Menkeu Sri Mulyani/Foto via dwiandhardhi
Menkeu Sri Mulyani/Foto via dwiandhardhi
Menkeu Sri Mulyani/Foto via dwiandhardhi
Menkeu Sri Mulyani/Foto via dwiandhardhi

NUSANTARANEWS.CO – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, di semester kedua tahun 2016 ini, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan paling tinggi berada pada angka 5,1%. Jika dibandingkan dengan semester kedua tahun 2015 lalu, menurut Sri Mulyani, angka tersebut memang lebih rendah.

“Namun lebih tinggi dari keseluruhan 2015 yang 4,8%. Kami memperkirakan bahwa keseluruhan di tahun 2016 diperkirakan pada 5,0% sampai 5,1%,” ungkapnya di sela-sela rapat bersama Komisi XI di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (12/10).

Sedangkan terkait inflasi, Sri Mulyani mengatakan, masih diperkirakan pada tingkat yang rendah dan stabil, serta sedikit masih di bawah asumsi makro di APBN 2016. Hal itu dikarenakan faktor musim yang cenderung relatif basah (hujan) dan harga komoditas kebutuhan non pangan yang dalam hal ini masih bisa dikendalikan.

Kendati demikian, Sri Mulyani melanjutkan, kecenderungan resiko terjadinya inflasi di 2016 adalah dikarenakan kemungkinan meningkatnya perekonomian dunia tergantung dari pertemuan Organization of Petroleum Exportir Countries (OPEC) yang akan terjadi pada minggu depan.

“Komitmen dari para produsen minyak nampaknya ingin memberikan sinyal mereka akan bersama-sama ingin mengendalikan dari sisi produksi. Meskipun ini masih tergantung pada realisasinya. Karena ini sering tidak tercapai. Juga karena bencana alam karena adanya iklim terutama La Nina ini akan mempengaruhi distribusi maupun produksi,” ujarnya.

Sri Mulyani menambahkan, yang harus diwaspadai adalah pertemuan World Bank dan International Monetery Fund (IMF). Pasalnya, ada pemaparan mengenai rencana kenaikan suku bunga pada tahun ini.

Sedangkan di tahun depan, akan ada pertemuan The Federal Reserve (FED) yang terakhir data-datanya menunjukkan bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan yang cukup sulit terutama pada angka employment. Pada pertemuan The FED terakhir, diputuskan ada kenaikan namun mereka masih mencoba memberikan waktu. Hal ini berkaitan dengan adanya pemilihan Presiden AS yang baru.

“Pertumbuhan ekonomi kita realisasinya sampai pada 30 September 2016 lalu adalah 5,04% dan keseluruhan 2016 diasumsikan 5,2%, kemungkinannya berada di 5,0% sampai 5,1% di 2016 ini. Inflasi sampai saat ini di bawah asumsi 3,1%, namun kita perlu mewaspadai nilai tukar karena ada kenaikan suku bunga di The FED, suku bunga SPN 5,6% agak sedikit di atas asumsi,” kata Sri Mulyani. (Deni)

Komentar