Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa/Nusantaranews
Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Gelaran Asian Games 2018 telah menunjuk Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin atau yang akrab disapa Sjafrie sebagai Wakil Ketua Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC). Pria kelahiran Makassar 30 Oktober 1952 ini merupakan Wakil Menteri Pertahanan Indonesia tahun 2010.

Dirinya juga dipercaya menduduki posisi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia sejak tahun 2005. Ketika ia ditunjuk sebagai Sekjen, ia diminta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono untuk mengubah citra Dephan (kini berubah menjadi Kemhan) sebagai departemen yang dikenal tak efisien dalam menggunakan anggarannya.

Ketika menjabat sebagai Sekjen Kementerian Pertahanan, Sjafrie mencoba melakukan pembenahan dari dalam, terutama dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Selama ini, sistem yang ada membuat begitu banyak pihak dan kepentingan-kepentingan bebas bermain di dalamnya, termasuk berbagai pihak yang ikut menikmati keuntungan dari pengadaan alutsista bagi Tentara Nasional Indonesia itu.

Tentu saja para pemain tersebut tidak hanya berasal dari kalangan intern Dephan atau TNI, tetapi juga melibatkan pihak luar, termasuk kalangan swasta, baik itu yang benar-benar swasta maupun yang tergolong “setengah” swasta. Oleh karena itu, langkah pertama yang ia lakukan adalah membentuk sebuah tim di dalam departemen di mana keputusan pengadaan alutsista dibahas oleh Dealing Center Management.

Pada Maret 2011, dua surat kabar di Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, melaporkan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan Presiden SBY berdasarkan bocoran eksklusif dari Wikileaks. Kedua harian Australia tersebut melansir berita mengenai masuknya Sjafrie dalam “daftar hitam” pemberian Visa oleh Amerika Serikat karena dugaan keterlibatannya dalam kejahatan perang di Timor Leste yang terjadi pada tahun 1991 dan 1999.

Namun Kedutaan Besar AS masih mendesak agar dia diizinkan masuk karena sebagai penasihat utama Presiden Indonesia, perjalanan Sjafrie ke Amerika Serikat akan memperkuat hubungan AS-Indonesia. Menurut data dari Wikileaks tersebut, pria kelahiran 30 Oktober 1952 ini dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan massal di Santa Cruz yang merenggut nyawa lebih dari 250 demonstran pro-kemerdekaan pada 12 November 1991. Ia juga dianggap bertanggung jawab atas merebaknya kekerasan oleh tentara Indonesia di Dili setelah referendum kemerdekaan pada 30 Agustus 1999.

Kedua harian tersebut menulis Sjafrie telah mengeluarkan pernyataan pada Kedubes AS untuk membantah tuduhan tersebut. Ia juga mengklaim bahwa dirinya telah dinyatakan bersih oleh Komnas HAM Indonesia terkait tuduhan keterlibatannya dalam kasus kekerasan di Dilli pada September 1999.

Karir Militer

Sjafrie menyelesaikan Akabri Bagian Darat tahun 1974. Karir militernya diawali di Komando Pasukan Khusus tahun 1975 sebagai Komandan Peleton, Komandan Kompi, Komandan Batalyon, Wakil Asisten Operasi Komando Pasukan Khusus. Komandan Group-A Paspampres, Komandan Korem 061/SK Bogor, Kepala Staf Garnizun-1 Jakarta, Kasdam Jaya, Pangdam Jaya, Asisten Teritorial Kasum ABRI, Koordinator Staf Ahli Panglima TNI, Kepala Pusat Penerangan TNI, Sekjen Dephan, dan Wakil Menteri Pertahanan pada tahun 2010 – 2014. Menyandang pangkat aktif militer sebagai Letnan Jenderal sampai tahun 2011.

Bertugas sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam kegiatan Kerjasama Internasional di bidang pertahanan sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2014, Wakil Ketua Dewan Pembina pada Pusat Pengkajian Strategi Nasional (PPSN).

Pendidikan

Mengikuti berbagai pendidikan pengembangan umum, seperti Infantry Officer Advance Course, Seskoad dan Lemhannas. Juga telah menyelesaikan berbagai kursus spesialisasi militer antara lain; Para Komando, Intelijen, Jump Master, Airborne & Path Finder, Free Fall, dan Terrorism in Low Intensity Conflict.

Dirinya juga berhasil menyelesaikan pendidikan Master di bidang Bisnis, Business School in National University of Singapore tahun 2015, NATO Crisis Management Course, NATO Defence Leadership in Building Integrity Course, serta Resource Management Education Programme (RMEP) Course di NATO SCHOOL, Jerman 2015. Tak hanya itu, Sjafrie juga menuntaskan pendidikan National Development Course, National Defense University, Taiwan, 2016 dan NATO – European Security Cooperation, NATO SCHOOL, Jerman 2017.

Bintang Jasa dan Tanda Kehormatan

Dianugerahi, 22 Bintang Jasa dan Tanda Kehormatan, termasuk Bintang Dharma dan Bintang Mahaputera Utama. Pada tahun 2014, sebagai Pejabat Tinggi Indonesia Pertama yang menerima anugerah Medali Penghargaan dari The Chinese People’s Association for Friendship with Foreign Countries (CPAFFC).

Editor: Romandhon

Komentar