Ngabuburit Sastra di Taman Suropati, Menteng, 10 Juni 2017. Foto Istimewa
Ngabuburit Sastra di Taman Suropati, Menteng, 10 Juni 2017. Foto Istimewa

Kultum Sastra: Sofyan RH. Zaid

Segala sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya adalah simbol.” Goethe

Menurut Abdul Hadi W.M, dalam Hermeneutika Sastra Barat dan Timur (2014), simbol berasal dari bahasa Yunani: “Symballein” yang berarti: melempar bersama-sama. Kata ini berkaitan dengan tradisi masyarakat Yunani dalam menyambut tamu (tessera hospitalis), yakni membelah suatu benda menjadi dua. Satu belah diberikan kepada tamunya, satunya lagi disimpan sendiri oleh tuan rumah. Kelak jika sudah terkumpul sampai 30 atau 50 secara turun temurun, belahan tersebut disatukan lagi sebagai tanda bahwa sang tamu atau keturunannya telah diakui menjadi anggota keluarga tuan rumah.

Simbol juga berarti “sesuatu yang melaluinya kita dapat mengenal kembali kepingan yang terlepas”. Wajar jika Plato dalam Symposium, menyebut manusia adalah kepingan atau fragmen yang terpisah dari kepingan lainnya sehingga kehadirannya di bumi tidaklah utuh. Kepingan lainnya tersebut berada di alam kerohanian atau ketuhanan, kepingan yang dia sebut symbolon, sedangkan kepingan yang ada di muka bumi, disebut anthropou, darinya kata “anthropos” (manusia).

Agar manusia kembali menjadi utuh sebagai manusia, dia harus melakukan “kenaikan rohani untuk mengambil kembali kepingan dirinya yang tertinggal itu di alam ketuhanan”. Kenaikan ini oleh Plato disamakan dengan pengalaman cinta dan keindahan. Intinya, untuk menjadi manusia yang utuh, seseorang tidak hanya dituntut memiliki pengalaman empiris dan rasionalitas, tetapi juga butuh pengalaman estetik dan cinta sebagaimana kehidupan penyair.

Jakarta, 9 Juni 2017

*Kultum Sastra ini disampaikan pada acara Ngabuburit Sastra di Taman Suropati, Menteng, 10 Juni 2017.

Komentar