Ilustrasi Penggunaan Thorium/Foto ilustrasi via Si Nergi
Ilustrasi Penggunaan Thorium/Foto ilustrasi via Si Nergi

Oleh: Ahmad Syafi’I

NUSANTARANEWS.CO – Akhir-akhir ini,  pembahasan mengenai penggunaan thorium sebagai sumber daya energi alternatif mulai menghangat menjadi pembicaraan masyarakat. Banyak media yang memberitakan tentang perkembangan mutakhir sumber energi alternatif ini. Bahkan kementrian perindustrian mewacanakan akan mengembangkan energi alternatif pembangkit listrik tenaga Nuklir (PLTN) non uranium (Thorium) untuk digunakan dalam penyediaan energi untuk perindustrian di indonesia.

Hal ini sangat tepat mengingat saat ini perkembangan kebutuhan energi nasional semakin meningkat. Bahkan indonesia menjadi negara yang memiliki kebutuhan energi tertinggi di ASEAN. Indonesia menjadi negara terbesar dalam kebutuhan energi di Asia Tenggara mencapai 44% dari total kebutuhan energi di kawasan tersebut disusul Malaysia sebesar 23% dan Thailand 20%.

Lalu sebenarnya apa itu thorium? Lalu bagaimana prospek kedepan?

Thorium (Th) atau biasa disebut nuklir hijau adalah salah satu unsur atom dengan no atom 90 yang memiliki sifat radioaktif sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar raktor nuklir. Thorium menjadi idola baru karena jumla thorium yang lebih banyak dibanding uranium (sekitar 3-4 kali lebih banyak).  Karena thorium bukan inti fisile maka untuk menggunakan thorium ini memang menggunakan uranium namun hanya sebagai pemicu reaksi karena setelah itu thorium dapat membelah dan menghasilkan uranium 233 atau dengan dilakukan penembakan neutron sehingga thorium daat membelah. [1]

Dalam proses membangun PLTN  ini, harikhisnan salahsatu expert International Atomic Energy Agency (IAEA) dalam pertemuan koordinasi dengan 11 negara menjelaskan bahwa ada 3 poin utama yang harus memiliki perhatian khusus yaitu keamanan (security), keselamatan (safety) dan manajemen bahan nuklir (safeguards).

Berangkat dari 3 point tersebut thorium menjadi daya tarik yang sangat tepat dalam pengembangan sumber energi alternatif kedepan. Thorium dengan struktur atomnya yang lunak menjadikan 90% bahan bakar thorium dapat bereaksi menghasilkan listrik. Disamping itu reaksi yang ditimbulkan dari penggunaan thorium sebagai energi terbarukan tidak menghasilkan plutonium, sehingga dapat dipastikan tidak akan digunakan /disalahgunakan sebagai persenjataan nuklir. Dilihat dari sisi ketersediaan sumber daya, Potensi thorium di berbagai belahan dunia diperkirakan mencapai 3 – 4 kali lebih banyak dibandingkan dengan uranium. Di Indonesia sendiri, potensi kandungan thorium diperkirakan mencapai 210.000 – 270.000 ton, yang tersimpan di Bangka, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat.

Badan tenaga nuklir nasional (BATAN) menjelaskan butuh 3 M pertahun untuk pemetaan potensi thorium. Penelitian thorium hingga siap digunakan diproyeksikan menelan dana hingga US$ 299 juta. BATAN saat ini sedang mempersiapkan pembangunan reaktor daya eksperimental (RDE) berkapasitas 10 megawatt thermal, di Puspiptek, Serpong. RDE sendiri akan diujicoba dengan uranium dulu baru nantinya dengan thorium.

Ahmad Syafi'ie
Ahmad Syafi’ie

Namun demikian, seperti halnya teknologi yang lain, pemanfaatan thorium menjadi energi yang benar-benar siap digunakan membutuhkan waktu yang lama. Banyak negara yang sudah melakukan penelitian ini, misalnya negara yang paling getol adalah india karena sumber daya yang sangat melimpah. Namun demikian belum ada negara yang secara penuh mengaplikasikan secara komersil. Mari kita tunggu pemanfaatan energi thorium yang ramah lingkungan ini di indonesia.[]

[1] Untuk mengetahui siklus penggunaan thorium sebagai bahan bakar nuklir dapat dibaca melalui IAEA (Throrium Fuel Cycle – potentiel and chalanges)

*Ahmad Syafi’I, Kader PMII Rayon Wisma Tradisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar

SHARE