Ilustrasi. (Images by laziswahdah)
Ilustrasi. (Images by laziswahdah)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6 menyebutkan bahwa orang-orang beriman hendaknya melakukan ceck and riceck ketika mendapatkan sebuah kabar berita. Ayat ini sangat relevan dengan kondisi terkini menyangkut membanjirnya kabar berita yang didapatkan dari berbagai lini masa dan rumor dari mulut ke mulut.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Demikian petikan dari Surah Al-Hujurat ayat 6 tersebut. Tabayyun merupakan kata kunci untuk menyikapi setiap kabar berita yang didengar dan dilihat oleh masyarakat. Secara harfiah, tabayyun berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Peringatan ini sudah jelas, bahwa ketika kabar berita yang tidak benar sumbernya disampaikan ke hadapan publik maka jatuhnya fitnah, bohong dan dusta. Atau dalam istilah masa kini, hoax.

Memang, kebenaran dimiliki banyak orang alias subyektif. Tetapi, kabar berita yang terkonfirmasi dan jelas narasumbernya tentu akan semakin menguatkan kebenaran tersebut.

Dalam konteks media sosial, sudah banyak kalangan mengingatkan agar masyarakat memperhatikan secara detail kabar berita yang diterima. Ambil contoh misalnya, Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani). Majelis ini pada Rabu (15/6/2017) kembali mengingatkan masyarakat agar selektif dalam menerima dan menyikapi kabar berita yang didapat dari media sosial. Pasalnya, tak sedikit kabar berita tersebut justru memuat kebohongan, hoax dan dekat pada fitnah dholalah (menyesatkan).

Madani lantas menggelar halaqoh ulama dalam rangka mengatisipasi penyebaran hoax dan fitnah di media sosial. Majelis yang dikomandoi Idy Muzayad ini mengajukan ide guna menyikapi hoax dan fitnah di media sosial dengan cara melakukan dakwah bil hikmah. Dakwah dengan pendekatan bil hikmah ini secara terminologi ialah menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik.

Definisi lain menyebutkan bahwa dakwah bil hikmah adalah dakwah yang menggunakan perkataan yang benar, dan pasti yaitu menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan.

Perintah dakwah bil hikmah termaktub di dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 125. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Gagasan Madani, dakwah bil hikmah bisa juga sebagai salah satu cara untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI serta menguatkan Pancasila. Pasalnya, penyebaran fitnah dan hoax melalui media sosial sangat membahayakan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika hoax dan fitnah itu tersebar di masyarakat lalu dipercayai sebagai suatu kebenaran, maka hal itu sangat berbahaya bagi persatuan dan keutuhan NKRI. Sebab, hoax dan fitnah juga bisa menjadi alat penghasut dan provokasi.

Ketua Umum Madani, Idy Muzayad menegaskan betapa penting arti dakwah bil hikmah. Dakwah model ini juga bisa disebut dakwah yang rahmatan lil alamin. Kata dia, Melalui jalur dakwah yang rahmatan lil alamin setiap paham yang memecah belah umat dengan cara kekerasan dapat dihindari. (ed/uck)

Penulis: Ucok Al Ayubbi
Editor: Eriec Dieda

Komentar