Ilustrasi. (Foto: Nusantaranews)
NUSANTARANEWS.Co, Jakarta – Pilgub DKI Jakarta telah sukses melambungkan nama Agus Harimurti Yudhoyono yang kemudian dikenal dengan sebutan AHY. Putra presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu disebut-sebut sosok potensial untuk menjadi seorang the next leader di masa depan. Karuan saja, AHY memang telah membuat keputusan besar dalam karirnya usai mundur dari dunia militer lalu terjun ke dunia politik yang ditandai dengan mencalonkan diri sebagai Cagub DKI Jakarta kendati gagal.
Gerak-gerik AHY kini menjadi sorotan media dan para pengamat. Pilpres 2019 disebut-sebut akan menjadi target AHY selanjutnya untuk tampil sebagai seorang pemimpin, entah sebagai presiden maupun wakil presiden.
Kendati Pilpres 2019 masih relatif lama, beragam spekulasi sudah lebih dini bermunculan ke hadapan publik. Ambil contoh misalnya Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti. Menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di daerah Kebayoran Baru, Jakarta pada Jumat (11/8), Ray memberikan sebuah penilai bahwa AHY tak cocok bila disandingkan dengan Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang.
Pernyataan itu tentu tak lepas dari beragam penilaian terhadap gerak-gerik AHY dan SBY yang disorot media. Partai Demokrat, bahkan disebut-sebut tengah melakukan sejumlah manuver politik setelah beberapa waktu lalu SBY bertemu Prabowo Subianto, Ketum Gerindra. Ditambah lagi, pada Kamis (10/8), AHY bertandang ke istana dalam rangka bertemu dengan Joko Widodo.
Menurut Ray, datangnya AHY ke istana adalah dalam rangka membuka komunikasi soal kemungkinan akan dilakukannya koalisi mengusung Jokowi-AHY. Sayang, Ray menilai Jokowi-AHY bukanlah pasangan capres-cawapres yang pas. Bahkan Ray sangat yakin, Jokowi tak sudi memilih AHY sebagai wakilnya (cawapres). “AHY wakil Jokowi, tidak kena (pas),” cetusnya.
Lebih ekstrim lagi, Ray menyebut Demokrat saat ini sedang berusaha memperagakan politiki dua kali. Kaki satu ke Prabowo (Gerindra), kaki satunya lagi ke Jokowi. Tak hanya Demokrat, AHY juga dinilai Ray sedang memainkan politik mengayun dengan menyebut, “Masuk ke kelompok Prabowo melalui bapaknya (SBY), jika gagal maka diayunkan pada kelompok petahana (jokowi),” ucapnya.
Meski demikian, Ray menilai positioning Demokrat dengan calon AHY cukup strategis. SBY, kata dia, sudah tepat menampatkan AHY sebagai figur di Demokrat yang belakangan belum mampu memunculkan figur lain selain SBY sendiri.
Peluang AHY untuk mendapatkan dukungan pada Pilpres 2019 sangat terbuka. Kata Ray, AHY berpeluang mendapatkan dukungan dari kelompok yang tidak pro kebijakan Jokowi dan tidak pro Prabowo. Sebab, tampaknya, Jokowi akan kembali head to head dengan Prabowo Subianto laiknya Pilpres 2014 silam.
Ray berpendapat positioning partai Demokrat dengan calon figur AHY yang saat ini sedang dipersiapkan oleh SBY cukup strategis. Jika melihat kemungkinan Jokowi akan kembali head to head dengan prabowo pada Pilpres 2019 terbuka. AHY akan berpeluang untuk mendapatkan dukungan dari kelompok yang tidak pro dengan kebijakan Jokowi, dan tidak pro terhadap Prabowo. (uck)
Editor: Eriec Dieda

Komentar