KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA - Chromatic Typewriter/Foto: Dok. Rachel Marsden's Words

NUSANTARANEWS.CO – TIDAK ada yang boleh bersembunyi di J, bahkan mereka yang dihilangkan sekalipun. Ini sudah jadi aturan main, atau main aturan. Tidak bisa tidak. Sekalipun kau itu seekor hantu yang mati tersedak oleh ulat bulu, yang membuatmu penasaran setelah menonton acara jejak seorang petualang. Yang dengan rasa percaya diri level pentolan grup musik kawakan, dengan nama menterengnya dan kenyataan bahwa anakmu banyak, dari pernikahan yang gagal, dan ditambah istri barumu ternyata juga pandai beranak, kau lantas menjatahkan diri pada panggung politik. Tetapi bodohnya, kau saja belum bisa membedakan, mana ulat bulu, mana ulat sagu, habislah tenggorokanmu gatal-gatal!

Sebab cuma mayat mamalia dan beberapa jenis ikan, yang jika mati, siapapun dapat menelan tubuhnya dengan nyaman dan dengan berbagai macam variasi olahan yang terus berkembang. Bisa dibakar dengan olesan mentega, direbus dengan perasan jeruk nipis seperti waktu ibumu menanak nasi, atau dihidangkan mentah dengan ketan dan saus kecap atau wasabi. Diluar dari itu, mati sajalah. Dan sayangnya, di Kota J cara matimu pun sudah ada yang atur, jadi seharusnya kau tidak perlu punya banyak pikiran.

Ada mereka yang disebut Para Pengetik yang sebetulnya tidak pernah disebutkan siapapun, siapa mereka, dari mana asalnya dan, bagaimana jika kau ingin melamar pekerjaan seperti mereka? Untuk pertanyaan yang satu itu, tolong jangan sampai kepikiran, eh maaf, belum sempat aku sebutkan. Sebab aku bingung apakah aku harus memberitahumu di awal surat ini, atau mesti kuselipkan asteris yang bahkan seekor semut dari daratan tiongkok sekalipun harus meminta bantuan kepada semut dari daratan lain untuk membacanya — jika kau seekor semut sekarang, tentu kau mengerti —  dan pastinya kau benar-benar tengah tersesat sebab, telah berhasil membaca pesan ini, yang semestinya tidak dapat dilihat oleh siapapun! Bahkan Para Pengetik sekalipun!

Untuk prestasi yang sudah kau raih, lain waktu bakal aku adakan pesta penyambutan yang meriah, barangkali sekarang ini ucapan selamat dulu. Bahwa sebagai makhluk hidup sejati, kau telah berani keluar dari gerbang soliter menuju surga revolusi yang paling nisbi. Meskipun kau belum sepenuhnya sadar. Tetapi sampai di titik ini, usahamu bolehlah. Maka dari itu gunanya aku menulis pesan ini panjang lebar, sekedar jadi bahan bacaan waktu kau sedang dikejar-kejar oleh tangan-tangan tak kasat. Tangan-tangan Para Pengetik itu!

Mereka bekerja seperti toko optik penjual kacamata yang menawarkan paket periksa dengan percuma. Kau masuk dengan sehat tanpa merasa suatu apa, dan keluar dengan secarik bon dalam tas cantik dan kacamata keluaran terbaru, yang mustajab menambah min di matamu. Begitulah mengapa toko optik selalu mampu bertahan meski guncangan reformasi sekalipun. Dan barangkali, mereka benar-benar ingin agar kau menikmati rabun.

Jika kau belum paham, marilah kutunjukan bagaimana semua bekerja di Kota J. Tapi selalu awasi sekitar! Barangkali sekarang dilehermu telah ada bekas ketikan, atau dipunggung, atau diujung hidungmu samar-samar. Sebab akan sulit bagimu mengawasi bagian tubuh sendiri, bahkan rupa dubur sendiri pun kau mungkin tak kenal, jika saja kau tak iseng berkaca setelah mandi atau minta tolong pada temanmu untuk menceritakannya dengan detail. Sukur-sukur temanmu itu pintar menggambar. Dan dapat diandalkan, tentunya.

Karena hampir semua yang lahir dan yang hadir, yang terbangun atau yang runtuh di Kota J, adalah hasil kerja dari Para Pengetik. Aku tebak usiamu saat ini mungkin kepala tiga, atau lebih muda, barangkali dua puluh lima, sekurang-kurangnya angka dimana kau sudah bisa disusupi software ejakulasi dan mimpi basah jika kau seorang laki-laki. Jika kau perempuan, sayangnya aku tak punya cukup banyak informasi tentang itu, mereka lebih sulit dimengerti daripada Para Pengetik, kau cari sajalah sendiri.

Atau jika kau belum tahu perbedaan antara keduanya, mulai sekarang carilah teman, ingat, yang pintar menggambar. Dengan tambahan ia bisa diandalkan. Dan kali ini yang bisa dipercaya, sebab, jangan main-main dengan kemaluanmu! Karena diluar sini, para pengetik agak malas untuk bergerak, terhambat lebih tepat. Mereka tak bisa lagi menakar seberapa sering kau bernafas, seberapa cepat kau berkedip, atau setelah pulang bekerja kau mesti bertemu wanita dan harus bercinta dengannya didepan seoarang tunawisma, hanya agar tunawisma itu mengalihkan rasa lapar untuk hasrat yang lain. Onani mungkin. Pokoknya yang lain.

Dan inti yang lebih penting, semua detail gerak badanmu itu berada ditangan Para Pengetik! Jangan bayangkan betapa riuhnya suara dalam ruangan yang dihuni oleh Para Pengetik.

Tek..tek..tek..tek..tek.. ctak!.. Tek..tek..tek..tek..tek.. ctak!.. Tek..tek..tek..tek..tek.. ctak!.. Tek..tek..tek..tek..tek.. ctak!.. Tek..tek..tek..tek..tek.. ctak!.. Tek..tek..tek..tek..tek.. ctak!.. Tek..tek..tek..tek..tek..    ctak!..   Tek..tek..tek..tek..tek..    ctak!..    Tek..tek..tek..tek..tek..    ctak!..

Seperti itulah gambarannya, kurang lebihnya sama, yang lebih detail lagi seperti ini; jika kau ingat, jika Kota J dilihat dari citra satelit, hampir mirip seperti papan ketik atau kibor di – kantormu. Blok-blok gedung berdiri dengan presisi yang sama tinggi dan , jalan-jalannya hampir tidak tercurah oleh sinar matahari. Jika kota mendadak mati lampu — atau sengaja dimatikan — mungkin kau bisa tersesat dalam pikiran, apakah ini siang yang seperti malam atau, malam yang seperti siang? Dan dengan semua hal yang terjadi di Kota J berdasar pada ketikan Para Pengetik, bagaimana kau bisa luput dari kehendak mereka?

Ah, pertanyaan yang bagus! Kurasa kau mungkin sudah sedikit paham dengan aturan main di Kota J, dan mulai berpikir bagaimana seseorang dapat lolos dari ketikan Para Pengetik. Ibaratnya begini, jika kau suka menulis, tunggu, mungkin kau tidak terlalu suka, sebab kau mulai paham apa yang selama ini kau kerjakan sepenuhnya bukan berdasar pada hasratmu sendiri. Tetapi bisa jadi ini mirip-mirip, ya seperti itulah. Semisal kau adalah huruf-huruf atau kalimat-kalimat yang lahir dalam layar monitor. Tugasmu adalah bergotong-royong dengan huruf-huruf lain untuk bahu-membahu membentuk kalimat dan membuatnya jadi lebih sedikit bermakna dan, kau bahkan tak paham mengapa kau bisa tiba-tiba berada disuatu tempat yang asing dengan orang lain yang sependapat denganmu, tapi kau tetap merasa asing. Itu pun jika kau memang huruf yang diinginkan oleh si pengetik, jika tidak, kau tahu sendirilah.

Artinya bahwa kau bisa kapan saja dihapus dengan mudah, semudah kau dihadirkan. Seperti itu. Dan dengan sistem seperti itu, kau boleh menyamakan bahwa orang-orang yang tinggal di Kota J, daur hidupnya hampir mirip dengan seikat koran. Kau bahkan tak punya keinginan untuk tahu kemana perginya koran-koran yang tak laku hari ini, paling mentok, kau akan menjumpai mereka sebagai pembungkus cabai dikemudian hari, atau sebagai pembungkus mayat korban tabrak lari.

Suatu hari pernah ada kejadian yang mengejutkan. Salah satu gedung di Kota J terbakar tiba-tiba. Padahal tak ada yang mengetik akan terjadi kebakaran dan, para pengetik pun tak luput dirundung kepanikan. Ratusan orang yang tidak terbiasa menggunakan kehendak sendiri pun hanya bisa terpojok dan berteriak-teriak kesetanan menyebut, “Para Pengetik!… tolong kami, Para Pengetik!” tapi tebalnya asap justru membuat gamang Para Pengetik. Apakah mereka harus memadamkan api lebih dulu, atau menggiring orang-orang supaya keluar gedung lebih dulu? Tak – ayal terjadi perdebatan diantara Para Pengetik sendiri.

“Padamkan dulu apinya, baru bawa mereka keluar!,” 

“Gila! Dimana-mana halau dulu mereka keluar supaya cari jalan!,”

“Tolol! Apinya kadung besar, bisa mati payah mereka sebelum bisa keluar!,” 

Salah seorang pengetik tiba-tiba bertindak diluar SOP

“Waduh.. kenapa mereka jadi berhamburan ke jendela? Ulah siapa ini?,”

“Sialan! Mereka semua loncat dari gedung!,”

Dan begitulah. Ratusan orang itu mati sia-sia tanpa rencana dari Para Pengetik. Beberapa diantaranya jadi arwah penasaran yang sebetulnya tidak terlalu penasaran. Sebab, mereka sekarang bisa bebas berkeluyuran kemana pun yang mereka suka. Kadang-kadang mereka juga menghasut orang-orang untuk bunuh diri saja agar lepas dari jerat kekang. Posisi Para Pengetik pun jadi kian terancam setelah mendadak angka bunuh diri di Kota J kian melonjak setiap bulannya.

Maka dari itu, peraturan dibuat makin ketat. Tidak hanya bagi para warganya, tapi juga para arwah-arwah gentayangan. Mereka mulai ditempatkan dibeberapa lokasi yang memang ditinggalkan. Di bekas gedung kebakaran, rumah kosong, lorong-lorong jembatan, bahkan karena saking banyaknya arwah, dan minimnya ruang bagi mereka, akhirnya waktu bagi mereka untuk keluar pun diberi jatah hanya pada waktu malam. Di jam-jam tertentu.

Waktu orang-orang segera diketik untuk tidur lebih cepat. Tapi para arwah tidak kehabisan cara agar dapat menghasut orang-orang. Menyelinaplah para arwah kedalam mimpi-mimpi mereka. Membuat tugas Para Pengetik jadi makin bertambah banyak, beberapa diantaranya bahkan tak tidur sepanjang hari. Seminggu kemudian mereka pada jatuh sakit. Sistem terbengkalai, dan Kota J kian terhambat.

Pada saat itulah, pihak otoritas mulai menjalin hubungan dengan para arwah penasaran. Mereka diberi janji, akan diberi tempat yang layak dan menarik yang kebetulan sedang dalam tahap pembangunan, khusus untuk mereka saja. Tetapi dasar arwah penasaran, mereka justru tak sabar setelah merasa punya kehendak sendiri. Berduyun-duyunlah mereka menuju suatu tempat yang dijanjikan itu. Saking banyaknya arwah yang berebutan menuju kesana, hingga pihak otoritas pun membatasi, cuma satu arwah untuk satu tempat.

Tapi, kau tahu sendirilah bagaimana liciknya pihak otoritas. Para arwah yang kadung girang itu tak sadar, bahwa sesungguhnya tempat yang dibuat untuk mereka itu ternyata lebih liar daripada yang mereka kira. Di tempat yang baru itu, lebih dulu mereka dibuat jadi kerdil dan dungu. Yang tak mampu bertahan bakal langsung mati (lagi), setelah itu mereka bahkan tak tahu harus kemana lagi. Tapi beruntungnya bagimu adalah, kau menemukan pesan yang kutulis ini.

Nah, seperti kataku tadi, satu-satunya jalan keselamatanmu adalah menemukan tanda asteris dalam pesan ini. Sengaja kutulis kecil sekali supaya tak ada yang bisa membacanya. Kau – boleh membawanya kemanapun sambil berlari dari kejaran, sukur-sukur ditengah perjalanan bisa kau temukan tanda itu, lebih beruntung lagi, sebelum aku yang menemukanmu.

 

Bagas Nik Harsulung
Bagas Nik Harsulung

*Bagas Nik Harsulung, lahir di Jakarta 12 Mei 1994, mahasiswa komunikasi di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Bergiat dibeberapa komunitas literasi dan saat ini berdomisili di Depok – Jawa Barat. Sedang menyiapkan buku antologi puisi pertama.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar