Presiden Joko Widodo menerima Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 17 November 2016. Keduanya sedang menikmati sajian makan siang. Foto Istimewa/Biro Pers Istana Kepresidenan.
Presiden Joko Widodo menerima Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 17 November 2016. Keduanya sedang menikmati sajian makan siang. Foto Istimewa/Biro Pers Istana Kepresidenan.

NUSANTARANEWS.CO – Situasi politik nasional akhir-akhir ini memanas sejak vedio pidato Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepualauan seribu diunggah ke YouTube. Baik dalam penggalan video maupun dalam versi lengkapnya, Ahok menyelipkan kata “surat Al-Maidah ayat 51”. Lantaran kalimat itulah, Ahok dinilai telah memancing emosi umat Islam di Indonesia. Sehingga peristiwa demo yang dinilai terbesar dan terdamai sepanjang sejarah unjuk rasa di Indonesia terjadi pada hari Jumat, 4 November 2016 lalu.

Ahok yang disangkakan (dan telah ditetapkan jadi tersangka) telah menista Al-Qur’an atau agama Islam benar-benar menjadi tokoh politik yang banyak dibicarakan oleh media baik nasional maupun internasional. Meminjam istilah Megawati Soekarno, “masalah satu orang, ribut sejagat”. Soal “ribut sejagat” ini bukan hanya kata-kata melainkan fakta yang dialami semua kalangan.

Tidak ada yang dapat menyangkal, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang dalam keadaan gaduh. Sejak menjelang demo 4 November 2016, semua angkat bicara, beropini, adu argumen, dan merasa diri dan golongannya benar. Tanpa harus rumit memikirkannya, anggap saja itulah bentuk keberagaman yang dimiliki sebuah negara dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yakni Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Lantas bagaimana sebaiknya menyikapi situasi dan kondisi kebangsaan terkini? Mari mengingat lagi peristiwa di Hambalang, ketika Presiden Joko Widodo silaturrahim ke Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Sejumlah pengamat berkata bahwa pertemuan itu, untuk mendinginkan situasi menjelang demo 4 November 2016 sekaligus menangkal terjadinya kekisruhan selama demo berlangsung. Alhasil ketika demo 411 berlangsung, acara unjuk rasa benar-benar nampak aman, tertib, dan damai. Kendati insiden saling serang sempat terjadi setelah acara demo 411 selesai.

Ada peristiwa dan ada simbol-simbol menarik di Hambalang waktu itu yaitu acara naik kuda dan sajian makanan yang dihidangkan oleh Prabowo ke Presiden Jokowi yang tak lain adalah “nasi goreng”. Tentu kita berpikir mulai dari yang paling sederhana mungkin sampai yang paling ekstrem.

Pikiran sederhana akan berkata, bahwa tidak mesti acara makan-makan ala tokoh bangsa harus yang mewah-mewah, nasi goreng sudah cukup, asal kenyang. Artinya tidak ada perbedaan kasta dalam pertemuan penting sekelas kepala negara. Namun, pikiran ekstremnya akan berkata lain bukan? Rasanya sulit dipercaya bahwa sajian nasi goreng itu bagian dari kesederhanaan seorang kepala negara. Toh, kalo mau, sekelas Prabowo bisa menghidangkan sajian paling istimewa untuk menyambut tokoh nomor satu di NKRI tercinta ini. Tapi, faktanya, nasi goreng ternyata bisa menjagi jamuan istimewa bagi sang Presiden.

Nasi goreng di Hambalang tentu dinikmati oleh Presiden. Kemudian naik kuda. Dan secara kebetulan sehari setelah acara pertemuan di Hambalang antara Jokowi dan Prabowo, di Cikeas SBY melakukan jumpa pers. Nah dalam pernyataan sikapnya, SBY memasukkan kata “Lebaran Kuda” yang sempat viral di meda sosial bahkan di dunia nyata. Muncullah pertanyaan ada apa dengan “Nasi gorang”, “naik kuda”, dan “lebaran kuda”?

Tidak hanya itu, setelah situasi mulai reda karena Polri telah berjanji untuk menjalankan proses hukum terhadap Ahok, rupanya sejumlah ormas Islam masih menyatakan sikap akan melakukan demo susulan apabila Ahok tidak ditetap menjadi tersangka. Karenanya, walaupun Kabareskrim Polri telah menetapkan Ahok sebagai tersangka (16/11/2016), keesokan harinya (17/11/2016) Presiden Jokowi mengundang Prabowo ke Istana Negara. Lagi, sebagaimana lumrahnya, tuan rumah tentu menghidangkan sajian makanan bagi tetamunya. Kali ini, Prabowo yang membalas kunjungan dijamu dengan “Ikan Bakar”.

Apakah makna ikan bakar bagi seorang presiden dan petinggi partai politik di Indonesia, sehingga menu makan siang penting untuk disampaikan ke publik? Jawabannya sangat sederhana (sebab memang tidak rumit), karena dalam situasi yang cukup gaduh ini, rakyat butuh yang sejuk-sejuk, tenang, dan damai. Ikan bakar adalah salah satu makanan yang lumrah dimakan sebagian besar (untuk tidak menyebut semua) rakyat Indonesia.

“Kalau di Hambalang (makan siang) nasi goreng, di sini ikan bakar,” kata Prabowo yang disambut tawa ringan Jokowi usai acara undangan makan siang bersama di Istana Negara, Kamis (17/11). Dari hasil pertemuan yang berjalan selama satu jam, ia mengatakan ada kesamaan pandangan dengan Presiden Jokowi. Kesamaan itu menyangkut semangat menjaga kesatuan negara dan Pancasila.

Sebagai pemimpin partai politik, Prabowo berkewajiban menjaga kesatuan dan ketenangan bangsa. Menurut dia, di mata negara lain Indonesia mempunyai daya tarik yang tinggi karena kekayaan dan kemajemukannya. Tak aneh jika Indonesia menjadi incaran bagi kekuatan besar di dunia. “Setiap pemimpin wajib jaga persatuan dan kesejukan. Apapun perselisihan diselesaikan dengan damai,” kata purnawirawan jenderal bintang tiga itu.

Presiden Jokowi pun sependapat dengan Prabowo. Keduanya telah berkomitmen menjaga kemajemukan Indonesia. “Kami tidak menginginkan perpecahan gara-gara politik. Sangat mahal harganya bagi Indonesia,” ucap presiden yang juga ingin terus menjaga silaturahim dengan Prabowo. Ia berharap budaya silaturahim bisa menular hingga ke level paling bawah.

Sebagai penutup, jika nasi goreng dinilai dapat memberikan efek pada demo 411, sehingga berjalan tertib dan damai, apakah dengan “ikan bakar”, demo yang direncanakan pada 25 November 2016 sebagai Aksi Bela Islam III akan gagal dilakukan? Jawabannya tergantung kita semua sebagai bangsa yang mencintai kedamaian Indonesia lahir dan batin. (Selendang Sulaiman)

Komentar