Berita Utama

Mentan Membangun Lumbung Pangan di Perbatasan

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman/Foto nusantaranews/Andika
Menteri Pertanian Amran Sulaiman/Foto Andhika

NUSANTARANEWS.CO – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan telah menyiapkan anggaran untuk membangun lumbung pangan di daerah perbatasan.

Hal itu diungkapkan Mentan dalam ‎acara Rakor Pangan Kabupaten/Kota Perbatasan 2016 bertema “Membangun Lumbung Pangan di Perbatasan” yang diadakan di Auditorium Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (16/9) pagi.

Menurut Amran, untuk ketahanan pangan dalam negeri Indonesia sekarang ini sudah mencukupi. Bahkan, Indonesia sudah mengekspor 40 ton beras organik dari Tasikmalaya ke Belgia, Malaysia, dan Singapura. Bahkan sebagian dieskpor ke Amerika Serikat, Jerman, dan Italia.

Dikatakan, daerah perbatasan masih minim perhatian. Di Kepri misalnya, sebanyak 4.000 ha lebih lahan tidak tergarap kendati sudah ada transmigrasi. Imbasnya, beras dan bawang didapat dari wilayah lain yang memakan biaya tinggi.

Di daerah Timur yang berbatasan dengan Filipina lebih menyedihkan lagi, selain banyak masyarakat yang tidak bisa baca tulis, lahan yang tersedia tidak tergarap dengan baik lantaran kesulitan mendapatkan benih.

Menurut Amran, pembangunan lahan perbatasan selain dapat menutup jalur masuknya beras ilegal juga membuka peluang ekspor beras organik ke Singapura, Malaysia, Filipina, Fiji, dan Timor Leste. Pemerintah ‎menyediakan anggaran bagi kepala daerah di wilayah perbatasan termasuk menyiapkan sarana-prasarana yang dibutuhkan.

“Untuk membangun anggaran Rp 20 miliar kecil sekali. Tahun depan diharapkan tidak ada lagi beras ilegal yang masuk. Kalau terbentur masalah hutan saya bisa bicara dengan Menteri Kehutanan untuk mengurus berapa lahan hutan yang bisa dibebaskan untuk membangun lumbung pangan,” kata Amran.

Sedangkan menteri Desa Eko Putro Sandjojo menambahkan, lebih dari 70.000 desa yang ada di Indonesia 80 persen penduduknya hidup dari bercocok tanam. Ada desa yang sukses karena fokus pada unggulan tertentu namun masih banyak desa yang belum memiliki produk tani unggulan.

Dirinya berharap kepala daerah di wilayah perbatasan dapat memberi masukan untuk menghidupi masyarakat desa sekaligus untuk mewujudkan pembangunan kekuatan ekonomi dari daerah perbatasan.

“Desa yang sukses memiliki kesamaan yaitu fokus pada satu produk unggulan tertentu. Desa yang sukses petaninya memiliki pendapatan yang tinggi. Tetapi banyak desa yang belum fokus produk tertentu dan ada desa yang ekonominya bagus Tetapi sarana prasarananya tidak memadai. Kami butuh masukan dari bupati mengenai itu,” ujar Eko. (Andika

 

 

Komentar

To Top