengan pemikirannya tentang ilmu kawruh begja (pengetahuan tentang kebahagiaan).

Bagi kalangan eksistensialis, sebagian besar manusia, sebagian besar waktu manusia, menjalani hidup ini dengan melibatkan sebuah penolakan atas kemanusiaan kita, desein kita, dengan kecemasan, rasa bersalah, dan kematian. Inilah yang disebut dengan inautentisitas. Jika orang sudah tidak lagi hidup secara autentik, berarti dia tidak lagi “menjadi”, tetapi hanya “mengada”. Ini ditegaskan Abdurrahman El ‘Ashiy bahwa manusia sejati menurut Suryomentaram adalah manusia tanpa ciri, yaitu manusia yang tak lagi memerlukan ciri-ciri (atribut).

Dalam konteks ini hal menarik terkait pemikiran Suryomentaram dengan Mulla Shadra tentang jiwa. Bagi Suryomentaram hakikat manusia terletak pada jiwanya yang hidup. Jiwa yang hidup mengikuti pola dan irama lelampahan.

Lelampahan atau gerak tidak memerlukan tempat, tetapi waktu. Yang memerlukan tempat adalah badan, bukan jiwa. Jiwa manusia adalah kramadangsa, yang berarti bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk Tuhan yang selalu terdapat unsur jasmani dan ruhani pada dirinya.

Sifat kramadangsa menurut Suryomentaram mengiringi catatan-catatan hidup yang mendasari eksistensi individu sebagai seorang manusia. Manusia terdiri dari tiga unsur yaitu karep (keinginan), jasad (zat) dan “Aku”. Ketiga unsur tersebut bagi Suryomentaram bersifat langgeng (abadi), tidak berwarna, tidak berbentuk dan tidak berbau.

Namun, ada satu bagian yang menarik untuk dikaji lagi secara lebih lugas mengenai konsep manusia sebagai jasad (zat). Dalam pandangannya, zat merupakan asal dari semua “barang jadi” yang ada di alam semesta termasuk raga (tubuh) manusia. Zat merupakan sesuatu untuk membentuk raga manusia. Jasad yang menjadi sumber terjadinya manusia itu sudah ada sebelum raga manusia terbentuk dan akan tetap ada jika raga manusia rusak.

Mungkin jasad yang dimaksud Suryomentaram adalah “Forma” yang sering digunakan oleh Aristoteles. Dalam metafisika Aristoteles adalah pembedaan antara “forma” dan “materi”. Perlu diketahui bahwa “materi”, dalam pengertiannya sebagai sesuatu yang berlawanan dengan “forma”.

Aristoteles menggunakan contoh jika seseorang membuat bola perunggu, maka perunggu adalah materi, kebolaan adalah forma. Ia selanjutnya mengatakan bahwa berkat forma itulah materi menjadi sesuatu tertentu, dan inilah subtansi sesuatu. Apa yang dimaksudkan Aristoteles tampaknya benar-benar masuk akal; “sesuatu” haruslah terbatas dan batasan itulah yang merupakan formanya.

Penulis: Romandhon

Komentar