Browne_Henriette,
Browne_Henriette, "A_Girl_Writing The Pet Goldfinch" Google Art Project. Foto: Dok. Surface mag

Oleh: Nurrahman Alif

“Menulis adalah cara paling menyenangkan untuk tetap hidup.”  begitulah kata kawan saya, di saat bercengkerama malam-malam di kedai kopi pincuk mengenai sejatinya menulis. Karena memang pekerjaan paling mulia dan bermanfaat adalah menulis, entah itu menulis karya fiksi atau non fiksi, bukan masalah wong kedua-duanya berlatarbelakang dari renungan mendalam.

Adakah perkerjaan paling berharga dan menguntungkan diri sendiri, lebih-lebih bagi pembaca Selain menulis.? Jelas banyak, seperti jualan kopi, menjaga tokoh, dan lain sebagainya. Namun beda dengan menulis, menulis tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tapi semua kebagiaan untungnya, pembaca maupun penulisnya. Dari apa? Ya, dari hasil menulis. Misalkan jadi penulis koran dengan honorarium menggiurkan, penulis tidak hanya kebagian bahagia, namun juga untung dengan sepeser uang dari hasil jerih payah diri sendiri: Dengan memeras otak berhari-hari dihadapan komputer, sampai-sampai lupa makan, lupa tidur dan lupa segalanya, hanya demi menulis agar dimuat dan mendapat uang utuk tetap berdiri di atas muka bumi ini.

Saya ingat, tempo dulu WS. Rendra makan dan minum dari hasil karya-karya sastranya. Kerena sering dimuat atau diminta sendiri oleh redaktur untuk mengisi rubrik koran seperti: di antaranya Kompas dan Tempo. Apa lagi saya dan kawan-kawan, dengan keterbatasan hidup setiap hari, makan tak teratur: kadang makan satu kali dalam sehari hari, atau memilih puasa karena tulisan belum rampung dan uang habis untuk beli kopi dan tembakau. Sekedar sebagai penyegar hidup dan pikiran agar tetap lancar menulis. Lalu di lain waktu, pada suatu ketika saya bertanya pada kawan senior, Mengapa anda semangat dalam menulis.? Ia menjawab, karena saya selalu ingat pesan almarhum Gus Zainal Arifin Thoha, ia selalu berpesan begini “Bermimpilah sebelum tidur.” Jadi saya memahami pesan tersebut, berpikir atau merenuglah (menulis) apa saja sebelum beranjak tidur. Dan ada lagi perkataan yang tak bisa saya lupakan dari Gus Zainal, “Menulis Maka Aku Ada” jadi saya ambil kesimpulan, bahwa dari menulislah bukti ia hidup dan dikenal dan di kenang banyak orang.

Dan kadang saya haru, ketika terngiang kembali cerita sendu perihal proses kreatif menulis dan membaca, yang cenderung berselera sastra dari sebagian kawan lama saya tempo dulu, dengan status hidup berdomisil di Pondok Hasyim Asy’ari Yogyakarta. Mereka semua yang berdiam di sana salah satu alasanya, demi meringankan beban orang tua. Dan demi mengasah bakat dalam menulis, dengan menolak kiriman berupa uang sepeser pun dari orang tuanya. Mereka hanya hidup dengan menulis, dan meraka tidak takut lapar sebab sudah menjadi kebiasaan setiap hari. Sebab mereka berdiri dengan kaki sendiri atau hidup matinya hanya untuk menulis dan menulis. Dalam paham saya, menulis tidak hanya mengutarakan perasaan semata. Tapi apa yang dikatakan Salahuddin Wahid sebagai pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang memang benar dalam buku Imlek Tampa Gusdur . Ia mengatakan begini, “ menulis itu bukan sekedar mendokumentasikan peristiwa dan gagasan, tetapi  juga merupakan kegiatan berpikir.” Dalam pemahaman saya, menulis itu adalah hasil olah pikir mengenai apa saja yang itu diselipkan dalam karya sastra maupaun ilmia. Misalkan salah satunya, mengkritik lingkungan hidup yang kurang sosialis dalam berkehidupan lewat karya tulis, bisa juga. Sebab karya tulis adalah cara paling indah dan lebut untuk menyampaikan sesuatu atau mengkritik sesuatu yang kurang enak di pandang.

Misalkan mengkritik lewat karya sastra, saya bisa memilih salah satunya siapa penyair yang sering bersitegang dengan perpolitikan atau konflik sosial. Misalkan saya ambil contoh: WS. Rendra lewat sajak-sajaknya, ia mampu mengakses keresahan hatinya ke dalam sajak indah dan mendebarkan. Seperti di antaranya yang berjudul, Bersatulah Pelapucur-pelacur Kota Jakarta  dan Pamflet Masa Darurat, di dalam kata-katanya tampa bahasa sarkas menyampaikan kesenjangan sosial kota Jakarta di zamannya. Maupun lewat ilmia, saya bisa menganjurkan anda membaca opini-opininya Damhuri Muhammad yang berbau kritikan tersebut. Dalam berbagai tulisan opininya tersebut, sering mata saya membaca di koran kritikan-kritikan kesenjangan sosial kehidupan atau memandang kerancuan dinamaka politik masa kini. Dengan menggunakan bahasa sejuk dan perlambangan-perlambangan yang sangat indah dan menyentuh pembaca tampa bahasa sarkas di dalamnya.

Memang pada sejatinya menulis bukan tujuan untuk membuat hidup semakin tegang. Namun akhir-akhir ini, menulis dengan kata-kata sarkas yang sering membuat orang membaca dengan mengersutkan kulit dahi. Telah sering saya temui, dengan adanya ruang-ruang media massa yang semakin sistematis tersedia dalam zaman alat elektronek ini. Saya beri contoh: media yang sering menimbulkan konflik sosial yaitu salah satunya, fecebook.  Di mana orang-orang sesuka hati menulis dengan menimbulkan konflik-konflik baru, tampa bukti dan alasan yang tak jelas. Atau sekedar mencacimaki orang lewat kata-kata dalam setatus fecebook yang sehakikinya tidak pantas ditampakkan. Saya harap menulislah dengan indah dan baik untuk upaya mencesdaskan demi kedamaian hidup dan dunia.

Yogyakarta, 2017

 

Nurrahman Alif. Aktifis sastra yang berdomisili di ( LSKY ) Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar